Pemerintah DIY akan Lakukan Penataan Kawasan Wisata Malioboro

0
1070
Suasana Jalan Malioboro, kota Yogyakarta, yang penataan parkirnya di bahu jalan tampak kurang nyaman. (foto Arief Rahman Media)

YOGYAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Jalan Malioboro yang menjadi icon kota Yogyakarta masih menjadi salah satu tempat wisata belanja paling favorit yang banyak dikunjungi. Sedikitnya 12 ribu wisatawan nusantara dan mancanegara dalam setiap bulan memenuhi jalan Malioboro yang kian hari kian padat ini.

 
Padatnya kendaraan yang melintas di jalan ini, serta ditambah makin banyaknya pedagang kaki lima yang memenuhi jalan Malioboro, membuat para wisatawan yang melakukan wisata belanja mulai merasa kurang nyaman.

 
Apalagi pada waktu malam hari, banyak tempat lesehan makanan gudeg khas Jogja yang juga menambah kepadatan sepanjang jalan Malioboro. Belum lagi hadirnya sejumlah seniman jalanan atau pengamen yang turut meramaikan dengan bermain musik di hadapan para wisatawan yang sedang lesehan. Inilah ragam kehidupan di jalan Malioboro yang tak pernah tidur.

 
Melihat kawasan Malioboro yang makin padat dan mengganggu kenyamanan para wisatawan itu, maka Pemerintah DIY mulai melakukan upaya grand design penataan jalan Malioboro yang menjadi icon kota Yogyakarta tersebut.

 
Grand design penataan Kawasan Malioboro ini minggu lalu dipamerkan di Museum Benteng Vredeburg, kota Yogyakarta. Tujuan pameran ini, agar masyarakat Yogyakarta mengetahui rencana pembangunan tata ruang DIY, khususnya Kawasan Malioboro. Sehingga masyarakat Yogyakarta makin menyadari akan pentingnya grand design kota yang menjadi destinasi wisata itu.

 
Dalam konsep grand design Kawasan Malioboro masa mendatang, tampak ada penataan ruang dan jalan, mulai dari letak parkir, penataan pedagang kaki lima yang menempati bahu jalan yang kian padat itu, rencananya akan diubah menjadi area pejalan kaki yang dilengkapi dengan bangku taman. Sehingga ruang area belanja pedagang kaki lima dan toko di sepanjang Malioboro akan lebih leluasa dan nyaman.

 
“Tata ruang DIY tidak boleh hanya fokus pada pembangunan fisik. Tetapi harus membangun sumber daya manusia (SDM) yang memahami budaya Jogja. Jadi pembangunan kota itu bukan karena harus mengikuti trend modern. Melainkan membangun budaya Jogja supaya melekat pada warganya,” kata Sri Sultan Hamengkubuwono X.

 
Sultan menjelaskan banyak pembangunan kota selama ini hanya fokus pada pembangunan fisik. Seperti jalan-jalan dilebarkan supaya kendaraan tidak macet, pusat perbelanjaan dan hotel juga terus diperbanyak. “Pemerintah pusat sering menilai kemajuan pembangunan hanya dilihat dari fisik, tanpa melihat nilai budaya masyarakatnya. Apakah terus berkembang atau hilang nilai budayanya?,” ujarnya.

 
Karena itu, menurut Sultan, persoalan tata ruang kota harus dengan cara membangun SDM yang berwawasan nilai kebudayaan. “Yogyakarta sebagai daerah destinasi wisata yang dikenal masyarakatnya berbudaya. Nilai-nilai budaya Jogja yang humanis inilah yang banyak dikagumi wisatawan,” tutur dia.

 
Sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM), Arie Sujito, sependapat dengan pemikiran Sultan Hamengkubuwono X, bahwa dirinya tidak setuju pembangunan kota Yogyakarta, khususnya Kawasan Malioboro, hanya mempertontonkan modernitas pembangunan fisik semata. Tetapi kehilangan nilai-nilai budaya masyarakat Jogja yang khas. “Kalau wisatawan datang ke Jogja hanya ingin melihat pembangunan pusat perbelanjaan dan hotel yang modern, mereka tidak perlu ke Yogyakarta. Mereka akan pilih berwisata ke kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan Semarang,” ucapnya.

 
Wisatawan itu datang ke Yogyakarta, selain ingin mengunjungi di beberapa tempat wisata seperti Candi Borobudur, Candi Perambanan, Pantai Parangtritis, Kaliurang, biasanya perjalanan terakhir mereka menghabiskan waktunya untuk berbelanja di Malioboro. Tempat ini menjadi salah satu pilihan favorit wisnus dan wisman dalam berbelanja barang unik yang khas Jogja.

 
Di Malioboro, para wisatawan itu juga bisa lesehan sambil menikmati sajian kuliner khas Yogyakarta. Di dekat Kawasan Malioboro ini, ada Keraton Yogyakarta dan Museum BentengVredeburg yang berarsitektur tradisional Jawa yang sangat menarik. Sehingga Keraton Yogyakarta yang dibangun pada tahun 1790 ini juga menjadi daya tarik para wisatawan.

 
“Jalan-jalan ke Yogyakarta sangat mengesankan. Karena ada banyak obyek wisata budaya yang menarik. Saya lihat di tempat lain tak ada obyek wisata yang lengkap seperti di sini. Ada Candi Borobudur, Candi Perambanan, ada Pantai Parangtritis dan lain-lain. Dan orang-orang sangat suka berbelanja di Malioboro yang barang-barangnya unik,” cerita Niken yang datang bersama rombongan satu bus dari Jakarta ini. (Arief Rahman Media)

LEAVE A REPLY