Nahkoda Kapal Wisata Wajib Mengantongi Lisensi

0
256
Kapal wisata di Labuan Bajo (Foto: IBeNimages & Words)

KUPANG, Bisniswisata.co.id: Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Nusa Tenggara Timur (NTT) mendesak para pemilik kapal wisata di Labuan Bajo, Pulau Flores yang menggunakan nahkoda wajib memiliki lisensi. Tujuannya kapal-kapal pengangkut wisatawan di Labuan Bajo yang dioperasikan para nahkoda profesional untuk mencegah kecelakaan laut yang membahayakan nyawa wisatawan.

“Nahkoda kapal-kapal wisata itu harus berlisensi atau memiliki sertifikat yang memang basic pengetahuannya betul-betul menjadi nahkoda kapal,” kata Wakil Ketua Asita NTT Yohanes Rumat di Kupang, Kamis (3/8/2017).

Anggota DPRD Provinsi NTT itu mengaku menyayangkan sejumlah peristiwa kecelakaan laut yang menimpah kapal-kapal pengangkut wisatawan di Labuan Bajo belakangan ini. Dicontohkan, kecelakaan laut pada 23 Juli menimpa sebuah perahu yang ditumpang enam orang termasuk empat wisatawan manca negara tengelam di perairan Taka Makassar, Labuan Bajo.

“Bahkan kita ikuti selama dua-tiga bulan terakhir ini beberapa peristiwa kapal pengangkut wisatawan yang karam di sekitar Labuan Bajo menjadi sorotan,” katanya.

Menurutnya, yang terjadi selama ini di Labuan Bajo, kapal-kapal nelayan maupun pengangkut barang juga dimanfaatkan untuk mengangkut wisatawan ke destinasi wisata pulau-pulau kecil seperti Padar, Rinca, Komodo, dan lainnya.

Untuk itu, Yohanes memandang penting adanya penertiban dari pemerintah daerah setempat berkoordinasi dengan pihak asosiasi kapal setempat untuk memeriksa standar kapal dan nahkodanya.

Asita sebagai bagian dari pelaku pariwisata menginginkan agar semua komponen tersebut bersatu melakukan penertiban untuk memastikan agar peristiwa tenggelamnya kapal pengangkut wisatawan tidak berkelanjutan. “Ini untuk menjaga agar pariwisata kita di NTT yang semakin tersohor tidak tercoreng dengan peristiwa semacam ini yang berdampak pada berkurangnya arus kunjungan wisatawan,” katanya.

Dilanjutkan, para wisatawan yang datang juga menginginkan harga transportasi kapal penyeberangan murah namun tidak memperhitungkan lagi profesionalisme pelayanan. “Para wisatawan ini bernegosiasi harga sendiri dengan nahkoda kapal-kapal nelayan bahkan yang kecil-kecil sehingga sulit dipantau secara profesional,” katanya.

Untuk itu, ia berharap agar wisatawan baik domestik maupun mancanegara menggunakan jasa agen lokal yang betul-betul bertanggung-jawab.
“Kalau kami di travel agen sebagai pelaku sejak awal kapal-kapal diperiksa kelayakannya, bagaimana kondisinya mesin, lambung kapal, pelampung, kesiapan nahkoda, sehingga kalau memang tidak layak maka kami pindah ke kapal lain,” katanya. (*/ANT)

LEAVE A REPLY