Perlu Pemetaan Destinasi Untuk Menjaring Wisman Dari Sisi Kualitas dan Kuantitas

0
204
Rika Larasati, GM Pacto Tour ( kedua dari kiri) menyampaikan pemikirannya pada mini FGD Forwapar bersama nara sumber lainnya I Gde Pitane, Chistina L Raudatin dan Suroto. Acara dipandu oleh praktisi hotel Ari Eka Putri ( kiri), dari D'Cityland Hotels and Resorts.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pemerintah dan swasta perlu mempetakan bersama destinasi yang dapat menghasilkan kualitas dan kuantitas kunjungan wisatawan mancanegara karena keduanya tetap dibutuhkan untuk mencapai target kunjungan wisman 20 juta pada 2019.

Hal itu mengemuka pada Mini Forum Group Discussion (FGD) yang digelar komunitas Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) di Hotel Ibis Harmoni, Jakarta, Jumat ( 17/2) menghadirkan  nara sumber dari kalangan pengamat ekonomi, akademisi,  pemerintah dan praktisi.

“Kualitas dan kuantitas wisman jangan di dikotomikan karena kedua-duanya penting dan mendapatkan prioritas yang sama. Hal yang perlu disepakati adalah indikator kualitas wisman itu mencakup apa saja ?,” kata I Gde Pitane, Deputi Bidang Pengembangan Pariwisata Mancanegara Kemenpar.

Menurut dia hal yang harus disepakati yaitu mencakup pengeluaran, penyerapan tenaga kerja, lama tinggal, dampak berganda yang menggerakkan ekonomi, gini ratio atau tingkat kesenjangan, kesejahteraan masyarakat hingga pengaruh attitude wisman pada lingkungan di destinasi yang dikunjunginya” kata I Gde Pitana,

Tahun ini, pemerintah menargetkan mampu mendatangkan 15 juta wisman atau meningkat signifikan dibandingkan 2016 sebesar 12 juta. Sejumlah pihak berpendapat target wisman yang ditetapkan pemerintah masih mengacu pada target jangka pendek atau jumlah yang besar yang mengarah pada pariwisata massal yang bisa mengundang dampak kerusakan lingkungan

Saat ini, beberapa fakta menunjukkan di sejumlah daerah tujuan wisata, misalnya, Bali terbukti tingkat kesejahteraan masyarakatnya lebih tinggi. “Tingkat kesejahteraan, pengangguran, hingga tingkat gini ratio di daerah pariwisata misalnya di Bali lebih baik dari rata-rata nasional,” katanya.

Rika Larasati, General Manager Pacto Tour sebagai pelaku pariwisata mengatakan target menjaring wisman dengan tujuan meningkatkan kualitas maupun kuantitas sama pentingnya . Dia sepakat tidak perlu ada dikotomi namun pemerintah harus mengarahkan pariwisata yang mengejar kuantitas atau jumlah ke destinasi-destinasi baru.

“Kalau Bali dipromosikan sebagai destinasi wisata yang sifatnya massal atau kuantitas yang dikejar maka sudah tidak memberikan kenyamanan lagi karena infrastruktur tidak menunjang, macet dimana-mana. Namun faktanya Bali masih menjadi destinasi wisata utama,” kata Rika.

Menurut dia tinggal bagaimana pemerintah mengarahkannya dengan benar karena untuk Bali, Lombok, atau Yogyakarta tidak bisa ditawarkan terus-menerus kepada wisman karena infrastruktur yang mulai terbatas dan padat.

“Kalau kita jejalkan lagi dengan parameter kuantitas sangat tidak elok, alangkah baiknya mulai difilter, karena kapasitasnya terbatas,” katanya.

Dari situlah kemudian, pelaku industri seperti Pacto mulai menawarkan paket-paket baru di luar destinasi yang sudah populer kepada wisman yang ditanganinya dengan memahami jenis wisata apa yang diinginkan konsumennya.

“Akhirnya kami menjadikan Bali sebagai tujuan akhir dari paket wisata yang ditawarkan. Wisman yang kami tangani bisa masuk dari Medan, lalu ke tempat-tempat baru yang ditawarkan seperti Toraja, Labuan Bajo, Raja Ampat. Selama ditunjang penerbangan yang memadai paket hoping island bisa dilakukan,” ungkapnya.

