Potensi Budaya Traveling bagi Pensiunan Meningkat 12 Persen

0
115
Wisatawan asing lansia berwisata di Kota Tua Jakarta

DENPASAR, Bisniswisata.co.id: Budaya traveling bagi para pensiunan berpotensi semakin meningkat signifikan ke depan. Apalagi, secara spesifik berdasarkan hasil survey, pada akhir 2030 market yang pensiunan yakni yang berumur 60 tahun ke atas akan tumbuh semakin banyak.

“Kalau sekarang meningkatnya 8-12 persen. Nanti sampai akhir tahun 2030 bisa naik menjadi 24 persen,” ungkap Ketua Panitia International Hotel General Manager Conference & Exhibition K. Swabawa, CHT didampingi Sekjen IHGMA (Indonesia Hotel General Manager Association) Christian Gumala diakhir konferensi di Nusa Dua, Badung, Bali, Jumat (22/09/2017).

Menurutnya, selain minat dikalangan usia tua berwisata yang terus meningkat, Swabawa juga melihat tren kunjungan wisatawan domestik yang Bali semakin meluas. Jika sebelumnya yang datang ke Bali kebanyakan dari kotakota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Medan, sekarang ini ternyata banyak dari Jogja dan Semarang.

“Turis juga tak lagi hanya tinggal di kota-kota yang ramai, namun sudah banyak yang mencari tempat-tempat yang jauh dari kota tapi unik. Ada satu pulau kecil ternyata bisa jual kamar sampai Rp 12 juta semalam karena keunikannya,” jelas Swabawa yang juga sebagai Director of Operations Global Hospitality Expert ini.

Terkait pangsa pasar, lanjut Swabawa, turis Asia, khususnya Cina yang sudah grow up sejak beberapa tahun memang meningkat pesat. Namun, ke depana yang diinginkan yang lebih berkelas dengan menyasar yang middle up.

“Turis Korea juga perlu disikapi dengan promosi ke sana karena pasarnya sangat bagus. Hotel juga harus promosi ke sana dan dengan biaya promosi yang juga harus tepat agar tak salah sasaran,” sarannya.

Terkait konferensi ini, Swabawa menerangkan minat peserta yang hadir dari sejumlah negara ini sangat luar biasa dan ini juga terlihat dari transaksi seller dan bayer yang sangat siginifikan. Ia mengaku, para GM (General Manager) membutuhkan networking untuk mendapatkan strategi dan teknik-teknik yang dibahas dalam global digital marketing.

“Dengan teknik digital marketing ini hotel dan GM bisa berpromosi secara cerdas tanpa menurunkan kualitas dengan harapan profit yang signifikan,” terangnya seperti dilansir laman Inilah.com.

Sementara, terkait perang tarif menurutnya akibat tingginya pertumbuhan hotel. Namun, pariwisata Indonesia diakui sangat murah dibandingkan negara Asian lainnya.

“Kita komit takkan ada perang tarif. Tapi tak harus menurunkan harga, melainkan dengan menaikkan kualitas. Ini sudah komit dan dibahas dan akan dibuat standarisasi harga dan diharapkan ada payung hukumnya. Ditargetkan Maret tahun depan (2018) sudah bisa dimulai diterapkan,” tegas Sekjen IHGMA Christian Gumala. (*/INO)

LEAVE A REPLY