Pendapatan Rute Internasional Garuda Sumbang 52 Persen

0
78

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Pahala N. Mansury mengatakan penerbangan rute internasional memberikan kontribusi sekitar 52 persen untuk pendapatan perseroan keseluruhan pada dua bulan terakhir.

“Angkanya tidak bisa kami sampaikan, tapi kurang lebih pendapatan kita dari penerbangan rute internasional sekitar 52 persen dari seluruh pendapatan. Jadi bisa dilihat itu perkembangan yang bagus,” kata Pahala dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Ahad (28/05/2017)

Kinerja maskapai penerbangan milik negara, sambung dia, dari sisi profitabilitas (keuntungan) serta peningkatan penumpang menunjukkan perbaikan signifikan, yakni dengan pertumbuhan pendapatan rute internasional sebesar 13 persen (year on year). Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dari pendapatan rute domestik hanya meningkat 3 persen (yoy).

Diakui penambahan jumlah rute menjadi alasan penerbangan internasional menyumbang pendapatan terbesar. Saat ini Garuda memiliki 21 destinasi internasional dengan jumlah penumpang yang terus terjaga.

Dengan dibukanya destinasi baru Denpasar-Chengdu (Tiongkok) pada 23 Mei lalu, Pahala berharap Garuda Indonesia bisa menangkap tambahan penumpang dengan posisi Indonesia sebagai destinasi “hub” penerbangan.

“Indonesia sebagai hub dari Cina karena jumlah penumpang yang terbang ke Australia juga signifikan, mudah-mudahan bisa menangkap tambahan penumpang dari Australia,” ujarnya sambil berharap hasil kinerja “operating result” pada semester II-2017 sudah menunjukkan ada keuntungan.

Sebelumnya, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk membukukan rugi bersih atau rugi yang diatribusikan ke entitas induk sebesar 98,5 juta dolar AS pada triwulan pertama 2017 atau sekitar Rp1,31 triliun. Namun, rugi periode berjalan adalah sebesar 99,1 juta dolar AS.

Dibandingkan kuartal I tahun lalu, perseroan masih mencetak laba bersih atau laba yang diatribusikan ke entitas induk sebesar 1,02 juta dolar AS, sedangkan laba periode berjalan adalah sebesar 800 ribu dolar AS.

Kenaikan harga bahan bakar avtur menjadi penyebab kerugian tersebut. Dalam setahun terakhir, biaya bahan bakar naik 54 persen dari 189,8 juta dolar AS menjadi 292,3 juta dolar AS. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY