Rumput Ungu, Keunikan Obyek Wisata Lembah Baliem

0
149
Rumput ungu di Lembah Balliem Papua (FotoLkabarpapua.co)

WAMENA, bisniswisata.co.id: Lembah dikelilingi hamparan rumput dan ilalang berwarna hijau, adalah hal yang wajar, biasa dan tak ada daya tariknya. Namun, tidak di Lembah Baliem, Wamena Papua. Lembah ini dikelilingi hamparan ilalang berwarna ungu. Lembah ini terletak di Kampung Parema Distrik Wesaput dan di Kampung Aikima Distrik Hubikosi. Hamparan warna ungu lainnya, ternyata juga ada di Distrik Napua dan Distrik Walesi.

Keajaiban alam ini hanya terjadi satu kali dalam satu tahun, yakni pada bulan Mei. Informasi yang dihimpun Kabarpapua.co, adalah tanaman sejenis rumput atau ilalang yang biasa disebut oleh masyarakat setempat dengan nama Lagalaga Eka atau Owasi-Wasika yang membuat keajaiban warna ungu. Keindahan alam ini diyakini masyarakat setempat mulai terjadi sekitar 1970 hingga 1980-an.

Walau belum jelas nama asli dari rumput ungu, banyak masyarakat Wamena yang tinggal di daerah Lembah Baliem, baik anak-anak atau orang dewasa mencoba memberikan nama pada rumput itu. Misalnya, Wasiwasika berdasarkan kesamaan. Sama seperti buah keladi, nama aslinya hom, begitu juga pohon impor yang mirip dengan pohon asli wiki, kebanyakan warga Wamena menyebutnya Wikiwiki.

Masyarakat Wamena pun memiliki kebiasaan menamai sebuah benda yang baru dan menarik. Misalnya, dahulu kala masyarakat menyebut pesawat dengan anelu yang artinya suara atau wu. Wu yang juga berarti bunyi suara pesawat.

Pesona warna ungu dari rumput itupun lokasinya tak jauh dari Kota Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya. Jarak tempuhnya hanya berkisar 5-20 menit yang bisa dijangkau dengan kendaraan dua ataupun kendaraan roda empat, bahkan lokasi ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Rumput Mei, kadang masyarakat juga menyebut nama rumput itu. Rumput dengan dominan warna ungu ini hanya terjadi pada tanggal 5-14 Mei setiap tahunnya. Namun, di atas tanggal 20 Mei, rumput itu mulai berubah warnanya.

Tokoh Misionaris Katolik asal Belanda, Pater Lishout menuturkan Rumput Mei dulunya tak ada. Sama seperti tumbuhan putri malu, juga tak pernah ditemukan di Lembah Baliem. “Tapi lihat sekarang, banyak tumbuhan putri malu tumbuh di ujung landasan Bandara Wamena hingga menuju ke Kampung Minimo,” kata Pater Lishout seperti dilansir laman Kabarpapua.co, Senin (07/05/2018).

Ia menduga justru Rumput Mei muncul di tahun 1970-an. Jumlahnya sedikit, tak terlalu banyak seperti saat ini, menyebar di mana-mana. Dirinya yakin, Rumput Mei bukan tumbuhan endemik Lembah Baliem. Bahkan, penyebaran rumput ini tak ada kaitannya dengan kehadiran para misionaris.

“Kemungkinan bibit rumput dibawa oleh roda ban pesawat kecil bagian belakang. Misalnya, pesawat jenis Cesna yang banyak menyinggahi lapangan terbang kecil di pedalaman Papua. Kondisi lapangan terbang kan banyak yang masih rumput. Bahkan, rumput-rumput di landasan itu tinggi-tinggi,” ucapnya.

Fenomena rumput berwarna ungu yang hampir ramai diperbincangkan publik tiga tahun belakangan ini, tak lepas juga dari pengamatan Pater Lishout. Ia pun belum mengetahui nama resmi dari rumput ini. “Hanya karena rumput ini berubah warna di bulan Mei, maka banyak masyarakat yang menyebutnya Rumput Mei,” ucapnya.

Tokoh masyarakat Jayawijaya, Yusuf H. Molama menyebutkan Rumput Mei mulai tumbuh pada 1970-an. Ia berkisah, saat masih anak-anak dulu, rumput ini tak pernah dilihatnya. “Saya malah menduga bibit rumput dibawa langsung oleh missionaris Belanda yang datang ke Lembah Baliem,” ujarnya.

