Monalisa Umaryadi Berkomitmen Bangun Pariwisata Kabupaten Pesisir Barat krui

0
573

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Nama Hotel Stabas melegenda sebagai hotel pertama dan tertua di kawasan Teluk Stabas, Krui, ibukota Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Sejak jaman dulu, wisatawan mancanegara sudah menyinggahi kota ini untuk berselancar ( surfing) dan menginap di hotel itu.

Monalisa Umaryadi, pemilik dua jaringan hotel di Krui, Lampung.

Kejelian almarhum nenek Rakena Suri melihat peluang usaha akomodasi di tahun 1960 an memang patut diacungi jempol. Soalnya hingga sekarang hotel yang terletak di pusat kota Krui itu masih berdiri tegak bahkan fasilitasnya telah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat modern saat ini.

“Pemilik Hotel Stabas nenek saya sendiri ( Rakena Suri ) dan setelah beliau meninggal pengelolaan hotel diwariskan pada salah satu putrinya. Tahun 2002 hotel mulai ditawarkan oleh tante Rum pada para cucu. Dua tahun kemudian akhirnya saya bisa membelinya,” ungkap Monalisa Umaryadi, pengusaha dan pemilik dua jaringan hotel di Krui itu, hari ini.

“Kami memiliki hotel Monalisa Stabas di tepi jalan utama dengan fasilitas 20 kamar serta Monalisa Stabas Villa beralamat di Jl. Wisata Walur, tepat dipinggir pantai, Krui, tempat yang pas untuk menikmati sunset” ujarnya berpromosi.

Dari zaman dahulu Krui sudah mempunyai pelabuhan yang ramai, banyak kapal – kapal besar dari berbagai daerah datang ke pelabuhan Krui. Pelabuhan itu dahulu berada di muara Way Krui di pekon Pedada – Penggawa Lima.

Wikipedia menyebutkan bahwa Krui masuk dalam Peta pelayaran Nusantara pada tahun 1411 M dan di Pulau Sumatera itu hanya terdapat beberapa kota pelabuhan.Kota-kota pelabuhan yang dimaksud adalah Pasee (NAD), Andripura (Indrapura, Riau), Manincabo (Padang, Sumbar), Lu-Shiangshe (Provinsi Bengkulu), Krui, Liamphon (Lamphong atau Lampung), Luzupara (Kemungkinan daerah Tulang Bawang atau Manggala), Lamby (Jambi), dan nama negeri Crïviyäyâ terletak di Musi Selebar.

Hotel Stabas yang kini namanya menjadi Hotel Monalisa Stabas terletak di JL. Kesuma, No. 12, Ps. Krui, Pesisir Tengah, Pesisir Barat, Lampung 35132. Lokasinya berdekatan dengan Kuala Stabas, nama pelabuhan dan desa nelayan yang terletak di Kelurahan Pasar Krui, Kecamatan Pesisir Tengah.

Kuala ini selain digunakan tempat berlabuh perahu juga ajang transaksi perdagangan ikan antara nelayan lokal dengan mereka yang datang dari pulau Jawa dan Makassar. Kehadiran para pelaut dan pendatang untuk berdagang mencari terutama damar,kopi dan hasil kebun lainnya membutuhkan akomodasi hotel.

Monalisa yang akrab dipanggil Lisa mengatakan terjunnya kebisnis pariwisata karena sejak kecil di Hotel Stabas yang sekaligus rumah nenek itu sudah sering bertemu dengan turis asing.

“Pernah ketika remaja sekitar tahun 1988 ada pasangan suami istri yang menginap di hotel Stabas dengan membawa mobil seperti Hammer di jaman ini tapi fungsinya bisa jadi akomodasi juga seperti mobil caravan di film-film,” ungkap Lisa.

Mereka bersafari dari Jakarta hingga Aceh menuju titik Nol. Petualangan dengan mengendarai mobil itulah yang membuat Lisa ingin banyak lebih tahu aktivitas mereka di pantai. Selama di Krui pasangan itu sering memarkir mobilnya di tepi pantai dan barbeque membeli ikan langsung dari nelayan.

