Rizal Ramli: Danau Toba Jangan cuma Tawarkan Keindahan, Perlu Story Line

0
48
Selvie di Danau Toba dari Bukit Simarjarunjung (Foto: pariwisatasumut.net)

MEDAN, Bisniswisata.co.id: Ekonom senior DR. Rizal Ramli menilai potensi dan promosi wisata Danau Toba Sumetara Utara (Sumut) tidak cukup hanya menonjolkan dari sisi keindahannya saja, melainkan harus menampilkan sejarah terbentuknya di masa lalu. Dan cara seperti ini paling disukai wisatawan mancanegara.

“Jadi Danau Toba tidak bisa dijual hanya dengan mengatakan Danau Toba itu indah. Jadi, harus dijual dengan membuat story line. Ini seperti Monaco of Asia, puluhan kali lebih besar dari Monaco,” ungkap Rizal Ramli saat memberi kuliah umum pada Program Pasca Sarjana Universitas Medan Area (UMA), Sumut, seperti dilansir laman Rmol.co, Senin (13/11/2017).

Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman era Jokowi melanjutkan dengan mempromosikan latar belakang sejarah, sebuah objek wisata bakal lebih menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Sebab, selain menikmati keindahan pengunjung juga dapat menambah pengetahuan, tahu tentang sejarah masa lalu dan membuat pelancong asing terkagum-kagum.

Sebagaimana Danau Toba yang terbentuk akibat meletus yang meluluhlantakkan gunung purba di masa lalu, sekitar 73.000 tahun lalu. Ledakan dahsyat itu pula yang diyakini membagi bentuk daratan bumi menjadi beberapa benua. Bahkan ledakan yang sangat besar itu melebihi Gunung Krakatau dan Gunung Pompeii Italia. Dari ledakan itu, terjadi hujan abu besar-besaran yang menutup bumi.

“Tadinya terdiri dari benua-benua yang tersambung dengan es, karena dunia panas kemudian terpisah, jadilah benua-benua. Ini yang dinamakan global warming, ini pernah kejadian di Danau Toba, terjadi tranformasi Darwinnya,” jelas Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur

Kalau diceritakan ini dahsyat sekali, kalau orang asing dengar cerita ini dia buru-buru pesan tiket untuk lihat Danau Toba, dia datang ke sini ingin lihat ledakan terbesar di dunia, baru lihat keindahan, beli sovenir. “Jadi ada imajinasinya, jadi harus ada story line ada daya tariknya,” lontar Rizal Ramli.

Dilanjutkan, jika dikembangkan cerita yang dahsyat tentang Danau Toba itu, maka turis akan berbondong-bondong ke Danau Toba ingin melihat langsung seeing is believing. Karenanya jika Pemerintah Sumatera Utara serius mengembangkan Danau Toba dengan bantuan pemerintah pusat, juga mengharapkan kesejahteraan rakyat akan meningkat, salah satu cara dengan mempromosikan latar belakang sejarah.

Rizal Ramli mengatakan, pemerintah setiap tahun menggelontorkan dana besar untuk pariwisata. Anehnya hanya Bali dikenal, wisatawan asing banyak yang datang ke Pulau Dewata, sementara destinasi wisata lainnya jumlah wisatawannya tidak seramai Bali. “Untuk itulah, ketika saya masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Kemaritiman sempat melayangkan program 10 destinasi baru, termasuk Danau Toba” ungkapnya.

Danau Toba itu, sambung dia, cukup potensial menjadi tempat wisata baru. Namun untuk mengembangankan Danau Toba, harus diikuti dengan perubahan kultur masyarakat setempat. Pertama, kultur jorok harus diubah menjadi bersih. Kedua, kultur pasang wajah kencang, harus diubah menjadi senyum. Dan ketiga, kalau jual barang jangan menipu.

‚ÄúPariwisata itu juga alat untuk mengubah kultur. Dalam hal ini, wajah orang Batak yang kencang meski hatinya baik-baik harus membiasakan diri senyum, sehingga turis asing itu senang melihat keramahtamaan masyarakat kita. Ada tempat di Danau Toba bisa buat honey moon, serasa di Paris. Kalau kita masukkan itu, Danau Toba bisa jadi tujuan wisata kedua di dunia,” lontarnya.

Ditambahkan, untuk melakukan pengelolaan ulang anggaran pada 10 lokasi wisata baru diluar Bali, jumlahnya mencapai hampir Rp 50 triliun. Salah satunya untuk mengupayakan pembersihan kondisi Danau Toba yang sudah mulai tercemar akibat keberadaan kawasan industri di sekitarnya. (*/BBS)

LEAVE A REPLY