Ordos Kota ‘ Hantu ‘ Yang Menjadi Pintu Gerbang Inner Mongolia

0
94

Rombongan charter flight Inner Mongolia di gerbang Thombs of Genghis Khan

ORDOS, INNER MONGOLIA, bisniswisata.co.id: Suara pramugari Citilink mengumumkan pesawat yang saya tumpangi segera mendarat di Ordos membuat kepala ini langsung menoleh ke jendela di sisi kanan pesawat.

Dari kejauhan tampak garis cakrawala yang mulai terang. Namun alam sekitar masih gelap meski diumumkan jam sudah menunjukkan 6 pagi atau jam 5.00 subuh waktu Batam saat pesawat charter Citilink menerabas awan langsung menuju Ordos, salah satu dari tiga kota besar di wilayah provinsi Mongolia Dalam atau disebut Inner Mongolia.

Untuk sesaat mata sibuk mencari kalau-kalau bandara yang dituju sudah terlihat. Tapi yang ada dalam suasana remang-remang adalah luasnya padang rumput dan bukit-bukit berwarna kecoklatan. Sebegitu luasnya tapi hanya satu-dua bangunan yang terlihat. Beberapa menit sebelum mendarat barulah terlihat pemandangan lampu-lampu kota dibalut kabut dan kesunyian.

Hanya ada tiga pesawat lokal yang parkir ketika pesawat Citilink mengambil posisi mendarat. Keluar dari pesawat meski baru berjalan dalam garbarata, hawa dingin sudah menusuk tulang. Padahal berjalan di jembatan berdinding dan beratap yang menghubungkan penumpang ke pintu ruang kedatangan di bandara.

Sepi petugas, sepi aktivitas, sepi penumpang. Saya langsung terbayang suasana kota hantu, julukan bagi Ordos yang menjadi pintu gerbang menuju kota-kota di Cina Utara ini. Maklum sebelum ikut trip ini saya sempat searching di internet tentang kota Ordos yang minim penghuni sehingga dijuluki kota hantu.

Suasana kota Odors, Inner Mongolia

Aktivitas di bandara didominasi 120 penumpang charter flight Citilink yang datang dari berbagai kota di Indonesia dan antri dengan tertib di bagian imigrasi. Meski penerbangan charter, 4 petugas imigrasi di bandara Ordos ini bekerja dengan ekstra hati-hati.

Akibatnya sampai jam 9 pagi rombongan kami masih berkutat di bandara. Sambil menunggu anggota rombongan lainnya saya berlama-lama di toilet untuk membersihkan muka dan mulut. Maklum programnya langsung ke obyek wisata Tombs of Genghis Khan jadi tidak ada rute ke hotel dulu.

Genghis Khan meninggal pada 18 Agustus 1227 namun tidak jelas dimana jasad dan makamnya. Obyek yang kami kunjungi ini menjadi situs museum yang berisi senjata, pakaian dan alat-alat perang lainya dari seorang penakluk dan pendiri imperium terbesar kedua dalam sejarah dunia.

Dialah yang menyatukan bangsa Mongolia dan kemudian mendirikan Kekaisaran Mongolia, penakluk sebagian besar wilayah di Asia, termasuk utara Tiongkok (Dinasti Jin), Xia Barat, Asia Tengah, Persia, dan Mongolia. Dia merupakan kakek Kubilai Khan.

Nah Kubilai Khan ini yang punya keterkaitan erat dengan Indonesia. Soalnya pada tahun 1293, Kubilai Khan atau Khan Agung dari Kekaisaran Mongol dan pendiri Dinasti Yuan ini mengirim invasi besar ke pulau Jawa dengan 20,000 sampai 30,000 tentara.

Sumber Wikipedia menyebutkan ini adalah ekspedisi untuk menghukum Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari, yang menolak membayar upeti dan bahkan melukai utusan Mongol.

Kembali pada kedatangan rombongan charter flight di bandara Ordos ini, fasilitas bandaranya cukup mewah dan modern untuk sebuah kota setara kabupaten di provinsi Mongolia Dalam ini. Provinsi ini beribukota di Hohhot dan kota utama lainnya di daerah ini selain Ordos diantaranya Baotou dan Chifeng.

Khusus Ordos yang dijuluki “ kota hantu” adalah karena niat pemerintah China membangun kota Ordos di tengah gurun Mongolia Dalam adalah untuk dihuni setidaknya 1 juta orang. Tulisan Raphael Olivier dari Daily Mail mengungkapkan bahwa pada 2005, pemerintah mulai menginvestasikan ratusan juta Renminbi untuk membangun infrastruktur dan properti di Ordos yang kaya dengan tambang batu bara.

