Pemkab Garut promosikan keindahan alam sebagai andalan destinasi wisata

0
1855
Pemandian air panas Cipanas, Garut. (foto:Arief Rahman Media)

GARUT, test.test.bisniswisata.co.id:  Garut adalah kota kecil yang sebagian besar wilayahnya dikelilingi gunung. Secara geografis kota yang dikenal dengan jajanan dodolnya ini memiliki banyak tempat wisata alam. Upaya mempromosikan daerahnya menjadi destinasi wisata alam, Pemda Garut mengundang 50 wartawan  pariwisata dari Jakarta untuk mengunjungi tempat wisata di Kab. Garut.

Rombongan yang langsung oleh dikomandani DR M Iqbal Alamsyah Ak MA, sebagai Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik ( humas) Kementrian Pariwisata berangkat dari kantor Kementerian Pariwisata Jakarta, pukul 14.00. Bus mulai merayap di jalan protokol ibukota hingga akhirnya bisa masuk Tol Cawang menuju Cikampek hingga  keluar Tol Cileunyi, Bandung.

Namun saat memasuki daerah Rancaengkek, Kab. Bandung, bus sedikit melambat lajunya karena ada pekerjaan pengecoran jalan. Di tengah kondisi kendaraan yang macet itu, terdengar suara adzan Maghrib, rekan-rekan wartawan pun meminta kepada sopir bus untuk mencari masjid guna menunaikan shalat Maghrib.

Selepas shalat Maghrib, perjalanan dilanjutkan. Suasana di  jalanan sudah terlihat gelap. Karena kondisi jalan yang sudah lengang, sopir bus pun mulai memacu kecepatannya. Sejumlah wartawan ada yang bernyanyi karaokean dalam bus. Ada pula mereka yang tidur karena kelelahan.

Seorang wartawan yang duduk di kursi paling depan, bertanya entah kepada siapa, “kira-kira berapa lama lagi sampai kota Garut?,” selorohnya. Karena dekat dengan tempat duduk sopir bus, mungkin saja pertanyaan itu ditujukan kepada si pengemudi. Tapi sopir bus diam saja, mungkin tak mendengar, karena kerasnya suara karaoke dari VCD yang dinyanyikan teman-teman. “Aduh..! putar lagu sudah tiga album, tapi belum sampai-sampai juga,” keluh seorang wartawan lainnya.

Ketika bus mengurangi laju kecepatannya karena melewati jalan naik turun berkelok, sejumlah wartawan yang tertidur, mulai bangun dan melongok ke luar jendela bus. Wartawan pun mulai merasakan dinginnya cuaca yang menembus ke dalam bus. Sehingga sebagian dari wartawan penasaran ingin melihat pemandangan di luar bus. Rupanya bus sudah memasuki wilayah Kab. Garut, meski menuju kotanya masih cukup jauh. Namun, kelelahan mereka mulai dimanjakan dengan pemandangan gunung dan hutan saat malam hari yang gelap itu.

Apalagi cuaca dingin saat memasuki wilayah Garut yang dipenuhi hutan itu telah menambah rasa menggigil para wartawan dalam bus yang ber-AC tersebut. Saat bus melintasi jembatan dan jalanan menurun setelah tanjakan Nagrek, yang berbatasan dengan Kab. Garut, di sisi kiri bus terlihat dari jendela sebuah sungai yang memanjang berkelok-kelok. Meski pemandangan di areal hutan dan pegunungan di luar sana gelap, namun kilau cahaya bulan pada malam itu nampak terpantul pada air sungai yang mengalir deras.

Setelah sejumlah kuli tinta itu dimanjakan sejenak oleh keindahan alam pegunungan dan sungai yang mengalir deras, tak terasa sebentar lagi bus akan memasuki kota Garut. Perjalanan dari Jakarta menuju Garut yang ditempuh hampir enam jam itu terasa cukup melelahkan.

Sampai kota Garut pukul 20.10, dan bus masih harus berbelok ke kanan masuk ke jalan kecil menuju daerah Kamojang yang berjarak 10 kilometer dari kota. Melewati jalan-jalan kecil yang lebarnya lebih besar sedikit dari ukuran bodi bus, sehingga jika berpapasan dengan kendaraan lain, bus harus berhenti untuk memberi jalan pada kendaraan lain yang mau lewat. Bayangkan, jarak 10 kilometer harus ditempuh dalam waktu 25 menit. Berarti bus melaju sangat pelan.

Begitu bus membelok masuk ke komplek Green Kamojang Hotel & Resort, teman-teman wartawan yang tampak kelelahan itu langsung bangun dari tidurnya. Sambil mengemasi tas dan bawaannya, mereka satu per satu turun dari bus, lalu berjalan ke arah tempat resto untuk mengambil kunci kamar. Sambil registrasi dan menunggu giliran dapat kunci kamar, mereka menikmati makan malam dulu. Wajah mereka mulai kelihatan sepertinya tak sabar ingin segera beristirahat di tempat penginapan..

