Pelaku Pariwisata Malaysia Desak Indonesia Serius Atasi Kabut Asap

0
874
Wisatawan di Singapura

MALAKA, test.test.bisniswisata.co.id: Kalangan pengelola pariwisata di Malaysia mengharapkan pemerintah Indonesia dapat segera mengatasi masalah kebakaran hutan yang menyebabkan tersebarnya kabut asap hingga ke negeri jiran tersebut.

“Kami harapkan kebakaran bisa dipadamkan, kabut asap cukup mengganggu pariwisata kami,” kata Nasri, pejabat dari Tourism Melaka, di Melaka, Malaysia.

Dalam sepekan ini, lanjut dia, banyak turis asing yang datang ke Melaka menanyakan tentang polusi asap tersebut. “Kami jelaskan ini akibat kebakaran hutan di Sumatera dan tidak terjadi sepanjang tahun,” katanya.

Kondisi di Melaka paling parah. Indeks pencemaran udara hingga mencapai angka 200. “Kondisi seperti ini hampir tiap tahun dialami di Melaka pada bulan-bulan tertentu. Apalagi lokasi Melaka yang cukup dekat dengan Sumatera,” jelasnya.

Malaka sendiri merupakan salah satu tempat tujuan wisatawan asing ke Malaysia. Rata-rata setahun sekitar 15 juta wisatawan asing datang ke kota bersejarah tersebut. Sementara itu Siti Norlizawati, manajer bisnis Serama Adventure Park yang mengelola wisata petualangan di Malaysia juga mengharapkan masalah kabut asap ini tidak semakin parah.

“Jika terjadi kabut asap kami tidak boleh menggelar kegiatan yang melibatkan anak-anak,” kata Norlizawati ketika memandu kunjungan peserta Reli Mobil China-ASEAN di Kuala Kangsar, negara bagian Perak, Malaysia, seperti diunduh laman Antara, Jumat (18/09/2015).

Meski lokasinya dari selat Malaka lebih jauh dari Melaka atau Kuala Lumpur, sebagian wilayah Perak juga terkena kabut asap akibat kebakaran hutan di Sumatera itu.

“Dalam acara penyambutan reli mobil ini, ada beberapa acara tarian tradisional anak-anak yang terpaksa dibatalkan, karena sekolah ditutup, semua anak disarankan tidak boleh keluar karena udara tidak sehat,” katanya.

Kabut asap juga menyelimuti Singapura. Aksi protes sudah dilakukan namun kabut asap masih terjadi hingga kini.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan pemerintah Indonesia bukannya lepas tangan. Pemadam kebakaran dikerahkan, helikopter diterbangkan, ribuan tentara juga disiagakan untuk mencegat api. Namun, bara tak jua padam. “Itu mengindikasikan bahwa pembakaran hutan dan lahan masih terus berlangsung,” paparnya.

Berdasarkan pantauan Satelit Terra dan Aqua pada Senin 14 September 2015, ada 1.143 titik api di Pulau Sumatera, yaitu di Bengkulu 13, Jambi 234, Lampung 69, Riau 78, Sumbar 25, dan Sumsel 724. Di Kalimantan, masih terdata 266 titik kebakaran yaitu Kalbar 26, Kalsel 74, Kalteng 164, dan Kaltim 2.

Jarak pandang pun terbatas. Secara umum di Sumsel, Jambi, dan Riau jarak pandang berkisar 80-800 m. Di Pekanbaru 200 m, Rengat 70 m, Dumai dan Pelalawan 50 m, Jambi 700 m, Palembang 800 m.

Jarak pandang di Kalimantan berada di kisaran 100-600 m. Di Pontianak 600 m, Ketapang 600 m, Sintang 300 m, Nanga Pinoh 500 m, Pangkalan Bun 500 m, Sampit 300 m, Palangkaraya 400 m, Sanggu-Buntok 100 m, Banjarmasin 220 m.

Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Pekanbaru 984 psi , Siak 467 psi, Dumai 464 psi, Palembang 550 psi. Angka tersebut berarti bahaya! Sementara indeks polusi di Pontianak 307 psi dan Banjarbaru 449 psi. Sangat tidak sehat. (marcapada2015@yahoo.co.id)

LEAVE A REPLY