Persaingan Bisnis Hotel di Batam Semakin Ketat

0
64

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: PT Hotel Mandarine Regency Tbk (HOME) menilai persaingan industri perhotelan di Batam, semakin ketat. Mengingat, banyak pemain baru yang hadir meramaikan bisnis hotel.

“Di saat persaingan makin ketat, ditambah lagi situasi perekonomian Indonesia juga sedang melambat, enggak bersahabat sehingga bisnis hotel kena dampaknya. Batam kan dikenal sebagai kota industri, beda dengan Bali kota wisata, sumber dari pariwisata, sehingga banyak wisatawan butuh hotel,” ungkap Direktur Keuangan HOME Ardi Syofyan di Jakarta, Kamis (16/11/2017).

Diakui, kondisi industri perhotelan di Batam sempat cemerlang sampai 2010, namun munculnya hotel-hotel murah yang kian subur merubah keadaan. Kondisi tersebut membuat penurunan kunjungan terhadap beberapa hotel berbintang, termasuk bintang empat.

“Batam 1995-2010 kita alami okupansi kamar hotel cukup baik, sehingga bisa dorong kinerja perusahaan. Dengan mucul hotel baru persaingan makin ketat, harga mulai Rp150 ribu-Rp200 ribu, kita menjual Rp500 ribu, ini yang buat kita kalah bersaing. Kalau bicara hotel backpacker biayanya enggak sebanyak hotel bintang 4 kayak kita,” katanya.

Mengantisipasi hal itu, Ardi menyampaikan, perusahaan mengambil pinjaman untuk melakukan renovasi hotel budget atau yang bertarif murah mulai tahun ini. “Ke depan antisipasi hal tersebut sudah lakukan renovasi, terutama dengan adanya RUPSLB, minta persetujuan ambil kredit pinjaman,” pungkasnya.

Menurutnya, persaingan ini berdampak pada penurunan pendapatan. Diprediksi pendapatan hotel “Goodway” di Nagoya Batam ini masih akan turun cukup signifikan pada 2018. “Tahun depan pendapatan perseroan masih akan turun, mungkin cukup signifikan bisa mencapai 20 persen,” ungkapnya.

Langkah yang akan ditempuh, dengan melakukan renovasi hotel yang tergolong tua. Hal itu dilakukan guna menghadapi persaingan bisnis penginapan di Batam. “Hotel (Goodway) milik kami yang berdiri sejak tahun 1997 telah menjadi hotel tua diantara hotel-hotel lainnya di Batam. Sehingga kami memutuskan untuk melakukan perawatan dan perbaikan,”tegasnya.

Ardi menambahkan, perseroan tengah menganggarkan belanja modal (capex) sekitar Rp 28 miliar untuk mempercantik hotel tersebut. Dana tersebut akan bersumber dari hasil pinjaman perbankan. “Sayangnya, para pemegang saham pengendali kami masih belum satu kata terkait rancang bangun hotel bintang empat sebanyak 300 kamar sehingga waktu pelaksanaannya molor,” pungkasnya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY