Pulau Bidadari Direvitalisasi Anggarannya Rp15,8 Miliar

0
87
Peninggalan sejarah di Pulau Bidadari (Foto : Harris Maulana)

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: PT Pembangunan Jaya Ancol bersama anak usahanya PT Seabreez Indonesia tengah merevitalisasi kawasan wisata Pulau Bidadari seluas 6,35 hektare di Kabupaten Kepulauan Seribu. Revitalisasi ini mengusung konsep Batavia Tempo Doeloe.

Revitalisasi meliputi 43 cottage, satu unit restoran, serta kolam renang. “Tahap pertama revitalisasi dimulai awal bulan ini dan ditargetkan selesai Desember 2017. Tahap kedua dimulai Januari 2018,” kata General Manager Pulau Bidadari Eco Resort PT Seabreez Indonesia, Retno Purwaningsih dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (23/09/2017).

Berbekal konsep Batavia Tempo Doeloe, sambung dia, nantinya cottage akan dibuat berarsitektur Betawi, Pecinan dan Belanda. Selain itu, ornamen Betawi akan diperbanyak mulai dari front office di dermaga hingga bangunan-bangunan yang ada. “Untuk penyambutan tamu akan diadakan Palang Pintu. Selain itu, restoran kami juga akan menyajikan kuliner khas Betawi,” terangnya.

Sejak tahun 1980 baru sekarang dilakukan revitalisasi besar-besaran dengan nilai anggaran Rp 15,8 miliar. “Konsep revitalisasi ini merupakan bentuk dukungan kami terhadap Perda Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi,” tandasnya.

Sementara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, mendukung revitalisasi kawasan Pulau Bidadari. Revitalisasi dilakukan BUMD DKI ini bisa lebih mengembangkan potensi wisata di Kepulauan Seribu.

“Saya pikir harus bisa dikembangkan lebih bagus. Sehingga dapat menarik wisatawan berkunjung,” lontar anggota Komisi B DPRD DKI, Prabowo Soenirman

Subandi, anggota Komisi B DPRD DKI lainnya menambahkan, potensi wisata di Kepulauan Seribu bisa lebih dimaksimalkan dengan membangun sarana dan prasarana penunjang. Pemprov DKI memiliki pelabuhan besar di Kepulauan Seribu sehingga dapat disandarkan kapal pesiar yang membawa turis asing.

“Kita juga harus mempersiapkan infrastruktur pendukungnya untuk tempat-tempat yang nantinya menjadi tujuan kunjungan wisata bahari di Kepulauan Seribu agar semakin berkembang dan dikunjungi wisatawan.” harapnya.

Sebelum bernama Pulau Bidadari, pulau ini dikenal sebagai Pulau Sakit karena pernah dijadikan tempat orang yang sakit lepra. Nama Bidadari diambil dari sejarah menyatakan pulau ini merupakan pulau yang sering disinggahi keluarga kerajaan Jayakarta pada masa lalu.

Di pulau tidak ada penduduk yang tinggal, juga ada benteng peninggalan Belanda yaitu Benteng Mastello. Benteng ini berfungsi sebagai tempat pengintaian musuh. “Bagian bawah tanahnya terdapat ruang menyimpan cadangan senjata,” papar Candrian Attahiyyat, arkeolog.

Pulau Bidadari juga memiliki hutan mangrove yang berfungsi sebagai cagar alam juga menjadi benteng jika ada gelombang besar. Fungsi hutan mangrove sebagai hutan lindung jika di daratan yaitu sebagai penyeimbang ekosistem.

Selain itu di pulau ini juga terdapat biawak yang keberadaannya dilindungi juga elang bondol yang merupakan maskot dari Kota Jakarta. Bahkan ada rusa tutul yang sudah jinak.

Pulau ini sangat berdekatan dengan pulau khayangan, Onrust dan Kelor. Di Pulau Bidadari tersedia resort, memang sebelum ada resort sempat kosong dan tidak berpenghuni sampai dengan tahun 1970. Pada awal tahun 1970-an, PT Seabreez mengelola pulau ini untuk dijadikan sebagai resort wisata.

Tak jauh dari Bidadari, ada Pulau Onrust. Pulau ini merupakan salah satu saksi sejarah pendudukan Belanda di Indonesia. Belanda mendarat di Pulau Onrust tahun 1616. Perlu empat tahun untuk mempersiapkan diri sebelum menduduki Jayakarta tahun 1620. “Hal ini yang belum banyak diketahui oleh orang. Mereka hanya mengetahui bahwa Belanda langsung mendarat di Jayakarta. Fakta ini harus diluruskan,” paparnya.

Penduduk sekitar menyebut pulau ini adalah Pulau Kapal karena di pulau ini sering sekali dikunjungi kapal-kapal Belanda sebelum menuju Jayakarta. Di dalam pulau ini terdapat banyak peninggalan arkeologi pada masa kolonial Belanda juga sebuah rumah yang masih utuh dan dijadikan Museum Pulau Onrust.

