Pemkab Kediri Putar Otak Kelola Wisata Gunung Kelud

0
235
Wisata Gunung Kelud (Foto: http://wisatasenibudaya.com)

KEDIRI, Bisniswisata.co.id: Mengelola wisata alam gunung berapi bukan persoalan mudah. Perlu adanya kesadaran tinggi dari pengelola untuk memperhatikan keselamatan pengunjung. Salah satu contohnya adalah Gunung Kelud yang berdaya letus tinggi namun tetap menjadi primadona wisatawan.

Letusan Gunung Kelud terjadi 2014 silam, menjadi bukti kedahsyatan gunung api ini. Tak hanya merusak ribuan bangunan dan rumah penduduk, lontaran material vulkanisnya juga melumpuhkan operasional transportasi darat dan sejumlah bandar udara di Indonesia. “Letusan itu bisa dikategorikan bencana nasional,” kata Krisna Setiawan, Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Kediri Jawa Timur.

Namun dalam waktu cepat Pemerintah Kabupaten Kediri memutar otak menghidupkan kembali wisata alam terbaik di Jawa Timur itu, dengan tetap memperhitungkan ancaman keselamatan. Di antaranya adalah menggeser paradigma wisatawan tentang destinasi kawah menjadi pemandangan alam.

Kawah Gunung Kelud sebelumnya jadi daya tarik utama pengunjung di geser ke lokasi lain di bawahnya. Melalui pemetaan wilayah dan potensi alam, Dinas Pariwisata Kediri membangun destinasi baru di kaki Gunung Kelud agar tak terjebak pada pesona kawah. “Sekarang konsepnya menjadi wisata alam dengan pemandangan Gunung Kelud,” kata Krisna seperti dikutip laman Tempo.co, Kamis (6/7/2017).

Bersama Perusahaan Daerah Margomulyo mengelola kawasan hutan di lereng Gunung Kelud, satu per satu lokasi wisata dibangun. Diantaranya adalah Taman Argo Bunga, Patung Lembusuro, wisata offroad dengan armada jeep, pusat oleh-oleh, kebun kopi, hingga wisata petik nanas. Seluruh destinasi dibangun di luar zona larangan, ditetapkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung.

Meski sempat khawatir akan terjadinya penurunan pengunjung, namun perlahan-lahan wisata baru tersebut menjadi daya tarik tinggi wisatawan. Di hari libur tingkat kunjungan yang terpantau dari penjualan tiket masuk mencapai angka di atas 1.000 orang. Untuk mengatur aktivitas kunjungan, pengelola Kelud membatasi jam wisata mulai pukul 07.00 – 16.00 WIB.

Konsep membangun destinasi wisata baru di luar zona larangan ini juga didukung dengan pola letusan Gunung Kelud yang terjadi periodik. Menurut perkiraan, gunung berapi ini akan memuntahkan material vulkanik dalam kurun waktu 14 tahun sekali. Ini memberi jeda waktu bagi pemerintah daerah setempat untuk mendulung keuntungan wisata tanpa mengabaikan keselamatan masyarakat.

Kepala pos pemantauan Gunug Kelud PVMBG di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Khoirul mengatakan zona larangan yang ditetapkan di wilayah Gunung Kelud tak boleh dilanggar. Hal ini untuk memberi ruang kepada gunung api tersebut melakukan aktivitas vulkanisnya tanpa diganggu oleh perilaku manusia. “Makanya setiap batas larangan kita kawal secara ketat melalui CCTV dan patroli,” terangnya.

Dia juga berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Kediri yang tak memaksa untuk mengeksploitasi Gunung Kelud demi mengejar keuntungan wisata. Pembangunan destinasi selain kawah dinilai menjadi solusi tepat menjaga keamanan pengunjung dengan tetap menikmati pemandangan Gunung Kelud. (*/TMP)

LEAVE A REPLY