Menurutnya, setelah misionaris Belanda berada di Lembah Baliem, mulai mendirikan pos pemerintahan di Distrik Wesaput. Dari sanalah awal rumput itu tumbuh dan menyebar.

“Banyak kegunaan dari rumput ungu. Misalnya, rumput sering digunakan untuk alas kandang babi, penutup atau atap pagar. Lalu, saat rumput ini berwarna hijau kerap digunakan untuk alas makanan pada proses bakar batu,” kata Yusuf.

Lebih unik lagi, Rumput Mei dipercaya bisa menyembuhkan babi yang sedang sakit. Masyarakat biasa memotong rumput ungu dan dimasukkan ke kandang babi. Percaya atau tidak, si babi yang sakit, keesokan harinya mulai pulih.

Fenomena Rumput Mei diyakini menjadi destinasi wisata baru di Kota Wamena. Masyarakat Wamena bahkan berbondong-bondong untuk melakukan swafoto ataupun sekadar menyaksikan perubahan warna rumput ini yang hanya terjadi pada Bulan Mei.

Komunitas Agamuasegefotografi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya yang terus mengabadikan keajaiban rumput ungu. Komunitas yang sengaja dibentuk untuk mengabadikan momen keindahan alam, khususnya di Lembah Baliem dan umumnya di Bumi Cenderawasih.

Penasihat Komunitas Agamuasegefotografi, Silvester Korwa menuturkan komunitas yang berdiri pada 2015, justru anggotanya mulai serius menggeluti keindahan alam lewat seni fotografi pada 2016.

“Salah satu yang kami abadikan adalah fenomena rumput berwarna ungu. Pemotretan pertama rumput ungu, kami lakukan di Wesaput, karena di daerah itulah spot yang paling cocok untuk dijadikan tempat wisata,” jelasnya.

Hasil pemotretan rumput ungu, oleh Komunitas Agamuasegefotografi diunggah ke media sosial Facebook dengan memberi keterangan foto Rumput Mei. Alasannya, karena fenomena rumput ini terjadi pada Mei.

Sejak 2016 itulah masyarakat pencinta keindahan alam mulai mengabadikan momen itu. Sehingga pada 2017-2018, fenomena rumput ungu yang hanya terjadi pada bulan Mei sangat dinanti masyarakat Wamena. “Jika sudah berada di akhir April, banyak masyarakat yang memperbincangkan rumput ungu. Masyarakat tak sabar ingin menikmati keindahan warna rumputnya,” kata Silvester.

Kini, wisatawan yang melihat dari dekat keajaiban rumput ini bukan hanya dari Wamena, tapi juga banyak dari luar Wamena, misalnya dari Kota Jayapura dan sekitarnya dan daerah lainnya di Indonesia.

Komunitas Agamuasegefotografi berharap keajaiban alam ini menjadi potensi wisata, sehingga menambah penghasilan atau pemasukan untuk menopang perekonomian warga.

Lina Djuswara, peneliti Botani Pusat Penelitian Biologi LIPI Bogor telah mengamati cukup lama rumput ungu ini. Warna ungu yang dihasilkan erat kaitannya dengan musim berbunga yang biasa terjadi pada bulan April, Mei, dan Juni.

“Pada musim berbunga, temperatur hujan relatif rendah dan udaranya cenderung lebih hangat. Hal ini yang menyebabkan banyak tumbuhan berbunga. Rumput Mei hanya salah satu dari sekian banyak tumbuhan yang ada. Ini fenomena yang cukup umum terjadi pada tumbuhan,” jelasnya.

Menurutnya, Rumput Mei adalah jenis rumput-rumputan, sukunya Poase dan jika sudah mulai musim penghujan, maka temperatur suhu akan memanas dan langsung berbunga. “Belum ada penelitian khusus, mengapa hanya berbunga setahun dalam sekali. Jika berbunga, rumput ini berwarna merah atau ungu. Rumput ini banyak juga ditemukan di Mimika,” ujarnya.

Lina menambahkan, sejenis Rumput Mei banyak ditemukan di dataran tinggi. Jika rumput ini mulai kering, maka akan kembali ke warna aslinya, karena kemungkinan kekurangan air, sebab udara semakin panas, sehingga sulit untuk berbunga. (NDY)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.