Muntok Berambisi Bentuk Desa Wisata

0
59
Pesanggrahan Muntok

MUNTOK, Bisniswisata.co.id: Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, berambisi membentuk desa wisata untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata.

“Tahun ini kami mempunyai program sosialisasi desa wisata untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar memiliki keinginan untuk membangun kepariwisataan berbasiskan potensi desa masing-masing,” kata Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat, Ichsan Saufani dalam keterangan resminya, Kamis (16/11/2017).

Dalam sosialisasi mengundang kepala desa, tokoh masyarakat, dan pemuda agar memiliki kesamaan pandangan dalam membangun kepariwisataan berbasis desa wisata. “Kami berikan contoh desa-desa wisata yang sudah ada, baik di Pulau Jawa dan satu yang ada di Belitung, kami berharap upaya tersebut mampu menggerakkan warga desa bisa berusaha dari hal-hal kecil yang dibutuhkan dalam membangun kepariwisataan daerah,” katanya.

Dalam pembangunan desa wisata, kata dia, pemkab akan membantu desa yang benar-benar berpotensi untuk dibangun dan memenuhi beberapa persyaratan. “Nanti akan dilakukan seleksi dan penilaian sesuai persyaratan, meliputi posisi geografis desa, potensi desa, dan prestasi desa,” katanya.

Menurut Ichsan Saufani, pesta adat Rebo Kasan yang digelar pada Rabu ini, sudah dimasukkan dalam kalender kegiatan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat sehingga daerah akan terus membantu masyarakat agar kegiatan bisa terus dilestarikan.

“Silakan masyarakat Desa Airnyatoh kembangkan potensi-potensi yang ada di desa agar pariwisata semakin berkembang dan jika memenuhi persyaratan, kami siap membantu untuk dimulai pembangunan desa wisata di desa tersebut,” katanya.

Ada tiga obyek wisata menarik di Muntok Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Selain wisata bahari, Muntok memiliki tempat-tempat bersejarah. Tokoh-tokoh penting zaman kemerdekaan banyak diasingkan ke Bangka.

Pasca Agresi Militer Belanda di Yogyakarta tahun 1949, Presiden Soekarno (Bung Karno) dan Wapres Mohammad Hatta (Bung Hatta) dan para tokoh lainnya diterbangkan ke Muntok dengan alasan supaya terisolir dari pergaulan dunia internasional.

Juga Sekitar tahun 1724-1725, Sultan Mahmud Badaruddin I memerintahkan kepada istri dan para petinggi kesultanan untuk berangkat dan melihat serta memastikan lokasi yang akan dipilih untuk tempat tinggal keluarga dari Siantan, salah satu negeri di bawah kekuasaan Kesultanan Johor.

Muntok sebagai Kota Timah dan Kota 1.000 Kue, segala jenis wisata yang disukai wisatawan ada semua di Muntok. Ada wisata sejarah, wisata alam, wisata pendidikan, wisata bahari. Semua ada di Muntok. Ada juga kelenteng dan masjid berdampingan.

Ada tiga destinasi wisata di Muntok yang sarat dengan sejarah perjalanan bangsa.

# Pesanggrahan Menumbing
Pesanggrahan Menumbing merupakan destinasi wajib dikunjungi para pelancong. Jaraknya 12 kilometer dari kota Muntok. Pasalnya, di tempat dengan ketinggian 445 meter di atas permukaan laut (mdpl) inilah para tokoh kemerdekaan, Bung Karno dan Bung Hatta diasingkan Belanda pasca Agresi Militer Belanda di Yogyakarta. Mereka diasingkan ke Muntok untuk membatasi pergaulan para tokoh ini dengan dunia internasional. Selain Bung Karno dan Bung Hatta, para tokoh yang turut diasingkan ke Muntok adalah A Gafar Pringgodigdo, Ass’aat, Surya Darma, Ali Sastroamidjojo, Moh Roem, dan H Agus Salim.

