Pertama Kali, ICAA Promosikan Karya Seniman Indonesia di Beijing

0
205
Pengunjung saksikan Pameran BIAB China (Foto: China Daily)

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Seniman Indonesia mendapat kehormatan menampilkan hasil karyanya Beijing International Art Biennalle (BIAB) ke-7, yang digelar di National Art Museum of China, Beijing pada 24 September hingga 15 Oktober 2017. Pameran kategori Special Exhibitions ini, merupakan pertama kali bagi seniman Indonesia tampil di Beijing China melalui ICAA (Indonesia-China Art Association)

“Sungguh, ini sebuah kerja yang tidak mudah, kompleks, dinamis, namun sangat menyenangkan karena membawa pengalaman baru bagi ICAA yang bisa membawa hasil karya seniman Indonesia di BIAB, pameran lukisan ternama di dunia,” papar Yince Djuwija, pendiri ICAA dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Bisniswisata.co.id, Sabtu (23/09/2017).

Dilanjutkan, ini merupakan pengalaman sangat berharga karena sesuai visi dan misi ICAA melakukan program pertukaran seniman antara Indonesia dan China. ICAA bangga bisa ikut dilibatkan untuk mengawal proses ini, mulai dari upaya mediasi, lobi hingga pada eksekusi pengiriman karya serta pengoordinasian para seniman untuk berangkat dari Indonesia menuju ke Beijing, Cina.

Sebelumnya, pada 18-24 Oktober 2014 lalu ICAA membuat program pameran internasional Indonesia-Cina di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, dan dibuka oleh duta besar Cina untuk Indonesia. Pameran tersebut menampilkan karya-karya dari 16 seniman Indonesia, dan 14 seniman Cina.

Dijelaskan, BIAB diselenggarakan setiap dua tahun sekali, tahun ini mengusung tema The Silk Road and The World’s Civilization. Pameran dikuratori oleh Kus Indarto. Setelah melalui seleksi ketat dari panitia pameran bergengsi internasional ini, beberapa seniman Indonesia yang terpilih meningikuti ajang BIAB antara lain Camelia Mitasari Hasibuan (Memory of the Silk Road),

Selain itu, Chusin Setiadikara (Traceback), I Putu Edy Asmara (Exchange), Erizal As (Rabab Minang), Gatot Indrajati (Flying Ryukin), Ivan Sagita (Everybody has Silk Road), Januri (Many Roads Lead to Beijing dan Hard Work), Johan Abi Tobing (Three Women in Javanese Costume ,Catwalk 1,dan Dancing Girl).

Seniman lainnya adalah; Joni Ramlan Wiono (Two Harmonious Culture, Golden Moment dan Village of Two Cultures), Made Gede Paramahita (Hope for the World dan Where is the Way), I Made Wianta (Black and White Eagles dan Golden Poems), Mangu Putra (Small Flowers in the Jungle), Nasirun (Mark), Nyoman Nuarta (Legenda Borobudur III), Franciscus Sigit Santoso (Year of Rooster), Ugy Sugiarto (The Meaning of Friendship dan The Power of Love), serta Yince Djuwidja (Unity in Diversity Bhinneka Tunggal Ika).

Catatan kuratorial Kus Indarto menilai hampir sebagian besar karya seniman Indonesia yang dipamerkan dalam BIAB di Paviliun Indonesia adalah karya yang mencoba melakukan pembacaan ulang (re-reading) atas tema “Silk Road”, yang kemudian dikontekstualisasikan kembali (re-contextualization) ke dalam persoalan yang berkaitan dengan kondisi dan kultur Indonesia, atau yang berkaitan dengan ketertarikan dan pemahaman personal masing-masing seniman.

“Sehingga muncul karya-karya para seniman yang secara visual memberikan tafsir atau pembacaan atas tema “Silk Road” dengan berbagai variasi tafsirannya. Tafsir, atau pembacaan visual atas tema “Silk Road” ini, saya kira bisa beragam, dan keberagaman tersebut justru akan memberikan pengayaan atas tema tersebut,” komentarnya.

“Sik Road” dalam konteks pemahaman seniman Indonesia yang sejarah kebudayaannya berbeda, tentu akan memiliki titik diferensiasi dengan pemahaman seniman dari China sendiri, atau dari kawasan/negara lain yang masih satu benua, atau apalagi bila dibandingkan dengan seniman dari lain benua, sambungnya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.