Nama Onrust diambil dari bahasa Belanda berarti Tidak Pernah Beristirahat atau dalam bahasa Inggrisnya adalah Unrest. Namun ada juga sumber lain yg mengatakan bahwa nama Onrust tersebut diambil dari nama penghuni pulau yang masih keturunan bangsawan Belanda, yaitu Baas Onrust Cornelis van der Walck.

Sekitar tahun 1800, armada laut Inggris Raya menyerang pulau ini dan menghancurkan bangunan di atas pulau ini. Sekitar tahun 1803 Belanda kembali menguasai Pulau Bidadari dan membangunnya kembali. Namun, Britania kembali menyerang tahun 1806, Pulau Onrust dan Pulau Bidadari serta pulau lainnya hancur berantakan. Tahun 1827 pulau ini kembali dibangun oleh Belanda dengan melibatkan pekerja orang Tionghoa dan tahanan.

Tahun 1911 Onrust diubah fungsinya menjadi karantina Haji hingga tahun 1933. Para calon haji dibiasakan dulu dengan udara laut, karena saati itu untuk mencapai Tanah Suci harus naik kapal laut selama berbulan-bulan lamanya, dan kemudian sebagai pos karantina jemaah haji yang kembali.

Selama tahun 1933 sampai 1940 dijadikan sebagai tempat tawanan para pemberontak yang terlibat dalam “Peristiwa Kapal Tujuh” (HNLMS Zeven Provincien), Ketika pecah Perang Dunia II tahun 1939, pulau ini dipakai Belanda sebagai kamp tawanan, yg isinya orang-orang Jerman yg bermukim di Hindia Belanda, yg dicurigai sebagai mata2 musuh.Tahun 1942 setelah Jepang menguasai Batavia, Onrust dijadikan tempat penjara bagi para penjahat kriminal kelas berat.

Antara September 1945 – Januari 1946 sempat kembali dimanfaatkan kembali oleh Sekutu sebagai tempat tawanan orang-orang Jerman yang ada di Indonesia, termasuk 6 orang awak U-Boat U-195. Tawanan perang ini selanjutnya dipindahkan ke Malang, karena Belanda kuatir mereka akan dibebaskan oleh pejuang2 kemerdekaan RI.

Pada masa Indonesia merdeka pulau ini dimanfaatkan sebagai Rumah Sakit Karantina, terutama bagi penderita penyakit menular di bawah pengawasan Departemen Kesehatan RI hingga awal 1960-an. Tahun 1960 – 1965 dimanfaatkan untuk penampungan para gelandangan dan pengemis, selain itu juga dimanfaatkan untuk latihan militer.

Pulau ini sempat terbengkalai, dianggap tak bertuan hingga tahun 1968 terjadi pembongkaran dan pengambilan material bangunan secara besar-besaran oleh penduduk atas ijin kepolisian setempat. Tahun 1972 Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mengeluarkan SK (Surat Keputusan) yang menetapkan Pulau Onrust sebagai pulau bersejarah. Kini, Pulau Onrust, juga Pulau Cipir, Pulau Bidadari, Pulau Kelor dan Pulau Edam, oleh Pemerintah Indonesia ditetapkan sebagai daerah Suaka Taman Purbakala Kepulauan Seribu

Di dalam pulau ini terdapat banyak peninggalan arkeologi pada masa kolonial Belanda dan juga sebuah rumah yang masih utuh dan dijadikan Museum Pulau Onrust. Dan ada satu misteri yang hingga saat ini belum terpecahkan yaitu terdapat sebuah dua buah makam yang konon kabarnya salah satunya merupakan makam dari pemimpin pemberontakan DI/TII yaitu S.M. Kartosoewirjo.

Selain Pulau Onrust, Badadari juga dekat dengan Pulau Kelor. Hanya dengan waktu 10 menit kita sudah mendarat di pulau yang dahulu dikenal sebagai pulau Kherkof. Di pulau ini terdapat peninggalan Belanda berupa galangan kapal dan benteng yang dibangun VOC untuk menghadapi serangan Portugis di abad ke 17.

Juga terdapat kuburan Kapal Tujuh atau Sevent Provincien serta awak kapal berbangsa Indonesia yang memberontak dan akhirnya gugur di tangan Belanda. Kami menemukan pemandangan indah ketika hari mulai memasuki senja. Benteng Mortello yang berada di tepi pantai terlihat indah bersanding dengan pohon tua yan daunnya mulai berguguran karena kemarau. Ditambah lagi dengan suasana menjelang senja.

Sungguh sebuah pengalaman baru menjelajahi pulau-pulau yang sarat dengan sejarah kolonial selain menikmati pesona bahari di utara Jakarta. Namun dengan mempelajari sejarah ini bukan mengungkit kejayaan penjajah. Seperti yang tertulis dalam sebuah poster di Museum Onrust, berbunyi:

“Pemugaran bangunan-bangunan peninggalan jaman Belanda bukan mengingat kejayaan kolonial, namun ingin menampilkan fakta bahwa penjajahan itu memang pernah ada. Penjajahan Belanda di Indonesia adalah bagian dari sejarah panjang bangsa Indonesia. Bila bangunan pada masa penjajahan Belanda dihancurkan semua, generasi mendatang tidak akan lagi pernah melihat bukti-bukti penjajahan itu.” (*/BBS)

LEAVE A REPLY