Menyedot Sum-Sum Kaledo, Kuliner Khas Palu

0
68

PALU, Bisniswisata.co.id: Kaledo hampir mirip dengan sup buntut. Bagi penggemar masakan berbahan dasar daging, ada baiknya mencicipi menu kuliner khas Palu, Sulawesi Tengah. Begitu menyentuh lidah, rasa asam pedas yang segar terasa nikmat. Kita bisa merasakan kaldu sapi bercampur asam jawa, cabai rawit, dan tetesan jeruk nipis.

Kaledo berarti kaki lembu Donggala, dkuliner tradisional yang masuk keluarga sup. Yang menjadi pembeda dengan sup lainnya, kaledo disajikan dengan ubi rebus. Untuk kaledo, daging dipilih yang empuk dan tulang dari lutut yang masih penuh sum-sum sehingga ketika dikonsumsi harus menggunakan sedotan biar sum-sum mudanya tersedot ke mulut.

Di Palu, kaledo tidak dijual di warung-warung hingga restoran besar. Kaledo sudah menjadi masakan wajib yang harus disajikan jika masyarakat suku Kaili (suku yang mendominasi Sulawesi Tengah) menggelar hajatan. Baik itu pesta pernikahan, akikah, kamelian, maupun acara adat lainnya.

Berdasarkan cerita, dahulu kaledo merupakan sajian kehormatan untuk raja-raja di Lembah Palu saat menjamu para tamu kehormatan dari kaum bangsawan yang disebut Toma Oge atau Toma Langgai atau Langga Nunu. Biasanya, mereka para pembesar dari sub-subkerajaan di Lembah Palu.

Pada jamuan-jamuan makan, para tamu dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan status sosial undangan. Untuk raja atau pembesar kerajaan, jamuan makan bersama raja berlangsung di dalam ruangan rumah (Rara Banua). Untuk para punggawa kerajaan, jamuan makan berlangsung di teras rumah (Ri Tambale), sedangkan untuk rakyat biasa jamuan makan berlangsung di halaman rumah (Ri Poumbu).

Pada umumnya masyarakat menyebut jika kaledo banyak dikonsumsi bisa menimbulkan kolesterol karena didominasi daging. Namun, masakan itu juga menyehatkan. Daging tidak melulu identik penyebab kolesterol. Daging dan kaki lembu juga dapat mencegah anemia, diabetes, meningkatkan sel darah merah, menigkatkan kesehatan kulit, dan dapat mencegah penyakit stroke serta serangan jantung.

“Dulu ada pelanggan yang sampaikan dengan kami kalau banyak mengonsumsi daging itu juga menyehatkan. Kebetulan pelanggan itu dokter,” terang Ipang, 34, pedagang kaledo stereo, di Jalan Ponegoro, Kelurahan Kabonena, Kecamatan Ulujadi, Palu seperti dilansir laman MediaIndoesia.com, Ahad (26/11/2017).

Kaledo dibanderol dengan harga lumayan tinggi, yakni Rp65 ribu per porsi. Itu sudah termasuk tulang sumsum dan ubi rebus. Biasanya ada juga yang memesan nasi untuk mengganti ubi. “Ada dua pilihan, mau kaledo pakai tulang dan daging atau daging saja. Untuk harga sedikit mahal yang kaledo daging (tanpa tulang). Namun seni menyedot sumsumnya tidak ada,” tambahnya.

Menurut Ipang, membuat kaledo cukup mudah dan hampir semua warga suku Kaili bisa membuatnya. Anda cukup menyiapkan 1 kg daging lembu dan tulang, 20 buah cabai rawit hijau, 6 ruas asam jawa mentah, 1 batang serai, 1 ruas jahe, garam secukupnya, 1 buah jeruk nipis, dan tambahan penyedap rasa.

Kemudian cuci daging dan tulang hingga bersih lalu rebus ke dalam panci berisi air hingga setengah matang dan empuk. “Kalau sudah setengah matang dan empuk tiriskan airnya. Setelah itu masak lagi hingga benar-benar matang. Itu dilakukan biar mengurangi lemak dan bau amis,” jelas Ipang.

Jika daging dan air dalam panci kembali mendidih, barulah kemudian dimasukkan rempah dan bumbu-bumbu lainnya. Tunggu hingga benar-benar matang baru kemudian diangkat untuk disajikan. “Enaknya masakan ini dimakan saat masih panas terus ditambah dengan ubi rebus,” ujarnya. (MIO)

LEAVE A REPLY