Pengembangan Pariwisata Jawa Barat Hadapi Masalah Serius Akses Infrastruktur

2
1506

BANDUNG, test.test.bisniswisata.co.id: Pengembangan pariwisata Jawa Barat terancam dengan masalah infrastruktur  serta akses menuju obyek-obyek wisata yang menghadapi kemacetan jalan  luar biasa sehingga mengurangi kenyamanan wisatawan saat berkunjung ke tujuan wisata yang dijuluki Paris Van Java ini

Untuk mencapai satu obyek wisata yang jarak normalnya bisa ditempuh 45 menit ternyata akibat kemacetan lalu lintas di dalam dan pinggiran kota maka waktu tempuhnya menjadi 3 jam. Bagi travel agent kini dalam sehari maksimal obyek yang bisa dikunjungi hanya tiga tempat,” kata Herman Rukmanadi, Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jawa Barat, hari ini.

Jawa Barat, ujarnya, masih mengandalkan kunjungan wisatawan nusantara (domestik) maupun wisatawan dari kawasan Asian terutama Malaysia dan negara tetangga lainnya. Tipikal dari wisatawan ini  adalah mereka yang senang bisa mengunjungi obyek wisata sebanyak mungkin sehingga BPW bahkan menawarkan kunjungan ke tujuh tempat dalam sehari.

“Mengapa sebanyak mungkin obyek ingin dikunjungi  karena bagi mereka sekarang yang penting begitu tiba di suatu obyek adalah foto selfie, foto rombongan sebagai bukti otentik sudah mengunjungi obyek wisata di Bandung dan sekitarnya. Keterangan yang disampaikan oleh guide menjadi terabaikan karena keinginan yang besar untuk mengunggah (upload) foto di media social seperti facebook, instagram,path dan lainnya,” kata Herman.

Herman Rukmanadi
Herman Rukmanadi

Akibat kemacetan dan kurangnya jalan bebas hambatan menuju obyek-obyek wisata ke berbagai kabupaten di wilayah Jawa Barat maka peluang untuk mendistribusikan kunjungan wisatawan yang sudah datang ke ibukota Bandung jadi terhambat.Oleh sebab itu pihaknya berharap hal ini menjadi perhatian pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi terkait infrastruktur.

“karakteristik wisatawan Nusantara dan wisatawan Asian pada umumnya narsis dan wisata belanja jadi dalam meramu paket tour tidak perlu memberikan fasilitas hotel yang mahal karena yang penting harga terjangkau dan bisa belanja,” kata Herman Rukmanadi yang juga Managing Director Bhar Tours & Travel.

Pihaknya mengingatkan agar akses, atraksi dan amenities (fasilitas) tidak bisa dipisahkan sehingga masalah kemacetan lalu lintas apalagi di hari libur dimana warga Jakarta menghabiskan waktu week-end di Bndung dan sekitarnya harus segera diurai dan dipìkirkan alternatifnya.

Sebagai pelaku usaha, ujarnya,pihaknya tetap aktif mencari pasar-pasar baru bagi pariwisata Jabar. Bhara dikenal leading dalam mendobrak pasar Thailand, New Zealand dan pasar Eropa Timur. Wisatawan Thailand yang selama ini hanya mengenal tour ke Bali kini sudah mengalir ke Bandung dan obyek wisata di Jawa Barat lainnya.

“kita tidak bisa mengandalkan pasar tradisional seperti Malaysia dan Belanda karena tren wisatanya sudah berubah. Wisatawan Malaysia sudah banyak yang tidak menggunakan jasa biro perjalanan wisata (BPW) karena mereka memiliki akses ke end user misalnya untuk akomodasi, sewa mobil dan lainnya.” jelasnya.

Wisatawan Belanda kini masih melakukan Jawa-Bali overland dan menginap 2 malam di Jawa Barat namun bukan lagi dengan rombongan besar melainkan menjadi Free Individual Traveler ( FIT). Perusahaan penerbangan Air Asia yang menghubungkan Bandung-Kuala Lumpur juga sudah memangkas penerbangannya dari 4 menjadi dua kali penerbangan sehari padahal setiap penerbangan minimal membawa 100 wisatawan Malaysia, tandasnya. (hildasabri@yahoo.com).

 

 

 

 

 

2 KOMENTAR

  1. Indonesia, one of the countries which the regulations is uncertain, therefore, overseas or foreign investment in tourism runs so slowly.
    For example: “it is said 3 hours finished and 12.5 million rupiah to organized investment permit is lips service only.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.