Pengembalian Pajak Molor, Turis Terpaksa Tidur di Kolong Jembatan

0
366
Destinasi wisata Queenstown

QUEENSTOWN, test.test.bisniswisata.co.id: Nasib malang menimpa Timothy Randall. Wisatawan asal Sydney Australia tengah menikmati liburannya di Queenstown, Selandia Baru. Mengingat, penawaran berwisata dengan berbagai fasilitas nyaman plus harga yang murah, membuat Randall berlomba-lomba mendapatkannya.

Seperti dilansir laman stuff.co.nz, Senin (22/08/2016) Randall hanya memiliki uang US$150 (Rp1,9 juta) untuk liburan selama dua minggu di negari Kiwi. Pria berusia 29 tahun mengaku, semula berharap bisa mengantongi US$400 (Rp5,26 juta) dari pengembalian pajak usai tiba berwisara di Queenstown. Rencananya uang itu, digunakan untuk terbang ke Auckland, Selandia Baru, tempat di mana sang ibu tinggal.

Ternyata setelah 17 hari di Queenstown, uangnya tak kunjung didapat dan mengalami kemoloran berkepanjangan. Randall tidak khawatir, justru membuat liburannya menjadi berkesan dengan cara tinggal di bawah sebuah jembatan dekat dengan Queenstown Library. Randall tidak sendirian. Ia turut mengajak boneka beruangnya bernama Jonathan.

“Ini bukanlah sesuatu yang biasa saya lakukan, tapi saya senang untuk melakukannya jika keadaannya menuntut demikian,” ujar Randall sambil menambahkan dia tak merasa aneh untuk tidur di pinggir jalan selama merasa aman, kering, dan hangat.

Tindakannya ini kemudian difoto kamera paparazi dan berhasil menjadi pusat perhatian di halaman Queenstown Trading Facebook. Perjalanan yang tak biasa ini, ternyata memang telah ia pikirkan sebelumnya. “Saya siap dengan ini karena saya berpikir bahwa akomodasi (di Queenstown) akan sangat mahal,” paparnya. Beruntung, selama tidur di bawah jembatan, ia sama sekali tidak memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan, seperti dilecehkan oleh orang lain.

Keberuntungannya tak berhenti sampai di situ, para pustakawan dan beberapa orang yang lewat juga turut memperhatikan Randall dengan memberinya roti isi, juga jaket. “Hal yang membuat ini jadi berbeda adalah kepedulian orang. Semua orang memerhatikan saya, termasuk bebek,” ujarnya sambil bergurau.

Randall pun mengenang, ada satu orang turis asal Brasil yang memberinya uang sebesar US$5 (Rp65 ribu). Uang itu kemudian ia gunakan untuk bertahan selama satu hari. Ia membeli sebotol susu dan dua pie seharga US$1 (Rp13 ribu).

Sebuah komunitas di Queenstown, Happiness House, juga turut menyediakan jaket hangat, selimut, dan fasilitas mandi gratis untuk wisatawan. Tapi Randall tak pasrah begitu saja dengan mengandalkan bantuan orang lain. Ia turut berusaha untuk menghasilkan uang, dengan cara bersiul memainkan lagu dari film Lord of The Rings. Lagu tersebut, diakui Randall, adalah satu-satunya lagu yang bisa ia mainkan. Sayang, ia hanya berhasil meraup 70 sen saja dalam dua malam.

“Dua malam saya duduk di luar dan kedinginan, dan tidak menghasilkan satu sen pun. Saya melihat di kota penuh dengan orang yang berjalan menuju kelab malam, dan mereka tidak peduli. Tidak ada yang berhenti dan mendengarkan.” paparnya dengan penuh kesedihaan.

Randall sudah merasa cukup dengan petualangannya di Queenstown dan dia ingin segera kembali ke rumah dan bertemu dengan keluarganya. Uang sebesar US$400 (Rp5,26 juta) sangat berarti untuknya. “Jika saya mendapatkan uang sore ini, saya akan langsung memesan tiket,” katanya.

Meski begitu, ia tetap mengambil sisi positif dari pengalaman ini. Salah satunya adalah bisa membangun karakter dan meningkatkan harga dirinya. “Saya menyebutnya sebagai sebuah petualangan alam dan sesuatu yang sangat memuaskan,” katanya. “Ini sesuatu yang memberikan saya banyak kepuasan.” sambungnya. (*/END)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.