Candi Cangkuang, Garut peninggalan Hindu ( foto: Arief Rahman Media)
Candi Cangkuang, Garut peninggalan Hindu ( foto: Arief Rahman Media)

Melihat letak geografisnya yang sebagian besar daerah pegunungan itu, tak bisa dipungkiri jika Kab. Garut memiliki banyak tempat wisata alam yang menarik. Makanya, setelah hari kedua wartawan mengikuti kegiatan outbound, pada hari berikutnya rombongan kuli tinta itu diajak jalan-jalan ke tempat wisata alam.

Obyek wisata alam yang pertama dikunjungi adalah tempat pemandian air panas Cipanas Kab. Garut. Lokasinya berjarak 6 kilometer dari Kota Garut. Sedangkan bus yang membawa rombongan wartawan berangkat dari daerah Kamojang yang jaraknya lebih jauh dari kota. Sehingga bus harus melewati daerah pegunungan, hamparan sawah dan  jalan pedesaan yang masih asri untuk menuju tempat wisata Cipanas.

Di dalam komplek pemandian air panas Cipanas ini, juga dilengkapi restoran dan bangunan vila untuk penginapan. Wisatawan datang ke tempat ini, selain ingin mandi di sumber air panas alami dengan kandungan mineralnya yang bermanfaat untuk kesehatan, banyak juga yang menginap.

Sumber air panas Cipanas ini mengalir dari Gunung Guntur yang jaraknya tidak jauh. Bahkan, jika dilihat dari areal pemandian Cipanas, Gunung Guntur  nampak jelas ada di belakangnya. Karena lokasinya yang indah berlatar belakang gunung itu, vila Cipanas banyak dikunjungi wisatawan dari Bandung, Jakarta, Tangerang, dan daerah lainnya.

Kahumas DR M Iqbal Alamsyah Ak MA ( kiri) bersama  Bupati Garut, Rudy Gunawan, bertukar cindramata. ( foto: Arief Rahman Media)
Kahumas DR M Iqbal Alamsyah Ak MA ( kiri) bersama Bupati Garut, Rudy Gunawan, bertukar cindramata. ( foto: Arief Rahman Media)

Selesai mengunjungi pemandian air panas Cipanas, rombongan wartawan melanjutkan perjalanan ke Candi Cangkuang. Candi peninggalan Agama Hindu yang ada di Kecamatan Leles, Kab. Garut, menurut sejarahnya candi ini dibangun pada zaman pemerintahan Kerajaan Sunda Galuh.

Untuk menuju tempat Candi Cangkuang itu, bus juga melewati jalan-jalan kecil yang lebarnya sama dengan bodi bus, sehingga jika berpapasan dengan kendaraan lain, bus harus berhenti untuk memberi jalan pada kendaraan lain yang mau lewat. “Aduh.. tempat wisata alamnya bagus-bagus, tapi sayang, akses menuju tempat wisata, jalannya kecil,” keluh sejumlah wartawan.

Cuma dua obyek wisata alam ini yang sempat dikunjungi para kuli tinta pariwisata. Padahal masih banyak lagi obyek wisata di Kab. Garut yang lebih menarik. Seperti obyek wisata alam Kawah Kamojang yang memiliki beberapa titik semburan kawah yang menarik. Juga ada Gunung Papandayan yang bercuaca sangat dingin ini sering didatangi  para pendaki untuk menikmati indahnya matahari terbit di pagi hari.

Bupati Garut, Rudy  Gunawan, mengakui infrastruktur jalan menjadi penyebab sektor pariwisata di Kab. Garut, terhambat. “Jalannya kecil, dan akses jalan menuju ke tempat wisata masih kurang, sehingga ini menjadi hambatan wisatawan untuk datang ke Garut,” ujarnya.

Dia mengatakan, ada sejumlah investor datang ke Garut untuk meminta pelebaran jalan dan membuka akses jalan ke tempat-tempat wisata, “Seperti jalan yang ke arah Gunung Papandayan,  jalan yang ada sangat kecil, dan sulit dilalui kendaraan. Mereka meminta kepada kami untuk dibuatkan jalan yang lebih lebar, supaya banyak wisatawan yang mau datang ke tempat wisata Gunung Papandayan,”  kata Rudy.

Sejumlah investor itu mengaku tertarik untuk membangun tempat wisata dan hotel bintang enam. “Mereka mau bangun hotel bintang enam. Bukan bintang empat lagi,” kata Bupati Garut Rudy Gunawan ini tanpa merinci lebih jauh.

Berkah dengan limpahan pemandangan alam yang indah memang membuat rasa optimism menjadi semakin kuat. Mungkin hal yang sama dirasakan oleh rombongan pers dalam perjalanan pulang setelah refreshing sejenak dari hiruk pikuk ibukota dan rutinitas liputan yang tiada habisnya. Goodbye Garut. (ariefrmedia@yahoo.com)

 

LEAVE A REPLY