Perjalanan Antar Provinsi Menguak Keindahan China Utara

0
105
Foto bersama di Tembok Kota Yanchi.

YANCHI, CHINA UTARA, bisniswisata.co.id: Perjalanan antar kota antar provinsi menjadi aktivitas rombongan tour yang dikordinir Grand  China Travel dan Islam China Travel ke wilayah China Utara. Setelah hari kedua keluar dari wilayah Inner Mongolia dari Ordos ke Yanchi perjalanan dilanjutkan ke Wuwei.

Pukul 8.00 pagi saat bus bergerak meninggalkan hotel, guide kami Caca dari Jakarta yang mendampingi Chang, guide lokal mewanti-wanti lama perjalanan masih sama sekitar 8 jam. Hari ke tiga perjalanan menuju Wuwei ini diawali dengan melongok tembok kota Yanchi.

Tak banyak informasi yang bisa saya dapatkan mengenai kota Yanchi dibawah pemerintahan kota Wuzhong, Ningxia. Kota dengan populasi penduduk sekitar 150 ribu orang ini tergolong daerah miskin atau bisa dibilang perekonomianya lambat karena sebagian besar lahan di daerah ini adalah tanah kosong dengan tanah alkali.

Hanya sekitar lima menit dari hotel kami tiba di lokasi Tembok Kota ( Great Wall) Yanchi yang sudah berumur 500 tahun disebut Tembok Ming. Begitu bus merapat, rombongan langsung berhamburan apalagi kalau bukan mencari titik ( spot) menarik untuk foto bareng maupun selfie.

Naik turun tangga dan foto bareng dengan tongsis membuat suasana pagi hari di Yanchi menjadi sedikit heboh. Banyak anggota rombongan yang tergolong usia senior juga tidak kalah cerianya memilih spot yang cantik apalagi diatas tembok ada jalan dan dua bangunan antik di dominasi warna merah.

Berbagai gaya di dalm tembok kota

Keberadaan tembok besar di tengah kota ini dikelilingi pula oleh taman kota untuk warga setempat berolahraga. Taman kotanya indah dan dilengkapi peralatan olahraga. Seorang nenek warga Yanchi yang membawa tas belanja berolah raga sejenak di samping saya sambil tersenyum ramah.

Di sebelahnya pasangan suami-istri sedang berolahraga berpasangan memanfaatkan tali temali yang ada. Kesibukan lain terlihat ketika peserta mencari toilet tapi tak kunjung menemukannya. Sebaliknya taman yang diisi dengan berbagai karya seni justru membuat mereka lupa tujuan semula dan asyik berfoto ria.

Saat akan kembali ke bus nampak peserta dari bus lainnya rombongan dari Inner Mongolia ini memanfaakan waktu menunggu teman dari toilet dengan melakukan line dance, bergoyang Maumere dan Poco-poco full music di tangan lewat HP tentunya.

Langsung saja masyarakat setempat termasuk crew dari 4 bus serta para guide lokal merespons dengan bertepuk tangan ikut dengan kegembiraan yang diciptakan. Sayapun langsung bergabung dan bergoyang Maumere ditengah udara bersuhu tiga derajat celcius.

Aktivitas di taman seputar Tembok Kota

Perjalanan dilanjutkan menuju jalur tol untuk ke obyek wisata lainnya , Jin Sha Dao, surganya bunga lavender di Negeri Tirai Bambu ini. Sepanjang perjalanan yang terlihat lagi-lagi gurun dan padang rumput.

Makan siang dilakukan di kota Zhongwei yang berdekatan letaknya dengan gurun pasir Tenggeli, salah satu dari tiga tempat di China yang menjadi pintu masuk angin utama dari gurun.

Kota Zhongwei adalah salah satu daerah yang paling serius dilanda bencana badai pasir di Tiongkok. Namun pemerintahnya kini bisa mendayagunakan gurun sebagai sumber daya dan menemukan cara unik dengan menggunakan prinsip ekologi demi memperbaiki gurun pasir. Hasilnya, lingkungan ekologi gurun menunjukkan perbaikan nyata dan malah memberi manfaat besar dari sisi ekonomi.

Setelah 3,5 jam berada di dalam bis, akhirnya waktu makan siang tiba. “ Kita sudah berada di wilayah provinsi Ningxia, daerah asal suku Hui yang beragama Islam karena itu masakannya selain halal juga tipikal menu-menu Islami dari daging domba,” kata Caca.

Alhamdulilah makanannya enak dan kami bisa shalat di lantai dua restoran. Di depan restoran ada pedagang yang menjual kripik jamur hitam yang enak dan menyediakan banyak tester. Ada juga pedagang menjajakan syal-syal warna-warni memakai bagasi mobil sedan pribadinya.

