PHRI: Hotel di Bali Berlakukan Tarif Diskon Khusus

0
72

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengakui serapan kamar hotel di Bali mengalami grafik penurunan yang tajam. Kondisi ini akibat semburan abu vulkanik Gunung Agung serta ditutupnya Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali, hingga Rabu (29/11/2017).

“Saat ini pengusaha hotel tengah kesulitan untuk mendapatkan tamu sewa kamar. Jadi sekarang lagi susah karena airport ditutup, Bali kalau sampai airport ditutup itu pasti sudah sulit (dapatkan) pengunjung sewa,” jelas Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa (28/11/2017).

Dilanjutkan, tentunya ada penurunan jumlah serapan sewa kamar hotel di Pulau Dewata. Bahkan, jika bandara Bali terus tutup, demand dari penyewa hanya akan stagnan dari pengunjung hotel yang sudah menginap pada hari sebelumnya. “Kalau tidak ada demand yang masuk maka stagnan sekali, hanya tamu yang ada,” ujarnya.

Di sisi lain, lanjut dia, pengusaha hotel juga tidak sampai hati untuk mengenakan tarif charge normal bagi mereka yang tertunda jadwal pulangnya ihwal ditutupnya akses penerbangan keluar Bali. “Kalau mereka extend karena ga ada pesawatnya kita tidak sampai hati mau ngecharge full rate,” ujarnya.

Diakuinya telah bersepakat untuk memberi diskon bagi tamu yang belum bisa check out, karena belum tersedianya jadwal penerbangan. “Sekarang kepedulian kita untuk tamu, harus kita urus juga, teman-teman hotel di Bali sepakat untuk memberikan diskon, bottom price untuk tamu-tamu di sana,” jelasnya.

Untuk besaran diskon, lanjut Hariyadi, dipatok berbeda-beda, sesuai kelas hotel. Pihaknya juga akan meminta kesepakatan dari Gubernur Bali terkait penentuan harga diskon hotel ini.

Ditempat terpisah, Ketua PHRI Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengakui Pariwisata Pulau Bali sulit menghindari dampak dari meletusnya Gunung Agung. Ditambah lagi, penutupan Bandara Internasional Ngurah Rai Bali. Kondisi ini berefek meruginya sektor lain seperti kalangan pengelola tempat wisata, agen perjalanan, perhotelan, tempat hiburan hingga jasa transportasi dan komunikasi.

“Dampak itu terhitung sejak erupsi ditambah dengan ditutupnya bandara. Bali selama ini jadi jujukan utama wisatawan mancanegara dengan persentase sekitar 40%. Destinasi lainnya adalah Jakarta sekitar 30% Jakarta dan Kepulauan Riau 20%. Sebanyak 10% sisanya adalah daerah-daerah lain di Indonesia,” jelasnya.

Dijelaskan, wisatawan datang berlibur ke Bali setiap harinya rata-rata mencapai 18.000 orang. Dalam hitungannya, satu orang wisatawan mancanegara rata-rata akan tinggal di Bali selama 3-4 hari dengan menghabiskan uang Rp13.900.000. Angka ini belum termasuk biaya penerbangan.

Dengan penghitungan itu, potensi pendapatan yang hilang setiap harinya Rp62.550.000.000. Jika erupsi berlangsung selama satu bulan seperti prediksi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), potensi kerugian mencapai Rp1.876.550.000.000.

Tingkat hunian hotel saat ini rata-rata sebesar 60%. Dengan terhentinya penerbangan ke Bali, okupansi berpotensi turun drastis. “Kita berharap penutupan bandara tidak berlangsung lama,” urainya.

Untuk mempertahankan okupansi, kalangan perhotelan sudah berkomitmen memberikan diskon tarif menginap kepada wisatawan yang tidak bisa pulang ke negaranya. “Kita berikan best available rate. Biasanya hotel sudah kerjasama dengan travel agent,” ungkapnya. (BBS)

LEAVE A REPLY