Roy Marten: Pasar Film Indonesia Dikuasai Kapitalis

0
269

PALU, test.test.bisniswisata.co.id: Aktor senior Roy Marten prihatin industri perfilman Indonesia, khususnya bioskop masih dikuasai para kapitalis. Akibatnya, pasar perfilman Indonesia tidak bisa sehat.

“Bagaimana industri kita bisa sehat kalau tokonya (bioskop) dikuasai kapitalis?” kata Roy di Palu, dalam Dialog Perfilman Nasional yang diselenggarakan Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) di Sulawesi Tengah, Sabtu (3/9/2016).

Roy memetakan potret perfilman Indonesia dalam tiga kategori yakni produksi, pemasaran dan industri. “Indonesia kalah dari aspek pemasaran karena akses pasar masih dikuasai modal asing,” lontarnya seperti dilansir laman Antara

Saat ini, bioskop kian berkurang. Malah, dikuasai kelompok pemilik modal asing yang besar, lebih mengedepankan keuntungan belaka. Sehingga, film nasional yang masuk bioskop sekitar 20 persen. Dominan film di bioskop juga dikuasai produk asing. “Kalau film asing 200 sampai 400 sekali putar, film kita paling hanya sekitar 80,” katanya.

Kondisi ini mengakibatkan Undang-Undang 33/2009 tentang Perfilman tidak berdaya. Pasal 32 Undang-Undang 33/2009 menyebutkan pelaku usaha pertunjukan film wajib mempertunjukkan film Indonesia sekurang-kurangnya 60 persen dari seluruh jam pertunjukan film yang dimilikinya selama enam bulan berturut-turut.

Menurut Roy, industri film di Indonesia juga belum “bankable” (dibiayai perbankan) jika dibanding di negara luar, terutama negara produsen film Hollywood dan Bollywood.

“Satu-satunya industri yang tidak ‘bankable’ adalah industri film. Karenanya tidak heran jika bank belum melirik modal usaha untuk industri film,” ungkap ayah presenter Gading Martin. (*/A)

LEAVE A REPLY