Raja Konro Daeng Naba Tidak Takut Bersaing Di Era Pasar Bebas MEA

0
1169
M Ikhsan Ingratubun, pemilik restoran Raja Konro Daeng Naba yang juga Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia ( Akumindo) di salah satu dari tujuh restorannya di Jl Ampera Raya no: 8, Kemang, Jakarta Selatan . (foto: Hilda Sabri Sulistyo)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Pengusaha kuliner beromzet Rp 2 miliar per bulan, M Ikhsan Ingratubun tak takut memasuki era pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean ( MEA) dimana Indonesia menjadi pasar utama yang diperebutkan para investor dan profesional di kawasan ini untuk mendapatkan bisnis atau mata pencaharian yang lebih baik.

Pemilik restoran Raja Konro Daeng Naba dan restoran dengan brand lainnya khas Sulawesi Selatan ini menegaskan bahwa pihaknya siap bersaing dan sama sekali tidak takut menghadapi serbuan usaha maupun tenaga kerja dari negara-negara tetangga Asean karena sejak 7 tahun lalu dia sudah bersiap menghadapinya.

“Rejeki Allah yang mengatur dan tidak akan tertukar selama kita membuat hidangan dengan bersungguh-sungguh untuk tamu yang kita hormati. Di era MEA Indonesia yang paling teratas untuk diserbu karena Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) telah menyatakan Indonesia merupakan negara favorit di ASEAN yang paling diminati investor untuk berinvestasi,”.

BKPM didasari persepsi positif kalangan pelaku usaha terhadap potensi investasi di Indonesia dan merujuk kepada survey Price Waterhouse Coopers (PwC) yang dirilis dalam pelaksanaan KTT APEC tahun lalu. Dalam laporan itu disebutkan Indonesia ditempatkan sebagai tujuan investasi favorit nomor dua, setelah China. Indonesia berada di atas negara ASEAN lainnya terutama Vietnam, Malaysia dan Singapura.

“Jadi di era MEA ini Raja Konro Daeng Naba justru akan go abroad, kami akan merambah ke luar negri masuk ke negara-negara Asean dan sekarang sedang menyiapkan koki-koki yang terlatih untuk menyiapkan masakan khas Sulawesi Selatan, salah satu jenis masakan Indonesia ke berbagai daerah di Indonesia maupun ke luar negri,” ungkapnya bangga.

Bangga menjadi anak bangsa dan bangga dengan keragaman makanan khas Indonesia ditunjukkan M Ikhsan Ingratubun yang juga Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia ( Akumindo) dengan menunjukkan menu yang ada dan cara kerja para pelayan restorannya di Jalan Ampera Raya no: 8, Kemang, Jakarta Selatan yang serba terukur lewat sistem yang diciptakannya.

Dia bangga karena Indonesia memiliki beragam jenis masakan dari berbagai daerah dan Sulawesi Selatan hanya satu dari 35 provinsi yang ada di tanah air. Oleh sebab itu dia cukup heran setelah dunia melalui CNN memilih Rendang dan Nasi Goreng menjadi masakan yang popular dari segi keunikan bumbu dan kelezatan rasa, pemerintah tidak memiliki upaya untuk mengkampanyekan pada rakyat Indonesia untuk mempopulerkan masakan itu.

“Pemerintah juga sudah memilih 30 ikon kuliner tradisional Indonesia di era Menparekraf Marie Pangestu, tapi kampanyenya di dalam negri tidak jalan. Kalau hanya jadi ikon di luar negri sementara di dalam negri tidak ada kampanye dan kesadaran untuk menyantap kuliner Indonesia maka ikon itu jadi tenggelam di tengah maraknya kuliner asing,” kata M Ikhsan Ingratubun.

Kalau sudah dikampanyekan sejak sebelum MEA dan masyarakat Indonesia bukan hanya cinta tetapi memilih masakan asli Indonesia bukan junk food maka aksi nyata itu sudah bentuk proteksi di era MEA sekarang, tambahnya.

Kunci keberhasilan di era MEA, ujarnya, suka atau tidak suka dan mau tidak mau harus ada kesadaran dari masyarakat Indonesia untuk menggunakan produk-produk buatan Indonesia termasuk dalam hal kuliner. Di TV, ujarnya, sudah sering muncul pengusaha yang mengajak masyarakat mencintai produk buatan Indonesia padahal yang dibutuhkan adalah bukan cuma cinta tetapi aksi nyata membeli produk dalam negri yang tidak kalah dengan buatan luar negri, tandasnya.

“Hadapi MEA, hal utama yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah proteksi yang konkrit karena itu kampanye yang dilakukan instansi pemerintah maupun pejabat untuk mengajak masyarakat belanja produk lokal harus digencarkan. Wapres Yusuf Kalla misalnya, tidak segan-segan promosikan JK Collection di TV yang dibuat oleh para perajin sepatu di Cibaduyut, Jawa Barat. Itu kan langkah konkrit dan ada keberpihakan terhadap UMKM,” kata politisi Golkar ini.

Data tahun 2010 jumlah UMKM di Indonesia ada 56 juta dan kalau saat ini diperkirakan sudah mencapai 60 juta usaha. Kalau ada proteksi dan keberpihakan pada UMKM yang banyak membuat beragam produk kebutuhan masyarakat termasuk kuliner maka pemerintah tidak akan galau seperti saat ini menghadapi MEA.

“Sementara menunggu UU UMKM di revisi agar menjadikan UMKM sebagai subyek bukan sekedar obyek, maka kampanye nasional menggunakan produk buatan dalam negri sudah harus tayang disemua televisi nasional sehingga pemerintah bisa memberikan proteksi pada pengusaha lokal,” katanya.

Pengusaha lokal juga harus mampu bersaing dan meski Raja Konro Daeng Naba ini menu utamanya adalah sop konro, aneka konro/iga dan pallumara, namun di restorannya yang mampu menampung 600 orang juga menyajikan sedikitnya 170 menu masakan dan minuman Makassar Sea Food hingga pasta, hotdog, roti bakar hingga roti maryam.

“Sekali lagi Raja Konro Daeng Naba sama sekali tidak takut dengan MEA dan kami berharap pemerintah memberikan proteksi hanya perusahaan asing yang memiliki SDM bersertifikasi saja yang boleh beroperasi di Indonesia. Tujuh outlet resto kami dengan omzet Rp 2 milyar per bulan tidak bisa dipandang sebelah mata dan kami bangga bisa berkontribusi pajak yang demikian besar untuk DKI Jakata dan Pemkot Depok,” tegasnya. ( hildasabri@yahoo.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.