Pantai Populer di Asia Tenggara Ditutup bagi Pelancong

0
78
Pulau Boracay Filiphina

BANGKOK, bisniswisata.co.id: Beberapa pulau dengan deretan pantai indah di Asia Tenggara menjadi terlarang bagi wisatawan mulai pertengahan tahun ini. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen pemerintah setempat untuk berupaya melindungi ekosistem pesisir dari ancaman pemanasan global.

Meski begitu, sebagaimana dilansir dari South China Morning Post, Rabu (28/3/2018), penutupan pantai-pantai tersebut berisiko mengancam kelangsungan industri pariwisata, yang salah satu dampak terburuknya adalah puluhan ribu orang terancam kehilangan pekerjaan.

Sejauh ini, baru pemerintah Thailand dan Filipina yang memberlakukan kebijakan ini. Kedua negara itu secara berkala akan menutup pantai wisata setiap tahunnya.

Di Thailand, pantai Maya Bay, terkenal karena menjadi lokasi pengambilan gambar film The Beach yang dibintangi Leonardo DiCaprio — akan ditutup selama empat bulan setiap tahunnya.

Sedangkan di Filipina, para pejabat berencana untuk menutup pulau Boracay selama enam bulan, dan dimulai setiap akhir April. “Kepulauan memiliki ekosistem yang sangat rapuh, dan tidak dapat menampung menangani begitu banyak orang, polusi dari kapal, beban bangunan hotel di tepi pantai,” kata Thon Thamrongnawasawat, seorang ahli kelautan di Bangkok.

“Terumbu karang telah terdegradasi oleh laut yang semakin hangat. Terkadang, penutupan lengkap adalah satu-satunya cara bagi alam untuk ‘menyembuhkan’ dirinya,” lanjutnya.

Menurut Thon, lebih dari tiga perempat terumbu karang di Thailand telah rusak akibat naiknya suhu laut, serta pariwisata yang tidak terkendali. Thailand sempat menutup puluhan lokasi wisata penyelaman pada 2011, setelah laut yang luar biasa hangat menyebabkan kerusakan parah pada terumbu karang di Laut Andaman.

Deretan pantai berpasir putih di negeri gajah putih telah mendukung pencapaian rekor jumlah kunjungan wisatawan tahun lalu, yang berkontribusi sebanyak 12 persen dari total pertumbuhan ekonominya.

Asia Tenggara diperkirakan akan menanggung beban besar akibat meningkatnya kerusakan terumbu karang. Hal itu berisiko mengurangi potensi pendapatan nelayan, dan juga mengancam beberapa negara kehilangan wilayah pesisir yang disebabkan oleh kian ganasnya gelombang laut.

Di Filipina, negara Asia Tenggara yang paling rentan terhadap perubahan iklim, dilaporkan sekitar dua juta orang mengunjungi Boracay tahun lalu, yang terkenal karena pantainya berpasir putih. Pada kunjungan bulan lalu, Presiden Rodrigo Duterte menyebut pulau itu seperti ‘septic tank’ karena banyaknya limbah dibuang ke laut.

Presiden Duterte mengingatkan bahwa bencana lingkungan akan kian mengancam, jika deretan bangunan menjulang di tepi pantai tidak segera ditertibkan. Sejalan dengan hal itu, lembaga pemerintah setempat telah merekomendasikan penutupan pulau selama enam bulan, untuk mulai memperbaiki masalah.

Organisasi operator tur di Boracaya mengatakan lebih dari 36.000 pekerjaan tengah terancam oleh regulasi tersebut. “Kami mendukung pemerintah dalam mengadopsi praktik pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, tetapi tidak dalam menutup seluruh pulau,” kata Asosiasi Agen Perjalanan Filipina.

Berbeda dengan di Thailand, pemerintah di sana memilih skema perbaikan lingkungan pesisir dalam jangka pendek. “Pariwisata itu penting, tetapi kita perlu melestarikan ruang-ruang ini untuk generasi masa depan kita, untuk penghidupan di masa depan,” ujar juru bicara pemerintah setempat. (DAY)

LEAVE A REPLY