Namun, kota modern yang dibangun lengkap dengan berbagai infrastrukturnya itu tak menarik minat warga China untuk tinggal di kota yang berjarak 560 kilometer dari Beijing itu sehingga fasilitas yang ada mubazir. Soalnya orang yang tinggal di kota seluas 354 kilometer persegi tersebut hanya 100 ribuan orang.

Teriakan Cecilia, guide lokal bus D yang saya tumpangi menghentikan aktivitas browsing yang saya lakukan lalu masuk ke dalam bus bersama teman-teman baru dalam tour Inner Mongolia dari 27 Oktober- 4 November 2017. Rombongan terbagi dalam 4 bus ini langsung akrab satu sama lain apalagi urusan foto bareng.

Keluar dari bandara Ordos jalanan tampak lengang dan memang menjadi pemandangan keseharian di kota Ordos yang disebut juga Kangbashi.  Guide kami dari Jakarta, Caca sudah didampingi Cecilia yang khusus mendampingi selama perjalanan di Ordos.

Pose depan patung Genghis Khan, spot paling diminati turis

Dalam perjalanan ke makam Genghis Khan kita bisa melihat fasilitas modern tersedia di kota ini mulai jalanan yang lebar, taman-taman kota, monumen-monumen megah, stadion sepak bola hingga museum dengan desain unik.

Setengah jam kemudian bus sudah sampai di lokasi. Halaman parkirnya luas dan pintu gerbangnya langsung menarik perhatian untuk foto bersama. Patung Genghis Khan sedang berkuda juga menjadi spot selfie semua anggota rombongan.

Banyaknya tangga menuju bangunan museum membuat langkah sebagian peserta terhenti dan memilih untuk foto-foto di taman atau menunggu di dalam bus akibat cuaca dingin dan hembusan angin yang cukup keras. Cuaca dingin selama 4 bulan menjadi alasan lain penduduk China enggan pindah tinggal di Ordos.

The Mausoleum of Genghis Khan

Rupanya perjalanan dihari kedua ini antar kota dan antar provinsi sehingga kami harus meninggalkan Inner Mongolia menuju Wu Zung di provinsi Ning Xia setelah makan siang. Tidak tanggung-tanggung perjalanan yang ditempuh sekitar 7 jam dari Ordos.

Sepanjang perjalanan, Caca yang kini ditemani guide lokal bernama Chang sibuk menterjemahkan dari bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia. Sementara guide sebelumnya busa berbahasa Inggris yang dikuasai pula oleh para peserta.

Keluar dari Inner Mongolia sepanjang perjalanan yang terlihat di kiri dan kanan adalah tanah pertanian gandum, jagung atau padang rumput yang semua daun dan batang pohonnya sudah menguning karena memasuki musim dingin.

Chang bercerita anak-anak petani umumnya harus kost dari Senin-Jumat untuk bisa sekolah di kota. Akhir pekan barulah mereka berkumpul bersama keluarga karena belum tersedianya transportasi cepat.

Jalan bebas hambatan yang kami lalui diapit padang rumput, tambang batu bara dan kincir-kincir angin pembangkit tenaga listrik. Dari kejauhan rumah petani atapnya datar saja dan rendah dengan empat jendela besar. Rumah yang dibangun harus menghadap ke Utara. Bila salah arah maka rumahnya berhawa dingin karena terpaan angin yang kuat.

Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 malam saat tiba di Wu Zung provinsi Ning Xia dan langsung check in di hotel Yanchi Fuhai. Hidangan makan malam sudah menunggu di restoran hotel dengan menu yang lebih variatif dan banyak pilihan buat yang sudah harus diet dari makanan berminyak.

Pembagian kamar hotel yang sudah diinfokan di dalam bus dan penyerahan kunci saat santap malam membuat saya ingin cepat-cepat naik ke lantai enam bertemu kasur dan bantal. Rupanya sebagian besar peserta berpikiran sama sehingga kami harus antri naik liftke kamar-kamar masing-masing.

Untunglah mandi dan beribadah menjadi prioritas begitu tiba di kamar. Apalagi fasilitas kamar hotel berbintangnya seperti di tanah air sehingga benar-benar menikmati tidur pulas.

 

LEAVE A REPLY