RI Genjot Kunjungan Wisman Lewat JATA Travel Expo 2016

0
252

Bursa wisata terbesar di Jepang, JATA Travel Expo 2016 pada 22-25 September 2016 ke 24 berlangsung  di Tokyo International Exhibition Center (Tokyo Big Sight), Tokyo. (Foto: travel.dream.co.id)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Indonesia ikut serta dalam bursa pariwisata tingkat dunia yang terbesar di Jepang, yakni JATA Travel Expo 2016 pada 22-25 September 2016 di Tokyo International Exhibition Center (Tokyo Big Sight), Tokyo, Jepang.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan keikutsertaan Indonesia dalam bursa pariwisata terbesar di Jepang itu menjadi salah satu strategi promosi pariwisata Wonderful Indonesia.

“JATA Tourism Expo (JTE) 2016 adalah bursa pariwisata internasional tahunan terbesar di Jepang, diikuti oleh 1.161 buyers dan sellers dari 141 negara dengan 1.129 booths, dan dikunjungi oleh 173.602 pengunjung,” kata Menteri Arief Yahya, hari ini (22/9).

Dengan fakta dan data tersebut, Indonesia dinilainya sangat perlu untuk berpartisipasi dalam ajang tersebut dengan materi promosi yang menarik dan maksimal. Tahun ini merupakan acara ke-24 kalinya JTE dilaksanakan sehingga penyelenggaraannya pun semakin meriah dan akbar.

Kementerian pariwisata membuka lahan untuk berpameran seluas 180 m2 dengan disain booth bernuansa kapal Phinisi. Kapal tradisional ini berasal dari suku bugis dan suku Makassar di Sulawesi Selatan tepatnya dari desa Bira kecamatan Bonto Bahari Kabupaten Bulukumba. Model kapal tersebut sangat khas dengan dua tiang layar utama sehingga diharapkan mampu menarik perhatian pengunjung dalam acara pameran akbar tersebut.

“Ini ajang yang tepat untuk promosi apalagi saat para pelaku industri pariwisata dari berbagai belahan dunia berkumpul dalam acara pameran berbagai produk dan jasa di bidang pariwisata termasuk airlines, seni dan budaya, atraksi dan destinasi, resort, layanan transportasi, Conference dan Exhibition Centers, layanan perbankan, golf, venue kebudayaan, holiday camps, hingga hotel dan restoran semua berkumpul dalam satu atap,” kata Arief Yahya.

Lahan pameran seluas 180 m2 menampung 20 booth dilengkapi dengan desain dan gambar yang mewakili destinasi di 3 Greater yakni Batam, Jakarta, dan Bali. “Kegiatan ini sangat penting apalagi Jepang merupakan salah satu negara fokus pasar pariwisata Indonesia yang dari tahun ke tahun kontribusinya besar kepada target kunjungan wisman ke Tanah Air,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata I Gede Pitana mengatakan dalam ajang JTE, Indonesia akan menempati posisi di Indonesia East Hall 1, A 24.

Kemenpar memfasilitasi 35 pelaku industri pariwisata Indonesia dari berbagai provinsi untuk mengikuti acara itu. Mereka bergerak pada jasa biro perjalanan, hotel, Pemda, cruise, pengelola destinasi wisata, theme park, hingga maskapai penerbangan.

“Kami juga akan menggelar berbagai kegiatan yang diharapkan bisa menjadi atraksi dan daya tarik pengunjung agar datang ke booth Indonesia,” kata Pitana.

Beberapa aktivitas digelar di Indonesia East Hall dalam JTE di antaranya Pameran B to B dan B to C, Pelayanan Informasi Pariwisata, Coffee & Refreshment, Penampilan Tim Kesenian, Media Digital Interaktif (Virtual Reality), dan Gift Redemption.

Berbagai aktivitas menarik itu diharapkannya mampu menarik perhatian pengunjung JTE sehingga brand pariwisata Indonesia semakin dikenal khususnya di Jepang. Dia mengatakan selama ini Jepang merupakan salah satu negara fokus pasar wisata utama yang potensinya masih sangat besar untuk dioptimalkan.

“Wisatawan asal Jepang yang berkunjung ke Indonesia terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Tapi khusus tahun ini tumbuh minus meski potensinya masih tetap besar,” katanya.

Pada Januari-Juni 2016, wisatawan mancanegara (wisman) asal Jepang ke Indonesia mencapai 243.349 orang atau minus 0,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 244.395 orang.

“Tahun ini kami menargetkan mampu menjaring 550.000 wisman Jepang ke Indonesia. Ini sangat memungkinkan karena total outbond mereka 22,5 juta dan share Indonesia baru mencapai 2,33 persen,” katanya.

Oleh karena itu Kementerian Pariwisata menganggap penting untuk lebih gencar menggarap pasar Jepang melalui berbagai promosi wisata di kota-kota potensial negara itu khususnya di Tokyo sebagai jantung utama Jepang. (*/HAS)

LEAVE A REPLY