Muslim Indonesia Contoh Konkrit Hidup Bersama Dalam Keberagaman Agama

0
76

Wisatawan Muslim berwisata ke Candi Borobudur

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Masyarakat Muslim di Indonesia menjadi contoh dunia bagaimana hidup bersama saling berdampingan dengan penuh rasa hormat, kata bikkhu Doctor Achan Vichien, Comittee International Tipitaka Chanting, hari ini.

“Perayaan Waisak yang baru lalu menjadi contoh nyata bagaimana para umat Muslim dan umat beragama lainnya di Yogyakarta bergabung di Candi Borobudur dan menyambut para bikkhu mancanegara dengan penuh cinta kasih dan senyum tulus,” ujarnya.

Pria yang menjadi kepala di empat biara Buddha di negara asalnya Thailand maupun India ini mengatakan cap negara teroris tidak berlaku. Kesaksiannya selama berada di Magelang dan Yogyakarta justru melihat keharmonisan hidup masyarakat dari multi etnis dan agama beragam sejalan dengan ajaran Buddha.

Menurut Achan, solidaritas dan kerukunan hidup beragama di Yogya sudah bisa mewakili bangsa Indonesia yang  sejalan dengan ajaran 8 jalan kemenangan yang diajarkan sang Buddha Sidharta Gautama.

“Dalam agama kami ada Pañña yaitu
Pengertian Benar, Pikiran Benar,Ucapan Benar, Perbuatan Benar,  Pencaharian Benar, Daya-upaya Benar, Perhatian Benar dan konsentrasi Benar. Kalau kita hidup dengan benar dan respek terhadap sesama manusia dan alam semesta maka living harmony yang saya lihat di Indonesialah yang dibutuhkan masyarakat dunia sekarang,” tegasnya.

Berbicara sebelum kembali ke negaranya, Doctor Achan Vichien menyatakan rasa terima kasihnya pada Kementrian Pariwisata yang mengundangnya untuk mengikuti Famtrip dan juga pada pemerintah Indonesia yang telah menjaga dan melestarikan  Candi Borobudur hingga saat ini menjadi tempat agung bagi umat Buddha.

“Candi Borobudur itu situs warisan dunia yang umurnya sudah lebih ribuan tahun. Jujur saya baru pertama kali datang dengan informasi minim tentang sejarah Borobudur,” jelasnya.

Setelah datang dan menyaksikan sendiri keagungan Borobudur maka dia merasa setiap bikkhu di dunia ini patut belajar dari ribuan relief di dinding Candi Borobudur. Buddha lahir di Lumbini, Nepal dan menyebarkan agamanya di India, itu sebabnya para bikkhu umat Buddha seperti wajib ke India.

“Candi Borobudur  bisa menjadi tanah sucinya umat Buddha karena menjadi warisan ajaran sang Buddha yang sangat lengkap. Sebelum datang saya tidak mengira bangunannya begitu besar dikelilingi alam yang indah,”

Doctor Achan Vichien ( pegang kipas) di Keraton Yogyakarta

Doctor Achan Vichien yang memimpin Thai temple Srirajgir, Rajgir, Thai temple Asokaram, Bodhgaya, Chinesee temple Varanasi dan Thai temple Kolkata mengatakan akan mengajak para bikkhu dan umatnya untuk segera melakukan ibadah di Candi Borobudur terutama saat meditasi Sunrise Prayer.

Hal yang sama diungkapkan Ven M.A. Thick Minh Ly, bikkhu asal Vietnam. Dia mendukung pertukaran program para bikkhu dan mengemas paket tour holyland bagi umat Buddha untuk datang ke Candi Borobudur.

“Borobudur itu sumber ilmu pula bagi umat Buddha dan ketika melakukan Sunrise Prayer kami mengalami perjalanan spiritual yang dasyat apalagi candi ini merupakan model alam semesta untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha,” kata Thick Minh Ly.

Pihaknya juga  mendukung Borobudur sebagai holyland dan pusat penyelenggaraan UN Waisak dimana Vietnam akan menjadi tuan rumah yang ke tiga kalinya pada 2019. Dua perayaan sebelumnya sukses di laksanakan di candi Bai Dinh di Provinsi Ninh Binh, Vietnam

Baik Doctor Achan Vichien dan Thick Minh Ly mengatakan Famtrip dukungan perayaan Waisak dari Kementrian Pariwisata dari 27 Mei hingga 1 Juni 2018 ini memberikan wawasan baru berwisata ke negara Muslim terbesar di dunia dengan dengan rasa persaudaran dan pengalaman spiritual yang tinggi.

Peserta selain beribadah dan mengikuti prosesi Waisak juga mendapat pengenalan obyek wisata di kawasan Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah dan Yogyakarta  untuk jurnalis dan bikkhu Buddha dari Thailand dan Vietnam sebanyak 16 orang. Mereka juga mengunjungi Candi Prambanan, Ratu Boko dan candi lainnya.

“ Kami juga berkesempatan berkunjung ke desa, berinteraksi dengan masyarakat secara langsung dan mendapat pengalaman kuliner dan wisata budaya,” kata Achan Vichien dengan rasa puas.

LEAVE A REPLY