Pergerakan wisman dan wisnus jadi andalan atasi perlambatan perekonomian bangsa

0
615
Wisman menikmati air kelapa muda di sebuah kebun. Ketua PHRI Haryadi Sukamdani mengatakan kunjungan wisman dan wisnus sangat diharapkan di tengah perlambatan ekonomi yang terus berlanjut. ( foto: plasadana.com)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Haryadi Sukamdani mengatakan lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara tetap diharapkan untuk mengatasi lesunya perekonomian saat ini ditengah  menurunnya daya beli masyarakat.Oleh karena itu upaya promosi pariwisata ke luar negri tetap harus digencarkan.

“Saat nilai tukar Rupiah  terus melemah hingga ke kisaran Rp14.011 per USD, mereka yang mau berwisata akhir tahun ke luar negri memang harus meningkatkan dana, mengeluarkan uang lebih banyak. Tapi sebaliknya bagi wisman yang datang ke Indonesia harga-harga menjadi lebih murah karena mata uangnya menguat,”ujarnya.

Menurut Haryadi, masyarakat atau wisatawan nusantara ( wisnus) tetap  dihimbau untuk mengunjungi destinasi wisata di dalam negri karena pergerakan wisnus di tanah air memberikan dampak berganda yang sangat besar ke sektor lainnya dan langsung dirasakan manfaatnya. Namun di tengah perekonomian yang lesu karena daya serap anggaran pemerintah juga rendah maka kondisi ini juga berimbas pada melemahnya daya beli wisnus untuk membeli produk-produk wisata.

Haryadi yang juga Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengatakan  pariwisata menjadi sektor andalan untuk memulihkan perekonimian negara karena itu promosi wisata untuk menjaring kunjungan wisman maupun wisnus sama-sama harus ditingkatkan.

“Kalau mau mengharapkan kedatangan wisatawan melonjak maka pemerintah harus membuat kalender acara ( Calendar of Event)  secara nasional yang bisa dipercaya di seluruh negri. Di percaya artinya, kegiatan itu pasti dilaksanakan dan sudah memiliki tanggal yang tetap dari tahun ke tahun,” jelasnya.

Berkunjung ke suatu daerah atau negri bersamaan dengan adanya suatu event tahunan menjadi daya tarik tersendiri. Di Indonesia, setiap bulan berlangsung beragam festival seni dan budaya namun sayangnya calendar of event ini tidak memiliki tanggal penyelenggaraan yang pasti dan kalaupun ada belum dipromosikan, di sosialisasikan dengan luas sehingga kalangan industri pariwisatanya saja kerap tidak tahu ada event di daerahnya.

“Perbaiki dulu Calender of Event Indonesia lalu promosikan dengan baik maka kunjungan wisatawan mancanegara maupun pergerakan wisnus akan mengalir. Kami di industri pariwisata baik PHRI, Asita, airlines akan bersinergi membuat paket-paket wisata yang menarik berkaitan dengan event-event seni dan budaya yang ada. Bulan Ramadhan lalu, kita membuat paket untuk 17 kota bersama Garuda Indonesia guna menggerakan wisatawan nusantara di saat mudik Lebaran 2015,” jelas Haryadi.

Dia juga mengingatkan kebijakan bebas visa bagi 30 negara implementasinya di lapangan ternyata belum berjalan dengan baik bahkan anehnya lagi ternyata wisman yang datang menggunakan fasilitas bebas visa harus keluar ( kembali ke negaranya) melalui bandara saat dia masuk ke Indonesia.

“Saya mendapat informasi ini dari kalangan travel agent dan belum mengecek sendiri , namun namanya wisatawan maka dia akan bergerak dari suatu destinasi ke destinasi wisata lainnya. Kalau dia masuk lewat Jakarta lalu ke Bali dan pulang langsung ke negaranya dari Lombok seharusnya tidak masalah. Masak turis itu harus kembali lagi ke Jakarta selain biaya lebih tinggi juga rugi waktu dan lainnya,” jelasnya.

Pengamat ekonomi Firdaus Baderi mengatakan pergerakan wisman dan wisnus di tanah air memang sangat diharapkan.Wisman yang diharapkan berkunjung ke Indonesia juga menghadapi masalah yang sama di negrinya seperti Australia dan Malaysia yang menjadi pasar utama pariwisata Indonesia.

Indonesia tidak sendirian mengalami perlambatan ekonomi. Banyak negara yang menghadapi tekanan yang sama. Tekanan yang melanda perekonomian global saat ini tak lepas dari gejala perang mata uang (currency war), terutama antara dua kekuatan ekonomi yakni Tiongkok dan Amerika Serikat (AS). Mata uang Ringgit Malaysia dan dolar Australia juga terpukul lebih parah dari rupiah.

“Menghadapi tren perlambatan ekonomi saat ini, tak ada jalan lain, pemerintah sudah saatnya harus berada di depan dan melakukan terobosan yang perlu dilakukan pemerintah lewat sektor pariwisata agar kita tak terseret semakin jauh dalam pusaran krisis,” kata Firdaus

Gerak cepat pemerintah, misalnya, mempercepat pencairan anggaran belanja pemerintah, baik APBN maupun APBD. Presiden Joko Widodo (Jokowi) tampak sangat concern dengan hal ini melihat kenyataan hingga semester pertama, serapan anggaran masih sangat rendah.

Dalam berbagai kesempatan, Presiden selalu mengingatkan para menteri dan kepala daerah untuk menggenjot penyerapan anggaran tersebut sehingga program pembangunan berjalan.

Firdaus berharap penyerapan anggaran akan berdampak pada bergeraknya sektor-sektor usaha lain seperti pariwisata dan sektor terkait UMKM karena wisatawan baik dari dalam dan luar negri membeli oleh-oleh untuk dibawa pula sehingga menggairahkan perekonomian rakyat. (hildasabri@yahoo.com)

 

LEAVE A REPLY