Sudah saatnya pelaku pariwisata dan pemerintah mengarahkan wisatawan ke wilayah-wilayah baru sehingga bisa berdampak baik bagi perkembangan pariwisata daerah, ekonomi masyarakat dan negara.

Bicara kuantitas, wisata MICE menjadi segmen wisata yang bisa menjaring wisman dalam jumlah besar, sekaligus pengeluaran rata-rata US$ 2000 orang di luar kebutuhan lain yang dilakukan peserta Meeting, Incentive, Conference and Exhibition ( MICE) selama berada di Indonesia.

“Kalau kualitas dan kuantitas yang kita inginkan, pemerintah kami sarankan fokus mempromosikan wisata MICE dan mulai mengembangkan sektor pariwisata berkonsep bisnis dan leisure alias “bleisure” mengingat potensi dan prospek sumber daya pendukung yang dimiliki di Tanah Air.” Kata  Christina L Raudatin, Dosen dan peneliti bidang MICE Politeknik Negeri Jakarta

Sedikitnya ada 16 kota yang telah dipromosikan sebagai tujuan wisata Mice meski faktanya tetap hanya Jakarta dan Bali yang menjadi tujuan favorit, di samping Bandung dan  “Saat ini yang terjadi fokus ke leisure tapi kerap lupa dengan infrastruktur dan pengembangan SDM-nya,” katanya.

Menurut dia, sekarang sedang berkembang bisnis dan leisure traveller. Kalau hal itu bisa dimaksimalkan akan sangat lebih baik. Taoi sayangnya pola pikir yang berkembang di Indonesia adalah pariwisata yang sekadar terbatas pada leisure atau pelesir semata.

              Peserta dan nara sumber mini FGD berfoto bersama usai diskusi

Hal itulah, kata Christina,  yang membuat strategi pengembangan pariwisata masih terbatas untuk segmen leisure. Padahal untuk segmen MICE serta bisnis traveller, ada karakteristik yang berbeda dan perlu gencar dipromosikan juga.

Segmen wisata MICE (Meeting Incentive Conference and Exhibition) potensial untuk digarap karena mudah memprediksikannya dan setiap tahun mayoritas event bisa diprediksi. Kalau asosisasi dan pemerintah bisa menjadikan Indonesia tuan rumah event-event internasional yang dihadiri para pemimpin dunia maka akan mudah nantinya mereka mengadakan event-event di Indonesia lagi, ungkapnya.

Indonesia memiliki 16 destinasi yang difokuskan pemerintah untuk destinasi wisata  MICE, tapi sayangnya ternyata sampai saat ini mayoritas masih terkonsentrasi di Jakarta dan Bali sebab kedua kota tersebut yang dianggap paling siap dari sisi aksesibilitas dan fasilitas.

“Akses dan direct flight menjadi kunci disamping segmen bisnis traveller umumnya mencari fasilitas dan dukungan sumber daya manusia (SDM) yang memadai untuk pelayanan. Potensi MICE di kota lain yang masuk dalam list para Profesional Conference Organizer sebagai penyelenggara konferensi adalah Bandung, Jogja, Solo, Surabaya, Lombok. Sedangkan Batam, Bintan, Menado dan Makasar masih kurang diminati.”

Menyinggung tema mini FGD, apakah pariwisata Indonesia sebaiknya mengejar kualitas atau kuantitas wisman, Ketua Kader Sosio Ekonomi Strategis (AKSES) Suroto yang menjadi nara sumber lainnya mengatakan bahwa dari sisi ekonomi, pemerintah sekarang ini lebih banyak terjebak pada suatu target-target jangka pendek.

“ Mengapa begitu, karena yang dikejar semata-mata mengejar asumsi devisa yang harus segera bisa menutupi fiskal yang jeblok,” kata Suroto sambil menambahkan bahwa dia tidak menampik bahwa tujuan pariwisata adalah untuk mendatangkan devisa yang lebih besar tetapi strategi jangka panjang juga harus dikedepankan.

Bali, misalnya, terus-menerus dieksploitasi untuk tujuan wisata berbasis massal dan terancam terganggu kualitas lingkungannya.”Karena bicara tentang pariwisata, sesuatu yang jangka panjang dan harus dengan strategi yang baik, bukan hanya berdasarkan alasan mendatangkan devisa,” katanya. (*/HAS)

LEAVE A REPLY