Terlalu Lama, Pariwisata Toraja Merana

0
580
Tana Toraja (Foto: kompas.com)

RANTEPAO, test.test.bisniswisata.co.id: Masyarakat Toraja punya prinsip dan falsafah kuat: tamu adalah berkah. Jika tidak ada orang yang bertandang ke rumah atau desa mereka, pertanyaan besar pun muncul: kesalahan apa yang telah mereka perbuat?

“Itu adalah falsafah kami. Orang Toraja telah membuka diri untuk kehadiran masyarakat sejak dulu,” ujar Suleman Miting, pegiat kopi Toraja di Rantepao, seperti dilansir laman CNNIndonesia.com, Senin (09/05/2016).

Karenanya kini, ketika orang yang datang ke Toraja tak lagi seramai dulu, masyarakat pun bertanya-tanya, di mana salah Toraja?

Teror bom Bali 2002 diyakini sebagai salah satu penyebab terpuruknya pariwisata Toraja. Sebelum peristiwa itu, turis asal Eropa hilir-mudik di berbagai desa (lembang).

Semboyan turisme Toraja Highland terlihat di hampir seluruh penjuru Toraja. Sekarang istilah highland lebih identik dengan Genting di Malaysia

Tak menunggu lama, usaha penginapan dan rumah makan rontok satu per satu dan pemiliknya beralih jadi petani. Sebagian besar pemuda desa merantau karena tak ada lagi pekerjaan di kampungnya.

Jika Bali butuh tiga tahun untuk mengembalikan turisme ke keadaan sebelum teror tahun 2002, Toraja yang sudah terengah-engah sejak krisis moneter 1998, tak kunjung membaik hingga saat ini.

Ketua Pengelola Destinasi Pariwisata Terpadu atau Destination Management Organization (DMO) Toraja Luther Barrung mengungkapkan, sebelum 1998, jumlah wisatawan ke Toraja mencapai 300 ribu orang per tahun. Mayoritas turis tersebut berasal dari Perancis, Spanyol, Jerman dan Belanda.

“Mereka biasanya datang pada Juli, Agustus atau September, saat upacara adat banyak dilakukan,” ucapnya.

Sulit Akses

Toraja, yang secara administratif terbagi menjadi dua kabupaten: Tana Toraja dan Toraja Utara, terkenal akan tradisi yang dipegang teguh warganya, yakni upacara kematian (rambu solo’) dan kubur batu.

Merosotnya turisme Toraja membuat pemangku kepentingan pariwisata di daerah itu harus memantik popularitas objek wisata baru.

“Objek budaya di Toraja itu sudah terlalu monoton. Mayoritas wisatawan berkunjung ke kuburan. Kami ingin mereka juga menikmati keindahan alam Toraja,” tutur Luther.

Toraja Utara memiliki dan mengembangkan 158 objek wisata. Nyaris tak ada lagi desa yang tak punya objek wisata.

Perbukitan di Rantepao dan Makale merupakan wisata alam yang seharusnya menjadi unggulan Toraja dan membuat julukan “negeri di atas awan” disematkan ke tempat ini. Dari atas bukit, terasering sawah hijau yang menjulur hingga jauh ke kaki bukit terlihat sangat indah.

Wisata air terjun dan sungai di Mai’ting, Tana Toraja serta Sa’dan, Toraja Utara juga masuk dalam objek turisme baru yang coba didorong DMO Toraja.

Rantepao, sebagai ibukota Toraja Utara memang tidak benar-benar luput dari kehadiran turis. April lalu, dua hotel berbintang di Rantepao masih rutin melayani wisatawan, baik lokal maupun internasional, meski dalam jumlah yang tidak signifikan.

Kepala Bappeda Tana Toraja, Yunus Sirante, menyebut daerahnya memiliki 15 kawasan destinasi turisme dan 70 objek wisata. Selain budaya, kata Yunus, Tana Toraja juga sedang mengembangkan wisata alam dan religi.

Satu proyek wisata religi yang sedang dijalankan Tana Toraja adalah pembangunan Patung Yesus Kristus Memberkati di Buntu Burake, Makale.

Patung setinggi 40 meter tersebut kini telah berdiri di perbukitan Burake. Pengerjaannya baru berjalan 60 persen. Penataan kawasan untuk mewujudkan situs wisata religi yang terpadu masih membutuhkan dana dan waktu.

Perjalanan menuju Patung Yesus Kristus menanjak dan berbatu. Kendaraan tanpa penggerak empat roda (four wheels) akan sulit melaju ke puncak bukit Burake.

Kawasan wisata religi serupa juga tengah dikembangkan Toraja Utara. Di Bukit Singki, Rantepao, telah berdiri salib raksasa yang diharapkan tidak hanya menarik komunitas umat Kristiani, tapi juga turis dari latar belakang agama dan kepercayaan lain.

Akses transportasi menjadi persoalan utama yang belum terselesaikan. Bandar Udara Pongtiku, di Rantetayo, Tana Toraja belum mampu menjadi pintu gerbang utama turismeToraja.

Landas pacu sepanjang 900 meter hanya memungkinkan pendaratan pesawat kelas ATR berpenumpang 30 orang. Padahal lapangan terbang adalah kunci pariwisata.

Maskapai yang beroperasi di Pongtiku hanyalah Kalstar dengan jadwal penerbangan satu kali sepekan. TransNusa sudah berusaha digandeng, namun maskapai penerbangan itu mensyaratkan subsidi untuk layanan transportasi udara dari dan menuju Tana Toraja.

Harapan kini bertumpu pada Bandara Buntu Kunyi yang sedang dibangun. Jika proyek pembangunan bandara yang berada di Kecamatan Mengkendek itu selesai, diperkirakan pariwisata Toraja akan membaik.

Proyek Buntu Bunyi itu tersendat akibat tak didukung anggaran yang memadai. Proyek juga sukar dilakukan karena terdapat gunung yang perlu dibelah.

Pembangunan bandara jadi prioritas karena selama ini sebagian besar wisatawan datang lewat jalan darat dari Makassar yang waktu tempuhnya 7-8 jam.

Yunus memaparkan, Buntu Kunyi yang dimulai tahun 2011 awalnya ditargetkan selesai 2017. Anggaran sebesar Rp284 miliar telah terserap hingga akhir 2015, yang Rp30 miliar di antaranya berasal dari kas Pemkab Tana Toraja. Untuk penyelesaian Buntu Kunyi masih butuh dana Rp1,4 triliun.

Pendekatan langsung kepada Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat ini tengah dijajaki Pemkab Tana Toraja.

Pariwisata Toraja sudah sangat lama merana. Wacana dan gagasan para pejabat tak akan menghidupkan apa-apa, jika tetap minus action. Kerja nyata yang ditunggu, tanpa banyak keluh. (*/CC)

LEAVE A REPLY