Penglipuran Untuk Dunia

0
428
Hilda Ansariah  Sabri 
Hilda Ansariah  Sabri 

BANGLI, BALI: Kembali ke Desa Penglipuran membuat saya jadi terharu. Sebelum turun bis bersama peserta Media Famtrip Kementerian Pariwisata 6 September 2018 lalu, selintas terlihat gerbang desa nampak lebih tertata dan kebersihannya terjaga.

Padahal pada liburan Juli lalu yang saya baca dari media bahwa data pengelola Desa Wisata Pengelipuran, jumlah wisatawan yang datang ke tempat ini mencapai 3.608 pengunjung dalam dua hari  dan lebih dari 90 persen adalah wisatawan lokal karena bertepatan libur Lebaran.

Ada pelonjakan pengunjung yang tinggi sejak saya menapakkan kaki pertama kali ke desa yang dikenal sebagai desa terbersih di dunia dengan lingkungan asri dan sarat dengan bangunan-bangunan tradisional.

Rasa haru makin kental saat rombongan langsung diarahkan masuk ke Balai Desa, beberapa meter setelah pintu masuk desa adat ini.  Soalnya kenangan jadi menyeruak dalam ingatan saat bulan Juli 2014 saya menjadi Juri Nasional Desa Wisata mewakili unsur media yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata RI.

Selain memberikan penilaian saya juga di dapuk oleh Titien Soekarya, Ketua Tim Juri Desa Wisata Tingkat Nasional untuk memberikan pengarahan bagi kalangan pemuda anggota kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis) yang hadir di Balai Desa.

Saya langsung membahas keunggulan desa yang memiliki 37 Ha hutan bambu dan lokasinya yang  terletak di kelurahan Kubu, Kabupaten Bangli, karena berada pada jalur wisata Kintamani.

Maksud saya, potensi Penglipuran yang berasal dari kata “Pengeling Pura” = tempat suci untuk mengenang para leluhur ini untuk menjadi destinasi wisata unggulan sangat besar apalagi lokasi masih berada di jalur wisata.

Soalnya saat penjurian di Balai Desa itu terlihat ornamen dan interior bambu menghiasi ruangan dan ada display hasil kerajinan bambu yang dibuat masyarakat desa.

Namun ukurannya masih besar-besar seperti kandang ayam, kerajinan anyaman bambu untuk perlengkapan dapur dan besek, anyaman bambu bertutup yang bentuknya segi empat dan dihiasi lukisan motif Bali.

Padahal pemuda setempat bisa menciptakan bentuk suvenir lain dari bambu dengan ukuran kecil seperti boneka bambu yang unik dari Jepang, pembatas buku berhiaskan tulisan aksara Bali kuno dan produk mungil lainnya yang bisa dibawa pulang wisatawan dengan mudah.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Juri Titien Soekarya juga mengingatkan agar warga desa yang masyarakatnya masih menjunjung tinggi dan memegang teguh adat dan budaya Bali juga mengutamakan untuk menjaga kebersihan.

Dua tahun setelah meraih predikat Desa Wisata Terbaik ke dua Tingkat Nasional pada 2014 itu,  Desa Penglipuran menjadi satu dari tiga desa yang dinobatkan menjadi desa terbersih di dunia bersanding dengan Desa Giethoorn di Belanda dan Desa Mawlynnong di India pada 2016. Prestasi yang Wow tentunya.

Motor dan mobil memang dilarang masuk ke dalam wilayah desa sehingga Penglipuran bebas dari asap knalpot dan kebersihannya terjaga. Ada sekitar 200 rumah bergaya tradisional di Desa Penglipuran yang berderet rapi di jalanan menanjak, dimana  12 ha dintaranya adalah pemukiman penduduk.

Suasana Desa Penglipuran ( foto: Sendy Aditya Saputra/Kemenpar)

Lebih dari 40% wilayah adalah hutan bambu sekaligus pelindung desa.

Gelak tawa teman-teman peserta Media Famtrip menikmati makan siang dengan menu khas Bali membuyarkan kenangan saat pertama berkunjung ke Desa Penglipuran empat tahun lalu. Saya langsung menikmati kue kelepon namun terbuat dari ketan hitam bukan berwarna hijau seperti di Pulau Jawa.

Selain menu makan siang dan jajan pasar, kami juga mencicipi minuman khasnya. Penduduk desa Penglipuran Bali memiliki minuman khas yang disebut loloh cemceman. Minuman ini memiliki rasa seperti air tape dan memiliki warna hijau karena bahan dasarnya adalah perasan dari daun cemceman.

Usai makan saya buru-buru mencari tempat untuk sholat dan akhirnya mendapatkan tempat di halaman homestay bantuan sebuah bank. Tidak ada tempat khusus untuk sholat padahal Jumlah pengunjung yang terus berdatangan menggunakan Toyota HiAce siang itu banyak dari kalangan Muslim juga.

