Pesona Gunung Rinjani Antara Berkah & Sampah

0
1047
Wisatawan pendaki di Gunung Rinjani (Foto: mendakigunungrinjani.blogspot.com)

MATARAM, test.test.bisniswisata.co.id: Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki pesona tiada duanya, sehingga menjadi daya tarik wisatawan minat khusus untuk menjelajah alam, mendaki gunung dan camping di kawasan wilayah Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Ini berkah yang luar biasa. Pada April, Mei Juni 2016 tercatat jumlah wisatawan pendaki ke Gunung Rinjani mencapai 24.000 orang. Rata-rata per bulan ada sekitar 7000 hingga 8000 pendaki naik Rinjani.

Sayangnya berkah itu berbuah sampah. Inilah hampir terjadi di seluruh destinasi wisata di Indonesia. Saat ramai dikunjungi wisatawan nusantara maupun mancanegara, sampah ditingalkan begitu saja. Pengelola tempat wisata juga tak punya kepedulian untuk membersihkan, semuanya diserahkan kepada alam seperti disapu angin, atau digulung ombak laut maupun ditelan air sungai.

Kepala Biro Humas dan Protokol Provinsi NTB Yusron Hadi menyebut, persoalan sampah yang banyak ditemui di Kawasan TNGR merupakan persoalan bersama, tidak hanya Pemprov NTB maupun Pemerintah Kabupaten yang ada di areal tersebut. “Semua pihak harus mengambil peran, saling membantu, memberikan solusi, dan tidak saling menyalahkan,” katanya di Kantor Pemprov NTB, Kota Mataram, Provinsi NTB, Rabu (5/10).

Ia membantah anggapan yang menyatakan Pemprov NTB tidak peka dengan persoalan sampah di kawasan TNGR. Pengajuan TNGR sebagai Geopark kelas dunia di Inggris beberapa waktu lalu, merupakan komitmen kuat agar TNGR tetap terjaga kelestariannya. Kebersihan lingkungan, lanjutnya, kunci utama dalam menarik wisatawan. “Bagaimana mau banyak wisatawan kalau banyak sampah,” ungkapnya.

Kehadiran Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi ke Inggris demi diakuinya TNGR sebagai geopark dunia, merupakan bukti bahwa konsep pembangunan di NTB harus ramah lingkungan. “NTB harus dibangun dengan konsep NTB Green. Kita boleh maju, tapi harus mempertahankan kelestarian,” lanjutnya.

Sebelumnya, Kepala Bagian Tata Usaha Balai TNGR Mustafa Imran Lubis mengatakan, sebanyak delapan ton sampah yang kebanyakan berada di tempat-tempat peristirahatan telah diangkut selama periode April hingga saat ini. Tentu, masih banyak sampah yang belum terangkut.

Untuk antisipasinya, Balai TNGR membentuk Forum Citra Lestari yang terdiri atas para pelaku wisata yang menyediakan jasa pendakian untuk bersama-sama membersihkan TNGR dari sampah. “Tidak adil kalau kita hanya ambil manfaat ekonomi, tapi enggak bertanggung jawab dalam lingkungan atau dampaknya ke depan,” kata Mustafa.

Mustafa mengajak, para pendaki dan juga pelaku usaha jasa pendakian untuk lebih aktif dalam menjaga lingkungan dan kebersihan TNGR. “Kalau obyek wisata kotor, banyak sampah maka wisatawan ogah datang. Lalu siapa yang rugi? ya kita semua, ekonomi masyarakat lokal terganggu, pendapatan daerah juga merosot. Jadi dampaknya sangat besar hanya gara-gara sampah,” paparnya. (*/REP)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.