Paris Agreement Akhirnya Sepakat Diadopsi oleh 195 Negara

0
427
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, saat menghadiri sidang Paris Aggreement, akhir pekan lalu.

PARIS, bisniswisata: Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya yang hadir dalam sidang adopsi Paris Agreement mengatakan ada perbedaan kepentingan antara negara maju dan negara berkembang untuk membangun komitmen dalam mengendalikan perubahan iklim.

“Namun melalui perdebatan yang alot, akhirnya para delegasi dari 195 negara itu menghasilkan kesepakatan baru untuk mengatasi perubahan iklim,” kata Menteri LHK dalam siaran persnya yang dikirim ke test.test.bisniswisata.co.id, akhir pekan lalu.

Sidang adopsi yang menghasilkan kesepakatan baru ini, sebut Siti Nurbaya, dipimpin langsung oleh Presiden COP 21 UNFCCC, Laurent Fabius yang juga menjabat Menteri Luar Negeri Perancis. Sejumlah tokoh penting dunia, juga hadir a.l. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon, Presiden Perancis Francois Hollande, Mantan Presiden AS, Al Gore.

Menurut Menteri LHK, Presiden COP 21 UNFCCC, Laurent Fabius dalam pidatonya menyampaikan Adopsi Paris Agreement ini merupakan sebuah peristiwa bersejarah bagi kemanusian. Karena enam tahun lalu di COP 15 di Kopenhagen Denmark gagal mencapai kesepakatan untuk komitmen bersama yang mengikat.

Sekitar 2000 delegasi yang hadir dalam ruang sidang di Le Bourget Paris, lanjut Menteri LHK Siti Nurbaya, menyambut gembira kesepakatan baru ini. Sehingga sidang ini diperpanjang satu hari dari jadwal yang disepakati.

Siti Nurbaya menjelaskan dari berbagai statement yang disampaikan oleh para ketua delegasi, menunjukkan bahwa tercapainya Kesepakatan Paris Agreement ini merefleksikan adanya solidaritas yang kuat antara negara-negara maju dan negara berkembang untuk mengatasi perubahan iklim.

Semangat kompromistis yang ditunjukkan oleh para negoisiator, kata Menteri LHK, mendapat apresiasi banyak pihak. Langkah ini penting dilakukan guna memperkuat aksi kolektif dan korektif dalam mengatasi perubahan iklim.

Pada sidang pleno adopsi kesepakatan Paris ini, tegas dia, Indonesia mengapresiasi solidaritas dan aksi kolektif seluruh negara dan kerja keras Presiden COP 21 dan sekretariatnya.

Siti Nurbaya menilai adopsi Paris Agreement merupakan kesempatan untuk melakukan perubahan dunia. “Ini peristiwa bersejarah untuk menciptakan planet bumi yang lebih aman dan berkelanjutan untuk kehidupan kini dan generasi mendatang,” papar dia. “Pencapaian kesepakatan ini merupakan buah dari kerja keras dan dari proses yang terbuka, inklusif yang didorong oleh para pihak,” lanjutnya.

Dia menjelaskan, Indonesia melihat pentingnya agreement ini yang harus dirasakan sebagai kepemilikan bersama. Walaupun kesepakatan ini bukan merupakan hal yang sempurna dalam mengakomodir semuà kepentingan. Tetapi kesepakatan ini merupakan kebutuhan semua negara yang melintasi batas-batas negara dalam mengatasi atas konsekuensi perubahan iklim bagi kemanusian.

Paris Agreement, kata dia, mendorong negara maju untuk terus memimpin dan memberikan dukungan kepada negara berkembang. Dan di sisi lain negara berkembang agar terus memberikan kontribusi dalam pengendalian perubahan iklim sesuai kapasitas.

Menindalanjuti kesepakatan ini, tegas Menteri LHK, setiap negara penting untuk melakukan internalisasi agreement ini dan menerjemahkannya menjadi kebijaan dan pendekatan di masing-masing negara untuk mencapai perubahan dengan sasaran global.

Siti Nurbaya mengatakan Indonesia sebagai negara berkembang yang sudah lebih maju dan aktif telah berada pada posisi tengah untuk terus melangkah maju. “Pekerjaan untuk mitigasi, yaitu pengurangan emisi di sektor kehutanan, energi. Industri dan transportasi harus diselesaikan,” tegasnya.

Kepentingan nasional lainnya yang masuk dalam Paris Agreement, menurut dia, adalah isu kelautan, pusat konservasi keanekaragaman hayati dan penegasan tentang REDD. “Mengenai pendanaan disebutkan bahwa negara maju seharusnya (shall) menyediakan dukungan finansial. Angka USD 100 Milyar per tahun tidak masuk dalam Pasal perjanjian, tapi masuk dalam keputusan yang diambil dalam COP,” ungkapnya.

Menteri LHK menyebutkan, Indonesia harus bekerja keras untuk memastikan kenaikan suhu bumi di bawah dua derajat celcius. Karena di Maroko pada COP 22 nanti, Indonesia harus bisa menunjukkan kepada dunia. (Arief Rahman Media)

LEAVE A REPLY