Pusaka Saujana Ajak Pelestarian Nakah Kuno Lewat Diskusi Budaya Batik dan Tenun

0
293

Diplomat dan mantan Dubes Venezuela dan 5 negara di Pasifik,  Prianti Gargarin ( kiri) nara sumber diskusi budaya Pusaka Saujana bersama penyelenggara dan nara sumber lainnya

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id : Pusaka Saujana menyelenggarakan Diskusi Budaya mengenai batik dan tenun untuk melestarikan naskah koleksi Reksapustaka Pura Mangkunegaran di Elliottii Residence, Pondok Indah, hari ini (16/10).

“ Hari ini kami membahas batik dan tenun sebagai warisan budaya Indonesia sekaligus memperingati Hari Batik Nasional. Lewat diskusi budaya ini kami harapkan masyarakat lebih mengenal apa yang diperjuangkan Pusaka Saujana, “ kata Veve Safitri.

Pendiri Pusaka Saujana ini bersama dua rekan lainnya yaitu Kusuma Prabandari dan Angelica Tengker mengatakan bahwa programnya untuk Reksapustaka Pura Mangkunegaran adalah alih media, akih aksara dan alih bahasa agar naskah-naskah yang ada dan sudah berumur lebih dari seratusan tahun bisa diselamatkan.

“Oleh Pengageng Reksapustaka ( perpustakaan) Pura Mangkunegara, Pudaka Saujana ditunjuk untuk menjemnatani pula kerjasama dengan berbagai pihak yang bersedia memberi dukungan untuk pelesrarian naskah-naskah kuno. Oleh karena itu kami harus sosialisasikan program lewat berbagai kegiatan termasuk DIalog Budaya ini,” timpal Kusuma Prabandari.

Reksapustaka Pura Mangkunegaran didurikan 11 Agustus 1867 atau telah berusia 149 tahun oleh KGPAA MAngkunegoro IV sampai sekarang masis eksis dan baik buku dan naskah kunonya terpelihara dengan baik.

“ Target kami minimal 10 naskah kuno bisa digitalisasi, alih aksara dan alih bahasa sehingga bisa dibaca oleh masyarakat umum terutama generasi muda sebagai penerus pelestari budaya Indonesia,” kata Angelica Tengker, pendiri yang juga penerus institusi pendidikan ASMI.

Diskusi budaya diharapkan dapat mengundang partisipasi masyarakat untuk mengulurkan tangan membantu proyek pelestarian ini. Angelica yang berasal dari Menado, Sulawesi Utara mengatakan dukungannya pada pelestarian budaya Indonesia yang demikian kaya.

Kusuma Prabandari mengawali diskusi dengan menjelaskan kondisi dan koleksi naskah kuno, babad, buku, foto dan video di Reksopustaka agar undangan dapat memahami bahwa program alih media, alih aksara dan alih bahasa sudah sangat mendesak untuk dilestarikan karena kondisinya sudah rusak.

“ Sedikitnya ada 365 naskah kuno dan Babad. Kami targetkan tahun depan ada 10 naskah seperti Angling Darmo, Babad Itih seri C, Babad Tanah Jawa dan Babad Majapahit yang bisa dialih media, alih aksara dan alih bahasa,” kata Kusuma Prabandari.

Koleksi lainnya adalah naskah Tajus Salatin berisi pedoman untuk Raja-raja Nusantara bagaimana harus memimpin bangsa. Buku kuno itu juga sudah dialih bahasa sejak ratusan tahun karena aslinya berbahasa Arab.

Fashion show dari Batik Chic, Para pendiri Pusaka Saujana dan tamu yang hadir. ( foto HAS).
Fashion show dari Batik Chic, Para pendiri Pusaka Saujana dan tamu yang hadir. ( foto HAS).

Acara ini dihadiri pula oleh Gusti Rosati Kadarisman yang memimpin Reksapustaka Pura Mangkunegaran dan nara sumber Prianti Gagarin, diplomat yang baru menyelesaikan tugasnya sebagai Dubes RI di Venezuala, Ninik Partaningrat dari batik Kanjengan serta Adinindya, pelestari dan Penggiat Gerakan Weaving fir Life atau gerakan tenun untuk kehidupan.

Prianti Gagarin mengatakan selama tiga tahun bertugas di Venezuela pihaknya melakukan diplomasi batik dengan memasukkan batik dalam kurikukum di institusi fashion ternama di negara itu, membentuk chanting club bagi masyarakat Venezuela yang ingin belajar dan berkreasi dengan batik serra bekerjasama dengan sedikitnya 80 an fashion designer di negara itu

“Diplomasi batik ini bisa menghasilkan nilai perdagangan sebesar US$ 25 juta untuk tekstil dan produk tekstil termasuk batik dari Indonesia yang diekspor ke Venezuela, kata Prianti.

Selain itu para designer Venezuela juga membuat tas, sepatu dan beragam label fashion menggunakan beragam batik asli Indonesia menjadi produk high fashion. Prianti juga berhasil memperkenalkan batik melalui media setempat mulai dari cetak, TV hingga online sehingga batik identik dengan Indonesia.

Adinindya yang juga pendiri sekaligus Ketua Perhimpunan LAWE, sebuah kelompok yang peduli pelestarian tenun berbasis di Jogya mengatakan pihaknya berupaya mengangkat kelompok penenun untuk mendapatkan penghasilan layak.

“ Kami aktif pameran untuk membuka pasar dan LAWE berkembang menjadi Community Social Enterprise dan fokus pada tenun untuk gift jadi tidak ada sisa kain tenun yang terbuang,” kata Adinindya.

Di akhir acara, designer Novita Yunus dengan brand Batik Chic menampilkan fashion show dari rancangannya yang sangat berkelas dan digemari masyarakat papan atas di dalam dan luar negri.

Padu pasan batik dengan kebaya dan baju-baju siap pakai ditampilkan dengan aksesoris termasuk tas, sepatu hasil rancangannya. Novita juga menjadi salah satu dosen tamu di berbagai sekolah mode dab perguruan tinggi di Venezuela dan kerap mengadakan fashion show Batik Chic dengan para model ternama di negara itu.(Hilda Ansariah Sabri)

 

 

 

 

 

?

LEAVE A REPLY