Reog Galang Dukungan demi Diakui UNESCO

0
834
Kesenian Reog Ponorogo

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Reog, kesenian tradisional asal Ponorogo, setelah dapat hak cipta dari Kemenkumham, juga pengakuan Kemendikbud sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, kini tengah diproses untuk mendapatkan pengakuan sebagai Warisan budaya dunia dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).

“Setiap car free day di kawasan Sudirman Jakarta, kami menggalang dukungan dari warga Jakarta agar Reog bisa diakui UNESCO. Ya jangan sampai kesenian tradisional Indonesia ini diakui negara lain,” papar Warso, dari Komunitas Reog Ponorogo saat beratraksi di car free Day Jakarta, Ahad (20/3/2016).

Diakuinya, Reog merupakan salah satu seni budaya yang memberi pengaruh terhadap kehidupan. Mengingat eksistensinya mengandung nilai historis, filosofis, religius, dan edukatif.

Profesor Sri Hastanto dalam kesempatan terpisah mengakui tantangan terberat untuk bisa diakui UNESCO adalah definisi reog yang harus jelas dan perlu segera dirumuskan pihak-pihak yang berkompeten. Ada enam kriteria yang harus dipenuhi agar reog bisa diakui sebagai Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity atau Karya Agung Warisan Budaya Lisan Tak Benda Dalam Kemanusiaan.

Pertama, reog merupakan karya kreatif dari sebuah kejeniusan. Kedua, harus mengakar di tengah masyarakat Ponorogo, Ketiga, Reog menjadi identitas warga Ponorogo sebagai tampilan yang membutuhkan keterampilan. Keempat, kualitas teknis yang andal. Kelima, reog harus terbukti sebagai budaya yang hidup di tengah masyarakat. Keenam, Reog dalam risiko degradasi.

”Jadi, tantangan terberatnya memang soal pendefinisian reog itu sendiri. Itu yang perlu dirumuskan dengan baik olah siapa saja yang ingin mendaftarkan,” ungkap mantan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu.

Sekretaris Yayasan Reog Budi Satrio menyatakan, dari enam kriteria tersebut, sebenarnya sangat besar peluang reog untuk bisa menyusul wayang, keris, dan batik untuk bisa diakui sebagai warisan budaya dunia. Salah satunya sudah ada semangat tinggi dari para penggiat reog untuk mengusulkannya ke UNESCO.

”Enam kriteria sangat memenuhi. Semangat sudah tinggi sekali. Kami hanya perlu segera bersama-sama merumuskan ihwal yang terkait reog dalam naskah akademis, termasuk yang berbau teknis. Paling tidak 2016 kami bisa mulai mendaftarkan reog ke UNESCO,” tambahnya.

Keberadaan organisasi nonpemerintah sebagai lembaga pengusul yang merupakan syarat sah mendaftar ke UNESCO juga sudah cukup banyak. Mulai dari Yayasan Reog, PRPI, Komunitas Reog, dan lain-lain yang perlu duduk bersama untuk membahas ini. (endy)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.