OTA Asing Menyerang, Hotel Bintang Tiga Meradang

0
78

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengakui serangan Online Travel Agent (OTA) asing juga Airbnb cs, aplikasi penjualan kamar hotel berdampak pada terpukulnya bisnis hotel bintang tiga ke bawah. Bahkan, hotel bintang tiga kalah bersaing meski dilakukan strategi promosi dengan mengeluarkan anggaran lebih untuk operasional namun tak mampu hadapi serangan itu.

“Sekarang ini, hotel bintang tiga jadi segmen industri perhotelan yang paling terpukul atas serbuan OTA asing seperti AirBnB cs. Alasannya, target pasar yang saling beririsan antara hotel bintang tiga ke bawah dengan AirBnB cs. Saya enggak bisa jawab berapa besar kerugiannya, tapi yag pasti bintang tiga ke bawah kena dampaknya,” papar Wakil Ketua PHRI Rainier H. Daulay.

Tak cuma itu, lanjut Daulay, skema bisnis yang dijalankan AriBnB cs juga disebut PHRI membuat hotel bintang tiga kalah saing. Sebab, AirBnB berbagi keuntungan dengan pemilik properti. Sementara pihak hotel harus keluar uang cukup banyak untuk operasional mereka. Perbedaan komponen biaya tadi menyebabkan harga AirBnB bisa lebih murah ketimbang hotel bintang tiga ke bawah.

Meski demikian, Rainier mengaku sejauh ini belum ada hotel di PHRI yang kolaps akibat serbuan AirBnB. Hanya saja di luar PHRI, menurutnya sudah ada ratusan hotel di Bali, Yogyakarta, dan Bandung yang dijual ke pemilik baru akibat kalah bersaing.

Namun menurut Rainier, hal ini tak terjadi pada hotel bintang empat ke atas. Sebab menurutnya hotel bintang empat ke atas memiliki keunggulan dari segi layanan. “Turis inginnya nyaman dan aman, kalau AirBnB kan seperti nginap di rumah saja, pelayanannya ya sama aja,” tuturnya seperti dikutip laman CNNIndonesia, Ahad (03/12/2017).

Rainier berkata hotel-hotel yang tergabung dalam PHRI berusaha sekuat mungkin tidak menurunkan harga. Sebab sekali harga turun, mereka akan sulit menaikkannya kembali.

Mengenai tingkat okupansi hotel, PHRI mengaku tak punya data pastinya. Namun mereka berani mengklaim ada penurunan okpuansi yang terjadi. Padahal merujuk pada data Kementerian Pariwisata pada September 2017 menunjukkan tingkat keterisian atau okupansi hotel meningkat di Indonesia mencapai 50,42 persen atau naik 4,26 persen dari bulan sebelumnya.

Namun bila menilik data dari Indonesia Hotel Watch 2016, memang sempat terjadi penurunan okupansi hotel. Tapi, penurunan terjadi pada 2015 dengan tingkat okupansi 61,5 persen, ketimbang tahun sebelumnya yang mencapai 67,5 persen.

Ditambahkan, perlunya relugasi yang aman dan nyaman dalam mengatur OTA asing dan Airbnb. Regulasi dalam bentuk perizinan dan pembayaran kewajiban pajak harus dipenuhi oleh OTA asing dan platform sharing economy seperti Airbnb. Ia menilai, saat ini proses penarikan pajak dianggap rumit karena salah satu OTA besar belum memiliki kantor perwakilan di Indonesia, begitu pula Airbnb.

“Apa yang bisa dilakukan? Tentunya dia (Airbnb) harus punya izin, baik yang menyewakan apalagi Airbnb. Karena itu akan menjadi potensi pendapatan negara yang cukup besar. Potensinya triliunan,” sambungnya.

Anton Thedy selaku pemilik TX Travel berpendapat OTA tidak serta-merta mematikan industri hotel dan agen perjalanan dalam negeri. Ia pun mengusulkan untuk mengakali keberadaan AirBnB, pemerintah bisa meniru regulasi di negara tetangga. “Di sana untuk menyewa properti lewat AirBnB diwajibkan waktu menginap minimal lima hari untuk menghindari kerugian bagi industri hotel Indonesia,” pesannya.

Ditambahkan, salah satu regulasi yang dapat diterapkan untuk Airbnb adalah sistem harga yang fleksibel untuk sewa properti jangka pendek. Bercermin pada salah satu negara tetangga, biaya sewa untuk satu hari properti melalui Airbnb akan dikenakan harga minimum untuk 5 malam. Hal ini dilakukan untuk memastikan hotel yang memiliki izin sewa ruangan per hari tidak dirugikan dengan harga murah sewa penginapan yang ditawarkan oleh Airbnb.

“Jadi keberadaan Online Travel Agent (OTA) asing tidak serta-merta mematikan industri travel. Pasalnya, jasa tur yang ditawarkan oleh agen perjalanan masih dapat menguasai lebih dari 50 persen pasar,” lontarnya

Tak hanya itu, kelompok umur di atas generasi milenial yang tidak terlalu nyaman dalam menggunakan teknologi digital juga masih membutuhkan jasa pemesanan tiket melalui agen travel. Untuk itu Rainier menyatakan bahwa OTA memberikan dampak positif dan dampak negatif.

Salah satu dampak positifnya adalah hotel dengan jumlah ruangan yang sedikit tidak perlu mengeluarkan ongkos marketing karena iklan ruangan telah bermigrasi ke ranah online. Sedangkan, dampak negatif dari OTA adalah ketergantungan industri perhotelan terhadap sistem review yang terkadang tidak akurat karena tingkat subjektifitas tinggi yang mengikuti mood dan selera pengguna hotel, ucapnya. (berbagai sumber)

LEAVE A REPLY