Perjalanan berlanjut melalui jalan tol ke kota Shapotou, Ningxia, China untuk melihat karpet alam dari ribuan bunga lavender warna ungu yang menghiasi hampir seluruh lahan disebut Jin Sha Dao, surganya bunga lavender.

Dari pusat Kota Zhongwei, perjalanan bisa ditempuh sekitar satu jam. Saat ini meskipun matahari bersinar cerah namun angin dingin berhembus cukup kencang dan karena kami datang diawal musim dingin maka kondisi tanaman lavender sebagian besar sudah berubah kering tak seindah postingan di Instagram dari mereka yang sudah mengunjungi tempat ini.

Taman Lavender di Sapotou

Obyek wisata buatan yang kekinian ini bagi generasi milenial memang menarik untuk spot-spot pra wedding. Di ujung juga ada tulisan LOVE berukuran tinggi dua meteran, cukup besar untuk latar belakang guna memciptakan suasana romantis.

Pasdo dan Ira, peserta tour dari Kompas TV tampak asyik membuat foto-foto di berbagai sudut. Tak kalah seru adalah rombongan oma-oma dari Cirebon yang membuat foto-foto group memanfaatkan suasana dan tak buang waktu mengabadikan momen lewat lensa kamera.

Berada di sini memang harus fokus dan cobalah luangkan waktu untuk terus langkahkan kaki menyusuri jalan setapak yang telah disediakan. Rumah-rumah kayu warna warni tersedia di sana untuk disewakan. Ada kanal dengan perahu kayu khas China juga tersedia di sana.

Persinggahan di taman lavender itu baru setengah dari perjalanan sehingga masih sekitar 3, 5 jam lagi perjalanan ke Wuwei tempat kami akan bermalam selama dua hari. Sayang kali ini perjalanan tidak mulus karena ada kecelakaan mobil dan truk sehingga bus tertahan menuju Wuwei hampir dua jam lamanya.

Keakraban di dalam bis

Untunglah keakraban dari anggota rombongan membuat waktu bisa dilewati dengan bercanda maupun mendengarkan musik. Guide Chang malah menyanyikan sebuah lagu dengan bantuan musik karaoke.

Cerita menariknya dari tempat yang akan kami tuju adalah kota dengan penduduk sekitar 200 ribu orang yang dulu diperhitungkan dalam Jalur Sutra perdagangan. Diprovinsi ini hidup warga yang  terdiri dari 38 kelompok etnis termasuk minoritas Han, Zang, Hui dan Mongolia.

Wuwei, yang disebut Liangzhou di zaman kuno, adalah pos penting di Silk Road kuno. Kemakmuran Jalan Sutra akhirnya membawa bisnis dan kekayaan besar bagi Wuwei.

“ Dulu ribuan tahun lalu para pedagang di jalur sutra ini harus menempuh ribuan kilometer dan dalam waktu tahunan pula. Tapi bagi generasi kita sekarang 8 jam sudah bisa tiba di daerah yang dulunya masuk jalur sutra itu,” kata Chang.

Wuwei terletak di pusat Provinsi Gansu di China Barat Laut, di ujung selatan Hexi Corridor. The Hexi Corridor adalah bagian antara Pegunungan Qilian dan Pegunungan Beishan di Provinsi Gansu. Dulu rute yang paling penting dari China Utara ke Xinjiang dan kemudian berlanjut ke Asia Barat.

Perjalanan hari ini gara-gara ada kemacetan di tol membuat kami tiba di kota Wuwei sudah malam dan nafsu makan berkurang. Tiba di sebuah restoran muslim di Wuwei sudah hampir jam 21.00. Padahal beragam hidangan tersedia termasuk daging bakso dari kambing. Aneka tumis sayuran dan minuman jeruk segar juga disajikan dengan lezat.

Untunglah tiba di hotel Xiliang, Wuwei yang berhadapan dengan stasiun kereta api terbesar, fasilitas hotel benar-benar sesuai dengan standar hotel bintang lima sehingga saya masuk kamar dengan penuh kerinduan mencium bantal wangi.

Anggota tour lainnya, Hanum beserta buah hatinya Agi mengantar saya hingga ke pintu kamar. Agi, siswa kelas 6 SD itu bahkan ikut mendorong kopor masuk karena mata saya yang kian mengantuk. Sampai jumpa besok pagi Andung, kata ibunya sambil melambaikan tangan. Alhamdulilah..

 

 

 

LEAVE A REPLY