Mobil Presiden Soekarno di Museum Joang 45 Jadi Perhatian Wisatawan

0
260
Mobil Presiden Soekarno di Museum Joeang 45 Jakarta (Foto: Aktual.com)

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Mobil kuno merek Buick warna hitam, yang diproduksi tahun 1939, nampak masih terkesan maskulin, masih keren dan elegan. Mobil bernilai sejarah karena menjadi kendaraan dinas Presiden RI, Ir Soekarno, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mengunjungi Museum Joang 45 atau dikenal Gedung Joang 45 di Jl Menteng Raya, Kelurahan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat.

Mobil berplat nomor REP-1 ini, menurut catatan hanya diproduksi sebanyak 1.415 unit di seluruh dunia. Sehingga, keberadaannya menjadi bagian penting sejarah moda transportasi presiden pertama dengan julukan “Penyambung Lidah Rakyat”.

“Mobil sejarah ini diserahkan Kepala Rumah Tangga Kepresidenan kepada Dewan Harian Nasional 45 untuk menjadi koleksi Museum Joang 45 pada 19 Mei 1979. Nah, kalau museum ini diresmikan tahun 1974 oleh Presiden Soeharto,” papar Kepala Satuan Pelayanan Museum Joang 45, Rizal Effendi disela-sela menerima kunjungan90 orang pelajar tingkat SMP dan SMA dari sekolah Tunas Gading, Kamis (16/11/2017).

Mobil dinas kepala negara ini, lanjut dia, rutin dilakukan perawatan. “Mesin rutin dipanaskan setiap pagi dan masih nyala sangat bagus, kalau ada kerusakan spare part langsung diperbaiki atau diganti. Untuk merawat mobil itu, kita punya mekanik sendiri,” tandasnya.

Ada andil besar pejuang kemerdekaan bernama Sudiro, yang berhasil merealisasikan mobil ini sebagai kendaraan dinas pertama yang digunakan Presiden Soekarno. Mobil ini menjadi peninggalan era penjajahan Jepang. Sudiro yang berinisiatif agar mobil ini bisa digunakan Presiden Soekarno ketika itu.

Selain mobil kepresidenan RI 1 dan RI 2, pengunjung bisa melihat beragam koleksi benda bersejarah lainnya. Juga ada Mobil Peristiwa Pemboman di Cikini. Selain itu ada pula koleksi foto-foto dokumentasi dan lukisan yang menggambarkan perjuangan sekitar tahun 1945-1950-an. Beberapa tokoh perjuangan ditampilkan pula dalam bentuk patung-patung dada.

Bahkan ada koleksi menarik lainnua seperti radio kuno, replika Samurai Gunto, kursi santai Bung Hatta, memorabilia Chaerul Saleh, hingga memorabilia dokter pribadi Bung Karno.

Lokasi museum ini sangat mudah dijangkau. Terlebih, museum ini berada di tengah kota dan tak terlalu jauh dari destinasi wisata sejarah lainnya Monumen Nasional (Monas).

Saat ini pengelolaannya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, sebelumnya hotel dikelola keluarga “L.C. Schomper”, warga Belanda yang sudah lama tinggal di Batavia. Hotel ini diberi nama Schomper sesuai nama pemiliknya.

Saat itu, hotel ini termasuk yang cukup baik dan terkenal di kawasan pinggiran Selatan Batavia, dengan bangunan utama yang berdiri megah di tengah dan diapit deretan bangunan kamar-kamar penginapan di sisi kiri dan kanannya untuk menginap para tamu.

Bangunan kamar penginapan yang tersisa saat ini tinggal beberapa yang ada di sisi utara gedung utama, saat ini dipergunakan sebagai ruang perpustakaan, ruang kreativitas anak (children room) dan kantor Wirawati Catur Panca.

Ketika Jepang masuk ke Indonesia (1942-1945) dan menguasai Batavia, hotel ini diambil alih para pemuda Indonesia dan beralih fungsi sebagai kantor yang dikelola Ganseikanbu Sendenbu (Jawatan Propaganda Jepang) yang dikepalai oleh seorang Jepang, “Simizu”. Di kantor inilah kemudian diadakan program pendidikan politik yang dimulai pada tahun 1942 untuk mendidik pemuda-pemuda Indonesia dan dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah Jepang.

Kini sebagai tempat rekreasi edukasi, banyak dikunjungi wisatawan nusnatara maupun mancangera dari Belanda, Jepang, Australia dan kawasam Eropa lainnya. Juga yang paling ada;ah study tour dari kawasan Jabodetabek dan kota besar lainnya di Pulau Jawa dan Sumatera,

Kepala Satuan Pelayanan Museum Joang 45, Rizal Effendi menuturkan, kunjungan pelajar menjadi sesuatu yang sangat efektif untuk meningkatkan rasa pengetahuan dan kecintaan terhadap sejarah Indonesia. “Kegiatan study tour ini sangat perlu dilakukan oleh pihak sekolah untuk menumbuhkan semangat nasionalisme,” kata Rizal.

Menurutnya, rombongan pelajar didampingi pemandu untuk mendapatkan penjelasan terkait koleksi yang ada. Selain itu, mereka juga diberikan kesempatan menonton film sejarah Museum Joang 45. “Saya berharap, pelajar yang datang dapat menyerap penjelasan yang disampaikan oleh guide kami,” terangnya.

Salah seorang guru sekolah Tunas Gading, Linda Kriatiana Wati mengungkapkan, kunjungan ke museum-museum menjadi kegiatan rutin yang diselenggarakan pihak sekolah. Study tour ini menjadi salah satu cara mempermudah peserta didik untuk menyerap pelajaran tentang sejarah yang diberikan di sekolah. “Kami sebagai pengajar ingin mendorong anak didik mulai mengenal dan mencintai sejarah Indonesia, sebab itu sangat penting,” jelasnya.

Sementara, siswi SMA Tunas Gading, Yenrika (17) menyatakan, dirinya baru kali pertama ini berkunjung ke Museum Joang 45. “Saya sangat senang. Kunjungan ke museum ini dapat menambah ilmu pengetahuan tentang sejarah dan kehidupan pada zaman dahulu,” tandasnya.

Dalam periode Januari hingga Juni 2017 museum ini telah dikunjungi 6.057 orang. Jumlah pengunjung dari tahun ke tahun terus bertambah meski tidak terlalu signifikan. “Sepanjang tahun 2016, jumlah pengunjung mencapai 12.430 orang,” kata Staf Administrasi Museum Joang 45, Euis Rahmi.

Dijelaskannya, untuk harga tiket masuk museum sangat terjangkau, yakni Rp 5 ribu untuk dewasa, mahasiswa Rp 3 ribu dan pelajar Rp 2 ribu. “Kalau datang dengan rombongan minimal 30 orang akan lebih murah, untuk dewasa hanya Rp 3.750, mahasiswa Rp 2.250 dan pelajar Rp 1.500,” terangnya. Tertarik? (NDIK)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.