Saat Liburan Tertawalah, Holiday Blues pun Sirna

0
597
Hilang holiday blues

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Liburan natal dan tahun baru telah tiba. Sayangnya, belum tentu semua orang merasa gembira menyambut liburan panjang yang datang setiap tahun. Bahkan, tak semua orang menantikan kehadiran bulan Desember.

Musim liburan tidak membuat ceria, bisa terjadi karena banyak faktor. Misalnya, baru saja merasa kehilangan seseorang, merasa tidak memiliki keluarga, merasa kesepian, menghadapi perceraian atau problem yang sangat berat, hingga makan dan minum pun tidak sehat.

Kondisi ini bisa membuat seseorang depresi, suasana hati yang buruk, dan selalu berpikiran negatif pada musim liburan. Problem seperti ini, didunia medis lebih dikenal dengan istilah holiday blues.

Sebenarnya, apa saja faktor yang menyebabkan sesorang mengalami holiday blues?. Bagaimana cara mengatasi Holiday Blues? Berikut faktor penyebabnya yang harus dihindari agar tidak mengalami holiday blues.

Faktor pertama lantaran mengharapkan sesuatu yang tidak realistis. Memang, berharap mendapat liburan yang sempurna hanya akan menimbulkan rasa kecewa dan membuat seseorang depresi. Dokter Mark Sichel, seorang psikiater yang juga penulis Healing From Family Rifts mengatakan, banyak orang memiliki fantasi liburan menyenangkan seperti yang mereka lihat di televisi.

Selain itu, sering kali terjadi perselisihan keluarga pada waktu liburan. Menurut Sichel, konflik keluarga atau baru saja kehilangan orang yang dicintai dapat menambah kesedihan selama liburan. Sichel sendiri mengaku banyak menerima pasien yang berkonsultasi setelah liburan usai.

Untuk mengatasi itu semua, kuncinya adalah bersyukur. Syukuri hal-hal yang sudah berhasil didapatkan. Bersyukurlah ketika anggota keluarga masih dapat berkumpul meski tidak lengkap. Bersyukur bisa mendapat libur dari pekerjaan. “Memiliki rasa syukur mungkin menjadi penangkal terbaik terhadap depresi,” kata Sichel seperti dikutip dari
huffingtonpost.com, Rabu (24/12/2014).

Faktor kedua akibat terlalu banyak keinginan dan melakukan banyak hal. Misalnya, merencanakan ini dan itu agar liburan terasa sempurna bisa membuat depresi, cemas, stres, dan kurang tidur. Hal ini dapat membuat suasana hati semakin buruk selama liburan.

Menurut Sichel, hal itu juga dapat menimbulkan rasa takut jika tidak mendapatkan apa yang diinginkan dan membuat tekanan darah tinggi yang menjadi pemicu paling umum untuk Holiday Blues. “Banyak orang merasa mereka tidak bisa melakukan banyak hal dengan benar dan merasa anggota keluarga akan kecewa,” kata Sichel.

Faktor Ketiga karena membandingkan dengan kebahagiaan orang lain. Solusinya, ya jangan membandingkan Hari Natal atau liburan dengan orang-orang di sekitar kita. Jangan merasa keluarga kurang sempurna dan hilangkanlah trauma masa lalu. Hal itu hanya dapat membuat Anda tambah sedih.

Anda akan merasa selalu paling buruk dibanding orang lain. Padahal, mungking banyak orang-orang yang tidak lebih beruntung dari Anda.

Faktor Keempat dikarenakan malas menjaga kesehatan. Bagi banyak orang, Desember adalah bulan tersibuk sepanjang tahun. Rutinitas mengikuti kelas yoga, jalan pagi, konsumsi makanan sehat, meditasi, bisa menjadi terbengkalai karena kesibukan jelang liburan natal dan tahun baru.

Sichel pun mengingatkan agar orang-orang tetap menjaga pola makanan sehat selama liburan. “Jaga dirimu, jangan makan berlebihan dan minuman buruk yang berlebihan,” kata Sichel.

Sichel menyayangkan jika selama liburan minuman berakohol menjadi favorit. Ia menekankan pentingnya menghindari pesta minuman keras selama liburan panjang. Ia menegaskan, alkohol juga tidak akan mengurangi rasa sedih seseorang, melainkan hanya dapat memperburuk gejala kecemasan dan depresi.

Faktor Kelima akibat mengalami gejala Seasonal Affective Disorder. Jika Anda merasa sedih hanya pada musim tertentu, mungkin Anda mengalami Seasonal Affective Disorder (SAD).

Menurut Sichel, banyak orang yang berpikir bahwa mereka mengalami holiday blues, padahal menderita SAD. SAD adalah depresi yang hanya terjadi pada musim tertentu setiap tahunnya. Jika depresi berlangsung lama, konsultasilah ke psikolog ata psikiater.

Intinya, hindarilah depresi saat liburan yang hanya akan membuat jiwa dan raga Anda tidak sehat. Bersyukur, berpikiran positif, dan tertawa adalah kunci menghindari depresi. Ayo Liburan, Ayo Tetawa haa….. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY