Sampah, Pekerjaan Besar Pariwisata yang Diabaikan

0
307
Surving dipenuhi sampah (Foto: blog.misteraladin.com)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Gencarnya promosi tempat wisata kadang tak diiringi kesadaran pengunjung untuk menjaganya, bahkan stakeholder pariwisata menyepelekan, mengabaikan. Tak ada yang peduli terhadap sampah di tempat – tempat wisata.

Terlebih di era media sosial, ketika semua orang jadi pewarta dan deadline update status lebih penting dari makan tepat waktu, posting foto di tempat menarik jadi demikian menggoda.

Akibatnya, selfie makan korban objeknya sendiri. Kebun bunga rusak diinjak-injak, kebun bawang rebah, dan patung Raja Portugal yang berasal dari abad ke-16 hancur tersenggol pemuda yang sedang selfie.

Tak terhitung coret-coret, bahkan mengukir nama atau inisial, di lokasi wisata, termasuk di batu candi! Sampai-sampai pemerintah Kota Roma menerapkan denda US$20 ribu atau setara Rp280 juta jika kedapatan ada yang mengukir dinding di tempat bersejarah. Kita menunggu aturan yang sama ketatnya diterapkan di Indonesia.

Soal sampah juga tak bisa dibilang remeh. Melemparkan sampah hanya ke tempat sampah belum juga jadi budaya. Sampah seperti sah-sah saja diletakkan di pojokan, bersama tumpukan sampah yang terlebih dulu tercipta. Apalagi mengantongi dulu bungkus makanan sebelum menemukan tempat sampah. Langka.

Semakin terasa parahnya urusan sampah ini ketika kita berwisata ke pantai. Di situ akan dijumpai kemasan minuman, kantong plastik, puntung rokok, sampai kasur yang mendarat setelah berhari-hari, atau berbulan-bulan, terapung-apung di laut.

Pantai Kuta sejak 2012 dipenuhi sampah pada waktu-waktu tertentu. Sampah itu adalah kiriman dari laut dan muara sungai terdekat akibat fenomena angin musim barat yang bertiup dari wilayah barat ke timur.

Tumpukan sampah juga dialami Pantai Lovina di Buleleng, Bali. Tempat ini dikenal dengan atraksi lumba-lumba di laut.

Sampah yang dihasilkan penduduk, pengelola wisata, hingga wisatawan di Bali kini sudah mencapai 5.000 hingga 10.000 ton per hari dengan nilai lebih dari Rp4 trilyun per tahun.

Pun Pulau Tidung di Kepulauan Seribu yang sepuluh tahun lalu jadi booming, kini menyisakan lautan sampah, walau keluhan tersebut sudah dirasakan saat traveler muda berbondong-bondong menyerbu Tidung. Pejabat setempat menyebut incinerator (metode penghancuran limbah organik melalui sistem pembakaran) di sana sudah lama tak berfungsi.

Kepulauan Seribu secara keseluruhan mengumpulkan sampah hingga 25 ton per hari, dan langsung diangkut ke darat. Kebanyakan sampah rumah tangga dan merupakan kiriman dari daratan Jakarta saat musim hujan.

Tak berhenti di situ. Sampah yang dijumpai di pantai, setinggi apapun sampah yang menumpuk di Kuta, ternyata hanya lima persen dari seluruh sampah plastik yang ada di laut. Sedangkan 95 persennya tetap berada di laut.

Masih ingat berita paus terdampar dengan perut penuh sampah plastik? Bukan sekali saja kejadian tersebut, melainkan sudah berulang kali terjadi.

Setidaknya kejadian ini dijumpai di Tershelling Belanda, di Pantai Selatan Spanyol, di Kepulauan Lavezzi di Laut Tyrrhenian, di Islandia, di Point Reyes California, di Puerto Rico, di Kepulauan Cook Rarotonga, hingga di Taiwan mamalia laut itu mati dengan kondisi perut penuh plastik. Demikian laporan seperti dikutip CNNIndonesia.com, Ahad (22/05/2016)

Umumnya paus sperma karena mereka makan dengan menghisap air, sehingga rentan mengonsumsi sampah plastik yang ikut dalam makanan. Cumi-cumi dan kura-kura laut juga rentan menelan tas plastik yang bentuknya di dalam laut menyerupai jelly fish.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, diperkirakan menjelang tahun 2025, dari tiap tiga ton ikan akan ada satu ton sampah plastik di laut. Ekosistem laut jadi rusak, keindahan alam lenyap, wisata bahari bakal tinggal cerita. (*/CO)

LEAVE A REPLY