Qatar Airways, Korban Ketegangan Diplomatik Negara Arab

0
139

DUBAI, Bisniswisata.co.id: Qatar Airways, maskapai penerbangan milik negara Qatar, menjadi korban terbesar dari dampak pemutusan hubungan diplomatik di Teluk Persia. Para analis aviasi dari Frost & Sullivan memperkirakan sekitar 30% pendapatan Qatar Airways bisa terdampak akibat hal ini.

Data perusahaan intelijen perjalanan udara, OAG, sebanyak 76 penerbangan harian kemungkinan tidak dapat terbang, 52 di antaranya dioperasikan oleh Qatar Airways, setelah Arab Saudi, Bahrain, Mesir, dan Uni Emirat Arab (UEA) memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar.

Di antara operasi Qatar Airways yang dijadwalkan ditutup adalah sebuah shuttle ke Dubai yang beroperasi 14 kali sehari. Rencana untuk melarang pesawat jet Qatar memasuki wilayah udara negara-negara tersebut bisa menjadi lebih bermasalah, dengan meningkatnya biaya untuk memaksa pengalihan penerbangan yang signifikan.

“Mengalihkan [pesawat] sekitar wilayah udara tertutup menyebabkan biaya bahan bakar yang lebih tinggi dan waktu penerbangan yang lebih lama. Tujuan di Afrika dan seluruh Samudra Hindia mungkin tidak lagi berkelanjutan sebagai bagian dari jaringan Qatar Airways,” ujar Mark Martin, kepala Martin Consulting yang berbasis di Dubai.

Larangan Saudi untuk penerbangan seputar wilayah udara negara tersebut mulai berlaku hari ini. Mesir dan Bahrain juga menyatakan akan menolak penerbangan masuk ke wilayah mereka oleh maskapai-maskapai Qatar. Di sisi lain, UEA telah mengindikasikan bahwa wilayah udaranya akan tetap terbuka.

Qatar Air sendiri menolak berkomentar atas larangan ini, selain menyatakan pihaknya telah menangguhkan layanan penerbangan ke Saudi.

Emirates dan maskapai penerbangan spesialis jarak jauh lainnya seperti Etihad Airways PJSC dari Abu Dhabi menghentikan operasinya ke Doha pada tanggal 6 Juni, bersama maskapai penerbangan bertarif rendah, FlyDubai dan Air Arabia di Sharjah. Saudi Arabian Airlines, Egyptair, dan Gulf Air yang berbasis di Bahrain juga menghentikan layanan mereka.

Menurut sebuah pernyataan dari Saudi Press Agency, perusahaan penerbangan asing mungkin juga harus meminta izin untuk transmit ke Qatar. Pendapatan di Qatar Air, seperti maskapai penerbangan Teluk lainnya, sebelumnya tertekan karena harga minyak mentah yang rendah membebani pertumbuhan ekonomi di kawasan ini serta mengurangi permintaan untuk melakukan perjalanan di kalangan eksekutif industri minyak.

Larangan Amerika Serikat (AS) terhadap penggunaan laptop di dalam penerbangan AS akibat kekhawatiran tentang potensi serangan teroris juga mengurangi permintaan kelas bisnis.

Diogenis Papiomytis, direktur kedirgantaraan dari Frost & Sullivan, memperkirakan sekitar 30% pendapatan Qatar Air bisa terpukul, termasuk kerugian lalu lintas langsung, biaya operasional untuk mengalihkan penerbangan, penurunan tarif premi tidak proporsional karena kekayaan relatif negara-negara yang memberlakukan larangan tersebut. “Dampak jaringan sangat besar. Dampak finansial bergantung pada lamanya periode penghentian,” katanya, seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (6/6/2017). (*/BLOO)

LEAVE A REPLY