Sampah Kembali Menguncang, Turis Pantai Kuta Hengkang

1
5178

KUTA, test.test.bisniswisata.co.id: Menjelang peak season liburan akhir tahun, kondisi pantai Kuta Bali berubah total. Perubahan ini terjadi, akibat objek wisata andalan Pulau Dewata sejak awal 70-an dikepung sampah. Memang, sampah ini bukan pertama kali menguncang. Kondisi ini jelas membuat aktivitas wisatawan di sepanjang pantai terganggu, malah banyak yang hengkang.

Pantai Kuta yang biasanya bersih, dengan deburan ombak yang menggelitik ditambah pemandangan wisatawan asing berjemur bebas di atas butiran pasir, ternyata dalam tiga empat hari belakangan ini dipenuhi sampah. Aneka jenis sampah nampak menghiasi sepanjang pantai, sehingga menganggu pemandangan.

Sampah kiriman yang terdampar di pinggir Pantai Kuta ini, terdiri beraneka jenis sampah mulai batangan kayu berukuran kecil hingga sedang, buah kelapa sudah tua, botol minuman bekas, kaleng minuman, bungkus kertas rokok, bangkai ikan lemuru, hingga aneka jenis sampah plastik.

Kondisi ini berdampak pada aktivitas wisatawan di sepanjang pantai. Sebagian besar wisatawan enggan berenang di pantai dan lebih memilih hanya duduk di tepi pantai. Ada yang mengurungkan niatnya untuk berjemur di tepi pantai. Mereka enggan bersentuhan langsung dengan pasir pantai yang kotor.

Bahkan, sejumlah pelancong yang biasanya bermain selancar dan berjemur di Pantai Kuta tidak terlihat sepanjang hari

Wisatawan asing yang datang ke Pantai Kuta juga mengaku kecewa dengan kondisi pantai yang kotor. Mereka mengaku tidak pernah mendapat informasi tentang kondisi pantai yang kotor.

“Saya dengan pantai Kuta itu sangat indah, sampai di sini saya kecewa lihat pantai yang sangat kotor dan menjijikkan,” kata Katie Piarson, seorang turis wanita asal Kanada, saat ditemui di pantai Kuta.

Seorang wisman asal Norwegia, Romeyn mengaku dia kurang puas menikmati Pantai Kuta dipagi hari, terlebih disore hari. Alih-alih berjemur, Romeyn hanya berjalan-jalan di pinggir pantai.

Romeyn mengaku dapat rekomendasi wisata Kuta dari situs Lonely Planet. Dari 25 top lokasi untuk berwisata di Bali, Pantai Kuta selalu berada di posisi teratas di berbagai situs perjalanan wisata.

“Namun, sesampainya di sini, saya mendapatkan pengalaman berbeda. Semua yang kulihat ada sampah. Banyak sampah di pasir, di air, entah itu kantong plastik, kaleng, kertas, botol. Sampai-sampai sampah itu menempel di kakiku. Pantai ini kotor,” katanya di Kuta, Senin (15/12).

Dia mengaku jijik ketika terpaksa berjemur di pasir Kuta. “Sampah di Kuta berkaitan dengan bencana sanitasi di wilayah sekitarnya. Jika kondisi yang sama terus bertahan, saya yakin tak ada turis yang mau datang ke Kuta,” lontarnya.

Jero Bendesa Adat Kuta Wayan Swarsa mengaku terkejut jika dapat informasi dari lapangan pantai penuh bangkai ikan. Mendengar itu, pihaknya bersama-sama dengan sejumlah prajuru Desa Adat Kuta dan anggota Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) melakukan pemeriksaan langsung ke tengah laut.

Dari hasil pemeriksaan, ditemukan sejumlah nelayan yang beraktivitas tidak jauh dari bibir pantai dengan memasang jaring penangkap ikan lemuru. “Jaring itu kedapatan stand by di tengah laut. Ketika ikan lemuru terkena jaring dan mati, adanya deburan ombak yang keras bisa saja membuat bangkai ikan itu lepas dari jaring dan terdampar ke pesisir,” terangnya,

Saat kejadian itu seluruh pedagang di pantai dikerahkan cepat untuk memunguti bangkai ikan dan langsung dikubur. Selain itu, dirinya juga berharap agar hal tersebut segera ditindaklanjuti oleh pemerintah melalui penertiban di tengah laut dengan cara patroli berkala atau yang lainnya.

“Belum lama ini saya sudah menghubungi Bendesa Adat Kedonganan guna menyikapi hal ini, karena dari hasil pemantauan di tengah laut, para nelayan yang bukan orang asli Bali ini mengaku mangkalnya di Kedonganan. Saya sampaikan ke Jero Bendesa Kedonganan agar melakukan edukasi dan bekerjasama guna mengantisipasi terulangnya kejadian serupa ini, karena sangat merugikan adanya,” aku Swarsa.

Berdasarkan pantauan, Dinas Kebersihan dan Pertamanan aktif mengoperasikan mobil loader yang memunguti sampah secara otomatis di pagi hari. Namun, sampah tetap saja datang kembali ke bibir-bibir pantai siang menjelang sore harinya. Sampah tersebut kebanyakan berasal dari sungai-sungai atau tukad di sekitar yang menghempaskan sampah ke Pantai Kuta.

Menurut pengelola pantai, sampah kiriman di Pantai Kuta merupakan fenomena alam tahunan sebagai dampak dari angin musim barat. Sampah kiriman yang terdampar di pantai Kuta ini berasal dari beberapa wilayah di Bali bagian barat hingga beberapa wilayah di Jawa Timur.

Kepala BMKG III Denpasar, I Wayan Suardhana, menyatakan, hujan deras di wilayah Bali menyebabkan angin musim barat. Akibat, angin bertiup kencang dan membuat banyak sampah dari sungai yang bermuara ke pantai mengarah ke Pantai Kuta.

Puncak aliran sampah ke Kuta diperkirakan terjadi pada Februari 2015 mendatang. Angin barat memiliki sifat basah, sehingga, membuat musim penghujan di Bali lebih cepat dan curah hujan cukup tinggi. (endy)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY