Menyusuri Kuliner dalam Suasana Imlek di Glodok

0
329
Suasana Imlek di Glodok Jakarta, (Foto: bombastis.com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kawasan Glodok, Jakarta, sudah dipenuhi dengan nuansa warna merah menyala, menyamut perayaan Tahun Baru Imlek pada Sabtu (28/1/2017). Begitu pula kelenteng yang menjadi tempat peribadatan ramai dikunjungi warga Tionghoa maupun yang ingin sekadar berwisata.

Kawasan yang menjadi surga kuliner di kawasan Glodok, juga tak luput dari keramaian warga. Begitu pula, pasar yang menjual aneka jenis daging-dagingan dan aneka hasil laut. Komunitas Ngojak bersama Jakarta food Adventure menjelajahi keragaman budaya, akulturasi antara masyarakat Tionghoa dan pribumi, serta sejarah kuliner peranakan di kawasan pecinan ini.

Perjalanan dimulai dari kawasan Glodok City. Peserta yang datang dari mahasiswa hingga bankir ini diajak menapaki pasar semi tradisional, Pasar Petak Sembilan. Di pasar ini dapat akan mendapati pemandangan tak biasa seperti di pasar tradisional pada umumnya. Selain dapat menemukan penjual permen impor, di sini Anda dapat menemukan penjual swike alias kodok, bulus, hingga sirip ikan hiu.

Setelah menyusuri Pasar Petak Sembilan, selanjutnya peserta menuju ke Wihara Dharma Bhakti (1650) yang merupakan tertua di Jakarta. Sejumlah peristiwa kebakaran pernah melanda kelenteng yang juga disebut dengan kelenteng Kwan Im ini, dan salah satu yang selamat adalah Patung Dewi Kwan Im pada 2015 lalu.

Menjelang Tahun Baru Imlek, di sini Anda akan mendapati pemandangan sejumlah pengunjung yang melepas 100 burung ke alam bebas. Sejumlah burung ini dibeli dari pedagang yang banyak berjualan di depan kelenteng. Dengan melepas burung ini harapannya dapat membuang sial.

“Di dalam ini juga terdapat sejumlah lilin besar yang bisa bertahan tiga bulan. Lilin besar merupakan donasi perusahaan, sedangkan lilin kecil dari individu,” tutu pemandu dari Jakarta Food Tour, Ira Lathief.

Selanjutnya, Anda akan terkesima pada gereja dengan gaya arsitektur yang khas. Gereja Katolik ST Maria De Fatima merupakan salah satu gereja Katolik di Indonesia yang mengusung arsitektur khas Tionghoa. Diketahui, gereja ini pada mulanya adalah rumah tinggal pejabat Tionghoa yang kemudian menjadi misionaris. Selain itu, salah satu jadwal ibadah yakni pada Minggu sore, masih menggunakan Bahasa Mandarin.

“Sangat jarang sekali gereja Katolik dengan arsitektur Tionghoa. Ini satu-satunya di Jakarta,” imbuh Ira yang kerap mengartikan namanya sebagai Idaman Rakyat.

Menyusuri Gang Kalimati, Anda akan dibawa pada surga kuliner di kawasan Glodok. Di sini akan merasakan romantisme kuliner tempo dulu. Ada bakmi belitung dan laksa seharga masing-masing Rp20.000, yang didampingi dengan minuman cap Badak di Warung Lao Hoe. Badak adalah merek minumanbersoda yang berusia hampir seratus tahun dan terkenal di Kota Medan.

Persis di depan warung, ada penjual gorengan cempedak yang banyak disukai wisatawan. Tak jauh dari tempat ini, Anda dapat menemukan warung Vegetarian. Warung yang sudah cukup dikenal di Gang Kalimati ini, menawarkan sejumlah lauk pauk unik seperti rendang jamur, sate jamur kentang, dan chasio yang menjadi favorit. Chasio menyerupai masakan tumis daging babi berwarna kemerahan. Namun jangan salah, chasio ini terbuat dari gluten yang dibentuk menyerupai daging.

“Makanan vegetarian memang banyak disajikan di restoran dengan harga mahal, tetapi tidak banyak yang disajikan oleh warung. Salah satunya, warung Vegetarian ini,” lanjut Ira seperti dilansir laman Bisnis.com

Sejumlah kuliner juga dapat menjadi pilihan untuk dibawa sebagai buah tangan pulang ke rumah. Anda dapat menjinjing sekotak Bakpia Law Beijing berisi 10 bakpia dengan isian kacang ijo, kacang merah, durian, hingga cokelat seharga Rp50.000. Juga, sup pi oh atau sup bulus yang disantap dengan kuah tauco seharga Rp50.000 semangkok di Gang Gloria, tak jauh dari Gang Kalimati. (*/BIO)

LEAVE A REPLY