Nglanggeran, Yogyakarta , Kini Jadi Pusat Studi Banding Desa Wisata

0
154

Sugeng Handoko ( duduk paling kiri) bersama delegasi Asean yang berkunjung ke Desa Wisata Nglanggeran, DIY.

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Desa Nglanggeran, Patuk, Gunung Kidul, DI Yogyakarta kini menjadi pusat studi banding desa wisata yang menarik minat pengelola desa wisata lainnya di tanah air maupun negara-negara Asean untuk mempelajari kesuksesan desa ini memakmurkan warga dan menjadi magnet pariwisata.

“ Setelah ditetapkan sebagai salah satu Desa Wisata Terbaik ASEAN 2017 setiap minggunya kami disibukkan dengan kunjungan studi banding dari berbagai pengelola desa wisata, instansi dan organisasi internasional,” ungkap Sugeng Handoko, Ketua Pengelola Desa Wisata Nglanggeran, hari ini.

Pekan lalu, tambahnya, kunjungan studi banding tentang BUMDesa dari Ciamis, dan juga dari DPRD Klungkung Bali terkait pengelolaan Desa Wisata. Setelah itu ada dua group lainnya yaitu dari Bengkulu yang melakukan kunjungan untuk belajar tentang beragam olahan coklat ( kakao) serta kunjungan dari 9 delegasi negara Asean.

Desa Nglanggeran lokasinya hanya berjarak 22 kilometer (km) dari Wonosari, ibu kota Kabupaten Gunung Kidul, atau 25 km dari Yogyakarta dan berada di kaki Gunung Api Purba Nglanggeran.Obyek wisatanya yang terkenal selain gunung api purba adalah embung besar.

Gunung yang aktif sekitar 70 juta tahun lalu dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut ini dikembangkan oleh masyarakat setempat menjadi salah satu objek wisata alternatif yang menawarkan keunikan bentang alam yang tersusun dari material vulkanik tua.

Gunung api purba merupakan gunung batu dari karst atau kapur dengan luas kawasan pegunungan mencapai 48 hektar. Jutaan tahun lalu, gunung itu pernah aktif dengan bagian puncak yang disebut Gunung Gedhe cukup dicapai dengan mendaki selama 1,5-2 jam.

Sugeng mengakui desanya seringkali menjadi tujuan studi banding. Apalagi setelah memperoleh penghargaan sebagai Desa Wisata Terbaik Indonesia dan menerima penghargaan ASEAN Community Based Tourism (CBT) Award 2017, yang di serahkan di Singapura, Jumat 20 Januari 2017 sehingga popularitas dan frekwensi kunjungan langsung meningkat.

“ASEAN CBT Award 2017 ini dilaksanakan dalam rangka kegiatan ASEAN Tourism Forum 2017, dan penghargaan ini berkat kerja keras seluruh masyarakat Desa Nglanggeran dan instansi Pemkab Gunungkidul yang terus mendukung, Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran, sampai terkenal seperti sekarang ,” Sugeng Handoko.

Oleh karena itu pekan lalu warga desanya disibukkan dengan kedatangan delegasi Asean diantaranya Filipina,Malaysia, Thailand, Brunei Darusalam, Vietnam, Laos, Myanmar, Kamboja dan utusan dari Indonesia sendiri.

Kunjungan Delegasi ASEAN ini merupakan rangkaian kerjasama Indonesia dengan ASEAN yakni Regional Programme for Capacity Development for Enhance Accountability of Local Governments in Delivering Social Protection Programs through Communitiy-Driven Development.

“ Tahun ini Indonesia sebagai tuan rumah. Salah satu kunjungan lapangannya adalah ke Gunungkidul, mengunjungi 3 Desa diantaranya Desa Nglanggeran, Desa Ngalang dan Desa Sawahan. Group besar berjumlah 60an orang dibagi menjadi kelompok kecil masing-masing 20 orang,” jelas Sugeng

Tahun ini Sugeng juga terpilih sebagai salah satu dari 7 juri nasional Kompetisi Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis) yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata di bawah Asdep Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat, Oneng Setyo Harini MM.

Di Desa Nglanggeran kelompok kecil mengunjungi beberapa hasil dari Program PNPM Perdesaan maupun PNPM Pariwisata, diantaranya talud kawasan wisata, MCK Standart Wisman, Sekretariat Pokdarwis, Warung Kawasan Gunung Api Purba dan Wahana Flying Fox .

LEAVE A REPLY