Model Bule Kian Banjiri Jagat Fashion Indonesia

0
352

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pengamat Mode Sonny Muchlison menilai ada beberapa hal yang menyebabkan model-model bule membanjiri jagat fashion Indonesia. Pertama, disebabkan adanya permintaan. Sebab, ada kesan bahwa desainer di Indonesia menganggap model pribumi atau lokal itu belum dapat mengangkat nilai koleksi-koleksinya.

“Ada [desainer] yang masih merasa, bahwa kalau dengan model luar negeri itu koleksi-koleksinya akan terangkat, koleksinya jauh lebih dilihat orang. Tetapi, tidak semua desainer seperti itu, ada juga desainer-desainer kita yang peduli dengan model-model pribumi,” katanya, Selasa (10/1/2017).

Kedua, menurutnya, masalah penawaran. Biasanya model-model lokal yang sudah populer tarifnya lebih mahal, sehingga para desainer memilih model-model luar yang harganya jatuh lebih murah. “Ada pendapat yang menyatakan model luar itu tidak usah gaya macam-macam saja sudah bagus, karena secara fisik lebih proporsional. Mereka [model luar] memiliki hidung mancung, tinggi, dan mata biru. Sementara itu, tidak semua model-model lokal memiliki fisik seperti itu,” ujarnya.

Ketiga, biasanya untuk promosikan seorang model baru dari luar negeri para agen model membuat semacam bonus. Misalnya, desainer sudah pesan delapan model lokal, kemudian agen memberi bonus satu model luar negeri yang baru itu dengan harga setengah. “Sebaliknya, desainer juga ingin mengangkat koleksi-koleksinya melalui model-model bule tersebut. Jadi keduanya merasa saling diuntungkan,” pungkasnya.

Menurutnya, model-model bule di Indonesia umumnya berasal dari negara-negara di Eropa Timur. “Sejak Uni Soviet runtuh atau Rusia bebas dari komunis. Sebab, kebanyakan model-model bule itu berasal dari negara-negara pecahan Uni Soviet seperti Kazakhstan, dan Uzbekistan,” ungkapnya seperti dilansir laman Bisnis.com.

Menurut dia, negara-negara tersebut ekonominya tidak begitu bagus, sehingga banyak warganya menjadi pekerja di negara lain termasuk menjadi model di Indonesia. Soal kualitasnya, Sonny menilai mereka menang di wajah yang terkesan internasional, sedangkan lenggak-lenggkoknya kurang cakap. “Menurut pandangan saya pribadi, jalannya jelek. Kendati jalannya jelek, model-model berwajah bule memiliki wajah yang lebih menantang,” ujarnya.

Wajah menantang tersebut, tuturnya, berlaku saat pengambilan gambar atau pemotretan. Begitu koleksi atau produk-produk menggunakan model bule dianggap lebih internasional. Padahal, dia melihat secara keluwesan model lokal atau pribumi tidak bisa dikalahkan model-model asing tersebut.

“Kehadiran model bule ini tidak bisa dikatakan positif dan negatif, karena tiap-tiap orang memiliki penilaiannya masing-masing. Ada desainer yang ingin koleksi kebayanya dikenakan model bule dengan alasan model ini jauh lebih mengangkat,” pungkasnya. (*/BIO)

LEAVE A REPLY