Perayaan Waisak 2018 Momen Tepat Mengikis Ego Dalam Diri Demi Persatuan Bangsa

0
117

MAGELANG, Jateng, bisniswisata.co.id: Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia ( Walubi) Dra Hartati Murdaya mengatakan umat Buddha dan penganut agama lainnya agar bersama-sama berjuang terutama mengikis rasa ego dalam diri sendiri.

“Jadi pada perayaan Waisak tahun ini manusia diingatkan bahwa musuh terbesar ada dalam dirinya sendiri karena egonya yang kuat dan berkuasa sedangkan kita menghadapi tahun politik dimana pengendalian ego sangat dibutuhkan,” ungkapnya.

Berbicara usai prosesi ratusan bikkhu dan iringan  panjang sekitar 2 km dari Candi Mendut ke Candi Borobudur yang dipadati  lebih dari 200 ribuan masyarakat, Hartati mengatakan tema perayaan adalah   “Transformasikan Kesadaran Delusi Menjadi Kesadaran Murni”

“Soalnya masyarakat kita sulit memahami bahwa musuh besarnya adalah ego dalam diri. Oleh karena itu Walubi mengajak Marilah Kita Bersama-sama Berjuang Mengalahkan Sang Ego” kata Hartati Murdaya.

Jika Sang Aku ( Ego) yang melekat pada duniawi  masih berkuasa maka moha atau kegelapan batin dan dosa atau kemarahan, kebencian, iri hati, saling menghancurkan akan terus bersemayam dalam diri.

Kekuasan ego harus diwaspadai dan dikalahkan, agar diri masing-masing menjadi semakin tabah dan tangguh menjaga diri agar tidak berbuat jahat, berbuat baik, sucikan hati dan pikiran, tambahnya.

Dia menilai kalau perayaan Waisak tahun lalu lebih bersifat festival maka kali ini justru nilai-nilai spiritualnya menonjol karena umat Buddha yang berpartisipasi juga sangat fokus dan khusuk untuk memperbaiki kualitas diri.

Untuk apa mencari kemenangan dan kesenangan temporer karena yang penting adalah menumpuk amal dan kebajikan agar dapat kembali pada asalnya yaitu kebahagiaan sejati kembali pada Sang Pencipta sesuai ajaran Siddharta Gautama.

“ Perayaan Waisak yang tiap tahun dipusatkan di Candi Borobudur, kali ini juga banyak di kunjungi wisatawan dari dalam dan luar negri. Jumlah bikkhu yang datang dari kawasan Asean juga banyak selain 9 bikkhu yang diundang Kementrian Pariwisata dari Thailand dan Vietnam,” kata Hartarti.

Menyinggung ketidakhadiran Presiden Jokowi yang semula dijadwalkan datang  pada perayaan Waisak ini, Hartati dapat memahami sepenuhnya dan tidak kecewa karena faktor keamanan beliau jauh lebih penting di tengah gencarnya aksi teroris belakangan ini.

Mengenai banyaknya partisipasi dari penganut agama lain dalam perayaan ini, termasuk kunjungan wisatawan mancanegara untuk melihat perayaan Waisak di Candi Boribudur, dia mengaku senang.

Pihaknya juga sangat berterima kasih karena persatuan dan kesatuan sangat terlihat dalam prosesi berbagai kegiatan. Pihaknya juga mengapresiasi inisiatif Kemenpar untuk mendatangkan bikkhu (biksu) serta jurnalis dari Thailand dan Vietnam.

“Kalau Borobudur sebagai pusat keagamaan Buddha terus dipromosikan maka ke depan Borobudur juga bisa menjadi seperti Kabahnya umat Islam,” ungkapnya.

Perayaan Waisak 2018 dipadati oleh wisatawan domestik dan mancanegara. Dasa dan Aska yang berasal dari Semarang diajak oleh orangtuanya untuk melihat perayaan Waisak.

Adik-adik kecil ini sejak kemarin sudah menginap di Hotel Oxalis, Magelang bersama kakek, nenek dan anggota keluarga lainnya untuk mengikuti prosesi keagamaan umat Buddha ini.

Wisatawan dari Cekoslovakia, Lenka dan Michael yang baru pertama kali menghadiri perayaan Waisak di Candi Borobudur mengatakan salut dengan masyarakat di sekitar candi yang ikut berpartisipasi agar prosesi umat Buddha ini berjalan lancar.

“ Meski matahari sangat terik dan udara panas tapi kami mau bertahan terus sampai semua upacara selesai dan melihat pelepasan lampion tengah malam nanti,” kara Lenka.

Wisatawan lainnya dari Belanda, Ivone dan Michel  juga menyatakan senang bisa datang ke Candi Borobudur tepat ada perayaan hari suci umat Buddha. Keduanya senang membaur dengan masyarakat yang datang.

“ Kami tahu dari internet adanya perayaan Waisak dan ternyata banyak juga wisatawan yang datang dan kami bisa tetap naik ke atas candi,”

Hartati mengatakan bahwa Waisak adalah peringatan kelahiran Pangeran Siddhartha, penerangan sempurna menjadi Buddha, dan wafatnya Buddha Gautama sehingga mereka yang datang dapat meneladaninya.

 

LEAVE A REPLY