Untungnya lalu lalang tamu tidak mengganggu ibadah saya karena terhalang dinding pembatas dengan jalan desa. Sebaiknya setelah menjadi desa wisata, pengelola bisa menyiapkan ruang sholat bagi pengunjung yang beragama Islam sehingga bisa sholat tepat waktu meski kali ini jumlah wisatawan mancanegara yang banyak berkunjung.

Jalan utama desa menurun memanjang, dari pura desa yang ada di titik tertinggi sampai ke bagian bawah desa. Setiap pekarangan memiliki pepohonan yang menambah asri suasana.Begitu bersih, tenang, adem, dan asri. Penglipuran adalah desa yang menenangkan jiwa dan jauh dari gemerlap sisi dunia lain.

Memasuki area perumahan dengan berjalan kaki, kami disuguhi dengan pemandangan perkampungan yang benar-benar memukau. Belum lagi dengan kebersihannya yang terjaga. Tidak ada sampah berserakan terlihat di perkampungan.

Di beberapa pekarangan rumah ada warung, café, dan bahkan ada yang menjadikan rumahnya homestay untuk wisatawan. Warga tidak diperbolehkan berjualan di luar pekarangan. Oleh karena itu warung-warung ada di dalam pekarangan. Baik berdagang kelontongan maupun suvenir atau oleh-oleh.

Seorang wanita desa  berdiri di depan pintu gerbang rumahnya dan langsung menjadi obyek bidikan teman-teman fotographer dan wisatawan yang tengah melintas di jalan desa. Lebar pintu gerbang hanya muat untuk satu orang dewasa. Di masyarakat Bali pintu jenis ini di sebut angkul-angkul.

Sentral pemukiman penduduk luasnya 9 hektar, dikavling menjadi 76 pekarangan rumah. Disini ada 240 KK. Desa dikelilingi hutan bambu seluas 45 hektar, jadi 40% lebih wilayah adalah hutan bambu yang  merupakan pelilndung desa.

Menebang pohon bambu di desa ini tidak boleh sembarangan tanpa ijin dari tokoh masyarakat setempat. Sisa 55 hektar untuk tegalan atau ladang dan fasilitas umum luasnya 3 hektar. Tidak hanya bentuk rumah yang sama, pembagian dari masing-masing tata ruang rumah juga sama, seperti kamar tidur dan dapur. Cat tembok menggunakan cat berbahan dasar dari tanah liat.

Selain memiliki budaya menghormati alam, penduduk desa Penglipuran Bangli juga memiliki budaya dan tradisi untuk menghormati wanita. Hal ini dengan adanya aturan desa yang melarang pria untuk melakukan poligami.

Jika ketahuan melakukan poligami maka akan mendapatkan hukuman dikucilkan dari desa. Tepatnya adalah diasingkan ke Karang Memadu, yaitu kawasan yang hanya difungsikan sebagai tempat tinggal pelaku poligami.

Desa Adat penglipuran melarang poligami, dengan alasan pemberdayaan perempuan. Jika ada yang melanggar aturan ini, maka akan dikucilkan dan dipaksa tinggal di kawasan Karang Memadu itu sebagai hukuman.

Begitu pula adanya budaya hukuman untuk pencurian. Bagi yang ketahuan mencuri, akan dihukum untuk memberikan sesajen lima ekor ayam dengan warna bulu ayam yang berbeda di 4 pura leluhur mereka.Dengan cara ini, semua penduduk desa akan mengetahui siapa yang mencuri, tentunya akan membuat efek jera karena malu.

Zona yang terakhir atau yang ketiga disebut setra atau kuburan. Walaupun penduduk desa Penglipuran Bali memeluk agama Hindu tapi penduduk desa Penglipuran Bangli tidak mengenal upacara pembakaran mayat, jadi mayat langsung dikubur.

Berkunjung ke Desa Penglipuran pengunjung sangat bergantung pada keterangan tour guide dan berjalan berkelompok. Padahal sejak pintu masuk pengelola desa dapat membuat selebaran berisi beragam informasi tentang desa terutama aturan desa adat yang masih dipegang teguh dan bisa menjadi pegangan hidup bagi pengunjung yang datang dari penjuru dunia.

Bali sebagai destinasi wisata utama di Republik ini beruntung memiliki Desa Penglipuran karena wisatawan bisa menyaksikan bagaimana cara penduduk bersosialisasi, melakukan ibadah, hingga mengadakan festival budaya yang tentunya tidak berlangsung setiap hari.

Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa penduduk dunia membutuhkan Penglipuran. Bukan warga Penglipuran yang membutuhkan wisatawan tapi justru Penglipuran untuk dunia dan mampu mengingatkan seluruh umat dari beragam ras dan agama bahwa kebahagian lahir dan batin mutlak ada dalam diri.

Oleh karena itu pola paket wisata yang ditawarkan bukan sekedar keluar masuk mondar mandir di jalan desa, foto-foto memakai kostum desa atau sekedar seeing is believing.

Perlu ada paket-paket yang mengajarkan pengunjung baik wisman atau wisatawan nusantara untuk tinggal dan menjalani kehidupan sebagai warga desa sesungguhnya dengan mata batin yang mampu mengingatkannya pada sang pencipta, yakni Allah SWT.

 

 

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.