“Saya ingin mengenal mereka lebih jauh karena itu saya ajak guru bahasa Inggris di sekolah untuk mengobrol dengan tamu di hotel Stabas itu. Barulah akhirnya saya paham di mata bule-bule itu pantai-pantai di Indonesia termasuk di Krui indah-indah sekali,” tambahnya.

Selain memiliki sedikitnya 20 pantai yang indah, Kabupaten Pesisir Barat sejak jaman Belanda menjadi daerah penghasil getah damar terbesar di dunia, di kenal dengan nama damar mata kucing untuk industri kosmetik, farmasi, bahan vernis, cat, pelapis kaca, dan lainnya.

Bermain di Kuala Stabas juga menjadi bagian masa kecilnya yang indah terutama di atas bukit Selalaw. Di kawasan ini sejak dulu hingga sekarang selain digunakan tempat berlabuh perahu juga ajang transaksi perdagangan ikan antara nelayan lokal dengan mereka yang datang dari pulau jawa dan Makassar.

Untuk menenuhi kebutuhan akomodasi bagi para pendatang itulah hotel Stabas yang berawal dari rumah tinggal keluarga Rakena Suri kemudian membuka pintunya untuk para tamu dengan mengoperasikan 7 kamar.

Wisatawan asing yang mulai berdatangan sejak tahun 1960 an itu banyak mengandalkannya sebagai homestay. Kebetulan putra putri dari janda enam anak ini sebagian besar kuliah di Jogyajarta sehingga kamar-kamar rumahnya kosong dan bisa disewakan untuk para tamu.

“ Seingat Lisa, setelah hotel Stabas yang tertua, ada dua hotel lainnya yang beroperasi dan berdekatan. Akomodasi hotel di pinggir pantai Tanjung Setia yang menjadi area utama lokasi surfing baru muncul di akhir tahun 1990 an,” ungkap Monalisa yang menjadikan nama Hotel itu kini menjadi Hotel Monalisa Stabas dengan fasilitas 23 kamar.

Pengusaha wanita yang lahir dan besar di Krui ini setamat SMA hijrah ke Jakarta dan belajar mengenai perhotelan. Dia juga sempat bekerja di jaringan hotel Sahid Group di Jl Sudirman, Jakarta dan di Cikarang, Jawa Barat.

Bakat berdagang rupanya sudah muncul sejak masa gadis sehingga ketika menjadi pegawai hotel Lisa sudah nyambi jualan berbagai kebutuhan sesama staf hotel. “ Dulu waktu bekerja di hotel, staf wanita pakaiannya mini dan pakai stocking. Nah kaus kaki panjang warna kulit hingga ke atas pinggang itu jualan laris saya” kata Lisa tergelak.

Selain itu baju-baju serta perhiasan mutiara yang ditawarkan pada sesama karyawan juga laris manis karena bayaran boleh cicil setelah gajian sehingga Lisa bisa mendapatkan penghasilan jauh lebih besar dari gaji yang diterima setiap bulan.

Bersuamikan Arif Umaryadi, pria asal Banjarnegara, Jawa Tengah yang sama-sama bekerja di hospitality Industry, bisnis pertama yang mereka bangun berdua setelah menikah justru bisnis ritel garment dan perhiasan mutiara yang sudah laris dijualnya sejak masa gadis

Asyik mendalami bisnis perhiasan yang menyita waktu dan perhatian, baik Arif yang bekerja di jaringan Hotel Hyatt maupun Lisa di Group Sahid Hotels akhirnya meninggalkan pekerjaannya dan beralih menjadi pengusaha UMKM, membina sejumlah perajin perhiasan di workshopnya di kawasan Permata Hijau, Jakarta.

“Kami fokus membangunan jaringan pemasaran langsung ke berbagai daerah di Indonesia karena untuk perhiasan selain nilainya tinggi butuh sentuhan personal,” kata Lisa yang membuka Toko Monalisa di Blok M pada 1997 dan di Plaza Semanggi, Jakarta.

Perjalanan bisnis dari Sabang hingga Merauke membuat pasangan ini menjadi cinta tanah air dan kuliner Indonesia. Pengalaman berwisata ke mancanegara sejak anak-anak masih kecil juga menuntun Lisa segera mengambil alih kepemilikan Hotel Stabas yang ditawarkan padanya pada 2002.