Penjaga Pesanggrahan Menumbing, Mas Sutejo dengan ramah akan menunjukkan dan menjelaskan secara detil ruang-ruang bangunan yang dibangun tahun 1928 itu kepada wisatawan yang datang. Setelah memasuki ruang tamu, wisatawan akan melewati sebuah aula. Dulunya aula ini merupakan penjara untuk para tokoh republik sebelum dialihfungsikan sebagai tempat sidang tentara Belanda.

Di pojok ruangan terdapat mobil Ford Deluxe 8 silinder berpelat BN 10 yang sering digunakan Bung Hatta bolak-balik Muntok-Menumbing. Kamar Bung Karno ada di pojok ruangan. Suasana masih dipertahankan sesuai aslinya. Bung Karno sempat diasingkan di Pesanggrahan Menumbing. Namun karena tidak tahan dengan udara dingin, Bung Karno minta dipindahkan ke Pesanggrahan Muntok atau Wisma Ranggam.

Setelah tanggal 5 Juli 1949 diumumkan pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Yogyakarta, maka tanggal 6 Juli 1949, Bung Karno dan Bung Hatta serta para tokoh nasional itu diterbangkan ke Yogyakarta.

# Museum Timah
Banka Tin Winning (BTW) merupakan Kantor Pertambangan Timah Bangka pada zaman Belanda ini didirikan tahun 1915. Awalnya gedung ini bernama Hoofbureau Banka Tinwinning Bedriff sekaligus pusat pemerintahan (residen) Belanda di Pulau Bangka. Museum Timah ada dua di Pangkalpinang dan Muntok. Museum Timah di Jalan Jenderal Soedirman Muntok merupakan aset PT Timah ini terdiri dua lantai. Lantai pertama diisi berbagai macam galeri pertimahan. Lantai dua ruang perpustakaan, kantor, auditorium dan lain-lain.

Di Museum Timah ini, wisatawan juga membaca pengakuan Suster Vivian Bullwinkel yang selamat dari pembantaian tentara Jepang. Kisahnya bermula tanggal 22 Februari 1942 ketika sekitar 65 perawat Angkatan Darat dari Rumah Sakit Umum Australia hendak kembali ke Australia menggunakan KM Vyner Brooke.

Saat berlayar 14 Februari 1942 kapal tersebut dibom pesawat tentara Jepang di perairan Selat Bangka yakni di Pantai Radji, kawasan Tanjung Kelian. Akibatnya 12 perawat hilang dan 22 lainnya berhasil mencapai pantai utara Pulau Bangka dengan naik sekoci dan sebagian lagi berenang. Saat mendarat di pantai, mereka ditawan tentara Jepang. Tanggal 16 Februari 1942 mereka dibawa ke pantai dan ditembak.

Suster Vivian selamat karena pura-pura tewas dengan menjatuhkan diri di antara teman-temannya yang telah tertembak. Dari 65 perawat tersebut, 24 perawat, termasuk Vivian yang selamat dan kembali ke Australia setelah Perang Dunia II usai. Tanggal 2 Maret 1993, Vivian mengunjungi Muntok untuk meresmikan monumen di Tanjung Kelian atas nama Pemerintah Australia.

# Pesanggrahan Muntok
Pesanggrahan Muntok dikenal dengan Wisma Ranggam. Pesanggrahan ini dibangun 1827 oleh Banka Tin Winning (BTW), sebuah perusahaan tambang timah pada masa kolonial Belanda dijadikan tempat peristirahatan karyawan perusahaan timah. Bung Karno menempati Pesanggrahan Muntok karena tak tahan dengan hawa dingin Pesanggrahan Menumbing. Bersama Agus Salim, Bung Karno menempati Pesanggrahan Muntok pada 6 Februari 1949 hingga 6 Juli 1949. Tempat ini merupakan lokasi serah terima Surat Kuasa Kembalinya Pemerintahan RI ke Yogyakarta dari Ir Soekarno kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX Juni 1949. Surat kuasa itu dikonsep Bung Hatta di Pesanggrahan Menumbing dan diketik Abdul Gafar Pringgodigdo. (*/BBS)

LEAVE A REPLY