Rakornas Pariwisata I-2017, Menpar Papar Kelemahan Pariwisata Indonesia

0
760
Rakornas Pariwisata 2017

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata Arief Yahya menilai ada kelemahan dihadapi Indonesia dalam mengembangkan sekaligus mempromosikan pariwisata tanah air ke mancanegara. Kelemahan itu karena kita tidak memiliki slogan Indonesia Incorporated. Padahal ini penting untuk memenangkan pertarungan pariwisata di wilayah ASEAN, bahkan dunia.

“Pariwisata Thailand juga Korea lebih maju karena memiliki incorporated. Indonesia belum punya, padahal ini sangat perlu agar pariwisata kita bisa maju, bisa lebih bagus lagi,” papar Menpar pada Rakornas Pariwisata I 2017 di Borobudur Hotel Jakarta, Kamis (30/03/2017).

Menpar menilai ego-ego antar-kementerian masih sangat besar dan masalah ini harus diubah menjadi sebuah sinergi kesatuan. Untuk mengubah itu, merupakan perkara gampang dengan cara menyamakan persepsi terkait “musuh” Indonesia dalam sektor pariwisata. “Jika semua kementerian terlibat memajukan dan memiliki pemahaman solid, ada sinergi, yang terjadi kita bisa lebih kuat lagi,” lontarnya.

Disebutkan, Malaysia sebagai “musuh utama” Indonesia dalam sektor pariwisata. “Jika kita tidak punya musuh, kita tidak solid. Kita tidak akan fight. Seorang CEO akan menciptakan musuhnya. Semakin jelas musuhnya, perusahaan itu akan semakin maju,” tandasnya.

Memang Indonesia butuh sparing partner yakni Thailand yang pariwisatanya maju, banyak dikunjungi wisatawan. Kalau Indonesia punya Bali, maka ASEAN itu punya Thailand. Kemajuan pariwisata Thailand karena incoporatednya, lanjutnya.

Selain itu, sambung dia, hal lain yang melemahkan industri pariwisata Indonesia adalah perihal regulasi. “Ada catatan salah satunya kalau mau buat rute penerbangan baru, maka maskapai penerbangan harus menciptakan business plan baru dan itu kan nggak sebentar buatnya, sekitar enam bulan lamanya, makanya regulasi ini harus dimodifikasi,” tutur Arief.

Dilanjutkan konektivitas udara menjadi salah satu kelemahan pariwisata Indonesia. Untuk memenangkan persaingan global kelemahan ini harus segera diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya karena sekitar 90% kedatangan wisman ke Indonesia menggunakan transportasi udara.

“Tersedianya seat yang memadai untuk mendukung target 15 juta wisman tahun ini dan akan meningkat menjadi 20 juta pada 2019 merupakan persoalan yang harus segera dipecahkan dengan melibatkan semua elemen (pentahelix) pariwisata,” jelasnya.

Menurutnya, dibandingkan Thailand, Singapura dan Vietnam, koneksi penerbangan Indonesia dengan dunia internasional masih tertinggal jauh. Misalnya kenapa tak ada direct flight ke India dan sebagainya. “Jadi ajaib kalau kita menang melawan mereka. Karena permasalahan utamanya adalah regulasi. Negara-negara yang kompetitif harus berani melakukan deregulasi, atau multy brand strategy,”

Juga tarif berlabuh kapal-kapal pesiar, yacht di pelabuhan besar Indonesia seperti Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Benoa itu tiga kali lipat dibandingkan negara-negara kompetitor dan Indonesia dinilai sangat mahal dalam penerapan tarif, sambungnya.

Core Busisness Indonesia

Disisi lain, Menpar mengatakan, pariwisata ditetapkan menjadi core business Indonesia karena memiliki banyak keunggulan kompetitif dan komperatif di antaranya unggul dalam menghasilkan devisa serta penciptaan lapangan kerja. Keunggulan komperatif pariwisata Indonesia adalah terbaik di kawasan regional bahkan melampaui ASEAN.

“Pesaing utama pariwisata Indonesia adalah Thailand, negara ASEAN lainnya mudah dikalahkan. Ini terlihat dari country branding Wonderful Indonesia yang semula tidak masuk ranking branding dunia, kini di ranking 47 mengalahkan Truly Asia Malaysia berada di posisi 97 dan Amazing Thailand diposisi 83 sekaligus sehingga positioning dan differentiating Indonesia di tingkat dunia,” katanya.

Keunggulan komperatif lainnya, lanjut dia, pariwisata Indonesia mudah menjadi destinasi utama dunia sekaligus tourism hub, sedangkan untuk menjadi trade dan investment hub akan terlalu sulit bagi Indonesia untuk mengalahkan Singapura. “Dengan menjadi tourism hub akan menciptakan people-to-people relationship yang kemudian diikuti tumbuh pesat trade dan investment,” ucap Mantan CEO Telkom.

Setelah ditetapkan sebagai core business negara, maka alokasi sumber daya terutama anggaran harus diprioritaskan termasuk anggaran untuk membangun infrastruktur di destinasi pariwisata yang ada di kementerian/lembaga terkait.

“Komitmen kementerian/lembaga terkait dalam mendukung percepatan pembangunan 10 destinasi prioritas (Danau Toba; Tanjung Kelayang; Tanjung Lesung; Kepulauan Seribu; Candi Borobudur; Bromo Tengger Semeru; Mandalika; Labuan Bajo; Wakatobi; dan Morotai) dan 14 destinasi unggulan kita jadikan sebagai topik bahasan dalam Rakornas Pariwisata I-2017,” katanya.

Rakornas Kepariwisataan yang mengusung tema Indonesia Incorporated: Synergies for Better ini, dibuka Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan selaku keynote speech. Juga dihadiri Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Bupati beberapa daerah, Dinas Pariwisata seluruh ndonesia, Lembaga terkait seperti pejabat tinggi Garuda Indonesia, PT Telkom, BMKG dan PT Jasa Marga dan organisasi pariwisata lainnya.

Rakornas I-2017 mengagendakan sejumlah topik menarik diantarnya dukungan dan komitmen kementerian maupun lembaga terkait dalam membangun konektivitas udara, darat dan laut dalam memenuhi target pariwisata dan kendala di lapangan yang dihadapi serta bagiamana mencari solusi untuk mengatasi permasalahan pariwisata nasional melalui diskusi forum. Diskusi tersebut menghadirkan nara sumber diantaranya dari instansi terkait, pelaku bisnis, serta otoritas bandara, pelabuhan maupun perkeretapaian. (end)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.