Wanita cantik berkulit putih yang berdomisili di Jakarta ini kemudian merambah ilmu ke luar negri dan rajin hadir di pameran perhiasan seperti di Hongkong. Produk perhiasannyapun berkembang tidak terbatas hanya mutiara tapi juga batu-batu mulia terutama berlian.

Setelah membeli tanah di tepi pantai, lima tahun terakhir ini lisa fokus membangun Monalisa Stabas Villa dan kini tengah menambah fasilitas dengan ruang pertemuan dan restoran

“Monalisa Stabas Villa yang berada di pinggir pantai ini kamarnya yang siap pakai kini baru 16 kamar, sisanya sedang ditata ulang mengawali tahun 2017. Tanah di pinggir pantai jalan Wisata Walur, Krui ini dibeli gara-gara setiap pulang anak-anak selalu langsung cari pantai hingga akhirnya kami membeli tanah di sini,” kata ibu empat anak ini.

Keputusannya membeli tanah itu pada tahun 2005 ternyata tepat. Krui kini adalah ibukota Kabupaten Pesisir Barat, dimana sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Lampung Barat. Maka Daerah Otonomi Baru (DOB) inipun disahkan sebagai Kabupaten Pesisir Barat, oleh pemerintah pusat pada Bulan April 2013 lalu

Menurut dia totalitas dalam memperjuangkan kota pemekaran yang berdiri sendiri juga dilakukannya bersama tokoh-tokoh masyarakat setempat hingga akhirnya Krui saat ini telah menjadi Kabupaten yang mandiri. Wanita yang aktif di Partai Nasdem ini berharap bisa segera memajukan daerah pemekaran ini sebagai destinasi wisata surfing.

Ada sebelas kecamatan diwilayah Kabupaten Pesisir Barat, yaitu Kecamatan Bengkunat Belimbing, Bengkunat, Ngambur, Pesisir Selatan, Krui Selatan, Pesisir Tengah, Way Krui, Karya Penggawa, Pesisir Utara, Lemong, dan Pulau Pisang, salah satu ikon pariwisata.

Investasi dibidang pariwisata menurutnya sudah tepat karena sebagai daerah pesisir, Krui memiliki potensi pariwisata terutama wisata pantai. Potensi Krui sebagai daerah tujuan wisata sudah terkenal sampai mancanegara. Wilayah ini sering dikunjungi wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara, dengan tujuan utama untuk berselancar.

“Dulu waktu suka berwisata ke Bali dan duduk dipinggir pantai sering bermimpi Krui bisa seperti Bali. Alhamdulilah belakangan ini arus kunjungan wisata ke wilayah ini semakin meningkat dengan gencarnya promosi dan event tahunan. Tahun 2018 insya Allah Tanjung Setia, Krui tempat berlangsungnya Asian Games cabang olahraga Surfing,” jelas Lisa.

Ke depan, wilayah ini diproyeksikan menjadi salah satu tujuan wisata unggulan dengan dibukanya lapangan terbang Seray sebagai sarana transportasi cepat menuju wilayah ini dengan Susi Air, terbang 30 menit dari Bandara Raden Inten II Bandar Lampung menuju Krui.

Menyinggung propertinya di pinggir pantai, Monalisa Stabas Villa yang bangunan intinya rumah Joglo, Jawa Tengah, Lisa mengatakan fasilitas yang ada banyak dimanfaatkan kalangan pemerintahan dan swasta untuk acara-acara internal.

“Suami sayakan asalnya dari Jawa Tengah jadi bangunan inti rumah gaya joglo, sedangkan kamar-kamar lainnya dalam bentuk cottage kayu yang diberi nama sesuai nama ikan seperti Tuna, Octopus dan sebagainya” ungkapnya.

Villa yang menghadap pantai ini berhadapan langsung dengan lautan Samudra Hindia dan Pulau Pisang, salah satu obyek wisata penghasil kain tapis Krui yang menjadi tempat nyaman untuk menikmati sunset atau sekedar bermain air di pasir putih.

“SDM inti memang masih dari Jawa tapi untuk tenaga kerja lainnya diberdayakan dari masyarakat di lingkungan. Saya optimis Krui sukses mengusung pariwisata sebagai penggerak ekonomi daerah,” tandasnya menutup obrolan. ( Hilda Ansariah Sabri).

LEAVE A REPLY