Parade Sasirangan demi Lestarikan Batik Banjar

0
384
Batik Sasirangan Banjarmasin (Foto: http://www.sesawi.net)

BANJARMASIN, bisniswisata.co.id: Ribuan orang mengikuti parade sasirangan dalam puncak rangkaian Banjarmasin Sasirangan Festival 2017 pada Ahad, 19 Maret 2017. Peserta parade yang mengenakan busana berbahan kain sasirangan itu terdiri dari aparatur sipil negara, anak-anak sekolah, dan masyarakat umum di Kota Banjarmasin.

Mereka berjalan kaki dari depan kantor lama Gubernur Kalimantan Selatan menuju menara pandang Sungai Martapura di Jalan Pierre Tendean, Kota Banjarmasin. “Saya ikut jalan kaki karena ingin melestarikan kain sasirangan, salah satu budaya Banjar,” ujar seorang peserta parade sasirangan, Ikhwan ketika tiba di lokasi menara pandang.

Ikhwan berharap keberadaan salah satu khasanah budaya Banjar itu tetap lestari di tengah aneka rupa pakaian modern. Selain parade jalan kaki, Pemerintah Kota Banjarmasin menyematkan status Duta Sasirangan terhadap Komisaris Utama PT Adhi Karya Tbk, Fadjroel Rachman.

Ia mengapresiasi inisiatif Pemkot Banjarmasin menggelar BSF 2017. Fadjroel berharap kabupaten/kota lain rutin menggelar even serupa dan meminta masyarakat Kalimantan Selatan ikut menggencarkan kain sasirangan. “Dalam acara-acara resmi selalu pakai sasirangan,” ujar dia.

Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina mengatakan setiap perajin dan pelaku industri sasirangan punyak hak dan kewajiaban yang sama untuk mengenalkan kain asli Banjar itu ke kancah dunia. Kementerian Perindustrian menawarkan sarana promosi lewat pameran tunggal sasirangan.

Khusus di Kota Banjarmasin, ia telah meneken peraturan walikota yang mewajibkan pegawai swasta dan aparatur sipil negara mengenakan hem berbahan sasirangan. “Perajin sasirangan harus berbenah dari dalam dulu dan harus bersama-sama mengenalkan kain sasirangan. Saya percaya kain sasirangan ini punya posisi tawar luar biasa di pentas nasional dan dunia,” kata Ibnu.

Selain lewat pameran dan intervensi aturan walikota, Ibnu berharap Presiden Joko Widodo melirik kain sasirangan untuk dikenakan sebagai pakaian resmi, selain batik asal Jawa. Sebab, kata Ibnu, kain sasirangan sebenarnya sejenis batik asli kebudayaan Banjar, Kalimantan Selatan.

“Kalau bisa, menteri-menteri pakai sasirangan. Mudah-mudahan sasirangan jadi salah satu kriya luar biasa dan ikon baru bagi Indonesia” ujar kader PKS itu.

Pemkot Banjarmasin mendata ada 18 motif sasirangan, di antaranya seperti kambang kacang, gigi haruan, daun jaruju, dan kambang sakaki. Ibnu pun mengingatkan perajin sasirangan mesti sanggup memenuhi permintaan ketika sasirangan mulai diminati pasar. Selain itu, Ibnu mendorong perajin sasirangan menjaga kualitas dan kuantitas mutu produksinya.

Ketua Dekranasda Kalimantan Selatan, Raudhatul Jannah, mengatakan promosi sasirangan mesti melibatkan semua pihak, baik pelaku industri, masyarakat, dan pemerintah daerah. Karena itu, Raudhatul turut menyokong upaya mengenalkan industri kreatif berbasis kain sasirangan di kancah nasional dan dunia.

Ia mengakui masih ada kendala sebagian perajin belum siap memenuhi permintaan dalam skala banyak. “Kalau banyak order tapi enggak diimbangi kualitas dan kuantitas, mana mau orang pesan lagi. Tolong jaga kualitas dan kuantitas kain sasirangan ini,” kata Raudhatul.

Sasirangan memang sangat identik dengan kota Banjarmasin. Sasirangan adalah batik khas Banjarmasin yang dibuat secara manual dan menjadi salah satu kerajinan tangan yang dibuat oleh masyarakat di Kota Seribu Sungai ini.

Mulanya, kain sasirangan dipergunakan oleh para bangsawan maupun rakyat Banjar untuk membuat pakaian adat dalam upacara-upacara adat yang digelar. Kain ini dipercaya sebagai “kain sakral” warisan abad XII saat Lambung Mangkurat menjabat sebagai Patih di Kerajaan Negara Dipa.

Kain ini merupakan hasil tapa semedi Patih Lambung Mangkurat di atas sebuah rakit “Balarut Banyu” (dihanyutkan oleh air) selama 40 hari 40 malam lamanya. Konon, di akhir tapa semedinya, Sang Patih tiba di daerah Rantau kota Bagantung. Di lokasi ini Patih Lambung Mangkurat menjumpai seonggok buih yang dari dalamnya muncul suara seorang wanita bernama Putri Junjung Buih. Sang Putri ini kelak akan menjadi Raja di tanah ini.

Singkat cerita, agak dapat muncul ke permukaan air, Putri Junjung Buih mengajukan 2 syarat yang harus dipenuhi oleh Patih Lambung Mangkurat. Syarat pertama, ia ingin dibuatkan sebuah bangunan istana Batung. Sedangkan syarat kedua, Sang Putri ingin dibuatkan selembar kain bermotif wadi yang ditenun dan dicalap (diwarnai) oleh 40 orang putri. Kedua syarat itu harus dipenuhi dalam waktu sehari. Kain “calapan” itulah yang nantinya dikenal dengan nama kain Sasirangan.

Di masa silam, kain Sasirangan mempunyai tiga bentuk atau model, yaitu: laung (ikat kepala), kekamban (kerudung) dan tapih bumin (kain sarung). Sebagai bahan pewarna diambil dari bahan bahan pewarna alam seperti jahe, air pohon pisang, daun pandan dan lain sebagainya. Dewasa ini penggunaan kain Sasirangan sudah semakin meluas dan menjadi salah satu bahan bermotif unik yang dipergunakan oleh para desainer busana. (*/TMO)

LEAVE A REPLY