Menyapa Lima Gunung Dari Puncak B 29 Lumajang

0
48

Puncak B 29, Lumajang, Jatim,  diatas ketinggian 2900 meter diatas permukaan laut. ( Foto: Sendy Aditya Saputra) 

MALANG, bisniswisata.co.id: Terlalu bersemangat, itulah kata-kata yang tepat mengapa satu jam sebelum berkumpul ternyata saya sudah siap menunggu teman-teman di lobby Harris hotel & convention di daerah Blimbing,  kota Malang.

Jam menunjukkan pukul 22.00 WIB, hari ini saya nyaris tidak tidur seharian. Usai sholat subuh tadi pagi langsung ke terminal tiga Bandara Soekarno Hatta untuk bergabung dengan peserta media trip Forum Wartawan Pariwisata ( Forwapar) yang dikomandani ketuanya,  Fathur.

Malas balik ke kamar takut ketiduran sementara urusan ibadah malam juga sudah dilakukan membuat saya bermalas-malasan selonjoran di kursi panjang di lobby hotel. Untunglah satu persatu peserta mulai turun lengkap dengan baju dingin dan atribut lainnya siap menuju puncak B29 yang digadang-gadang sebagai negri di atas awan.

Berwisata ke  Puncak  B29 ini lokasinya berada di Desa Argosari Kecamatan Senduro,  Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Area B29 merupakan bagian Taman Nasional Bromo Tengger Semeru( TNBTS)  yang sedang giatnya diorbitkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Lumajang.

Tak heran kalau Deputi   Bidang Pengembangan   Pemasaran   Pariwisata Mancanegara (Deputi BP3M) Kementerian Pariwisata (Kemenpar) I Gde Pitane menggelar kegiatan Sosialisasi Pemasaran Mancanegara pada Media Nasional dengan tujuan mempromosikan obyek wisata baru ini.

Sampai tengah malam pukul 24.00 panitia masih menunggu kehadiran satu dari tiga mobil Hi-Ace yang sudah dipesan untuk membawa rombongan. Untungnya begitu masuk mobil saya sudah tertidur ketika bis mini itu bergerak ke arah Lumajang.

Sudah tidak terlalu berharap bisa melihat sunrise karena perjalanan dari Malang ke Desa Argosari berkisar lima jam perjalanan. Puncak B 29 memang tempat yang pas menyaksikan saat matahari muncul maupun tenggelam ( sunrise  dan sunset).

Matahari sudah muncul saat saya mendengar teriakan mundur-mundur !! dari arah depan mobil. Rupanya mini bis di depan tidak mampu menanjak sehingga sejumlah warga setempat yang mengendarai motor tengah membantu supir untuk bisa tancap gas melewati jalan tanjakan.

Jalan Desa Argosari ‘pintu gerbang ‘ ke puncak B 29

Rupanya kami sudah berada di jalan desa menuju Argosari. Jalan berkelok sepanjang lereng Gunung Semeru dari arah Kecamatan Senduro atau sekitar 25 kilometer dari arah Kota Lumajang. Dari  Kecamatan Senduro inilah kami harus menempuh rute menuju jalur pedesaan hingga tiba di Jalan Desa Argosari.

Giliran mobil kami mau ancang-ancang menanjak saya dan teman-teman minta izin turun dulu dari mobil untuk mengurangi beban sekaligus mengatasi rasa takut.

Berteduh di sebuah warung yang tutup, seorang warga menghampiri dan menawarkan jasa untuk naik motor ke Desa Argosari.

“Ibu mau naik motor ? saya antar saja ke atas paling 15 menit lagi kita tiba di Argosari,” sapa Syamsuri menawarkan jasa ojek.

Saya langsung pamit pada teman serombongan untuk naik ojek saja mengingat mobil Hi-Ace masih berjuang untuk bisa naik dengan aman. Tanpa menawar saya sudah duduk di sadel motornya.

Melihat medan yang dilalui cukup menanjak saya langsung memanfaatkan sarung pembagian di tas ransel dan mengalungkannya juga  ke pinggang Syamsuri sehingga tubuh saya tidak perlu melorot saat jalan menanjak.

Syamsuri meski heran dengan ide saya memanfaatkan sarung untuk pengaman tubuh namun setuju diikuti acungan jempol. Pokoknya, kata Syamsuri, penumpang duduk dengan tenang dan mengikuti irama kemana arah motor melaju.

Memasuki jalan Desa Argosari yang menjadi ‘pintu utama’ mencapai puncak B29 tampak dihiasi penjor di kiri kanan jalan. Biasanya penjor banyak dapat ditemui di Bali ketika hari raya Galungan & Kuningan serta odalan-odalan di Pura.

Penjor adalah simbol dari naga Basukih, dimana Basukih berarti kesejahteraan dan kemakmuran. Penjor juga merupakan simbul Gunung yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan

“ Disini warganya banyak yang beragama Hindu jadi dalam satu desa mayoritasnya hindu dan muslim hidup berdampingan” kata Syamsuri. Kebetulan kami datang disaat umat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan, 11 November 2017.

Syamsuri, pemandu sekaligus tukang ojek berpengalaman pemandu di gunung.

Tiba di ujung jalan desa, warga yang menawarkan jasa ojek ke Puncak B 29 sudah menyambut. Panitia memang memanfaatkan jasa mereka semua untuk membawa rombongan ke atas.

Masing-masing pengendara diberi tanda pengenal yang dikalungkan dengan nomor agar teman-teman pers yang menggunakan jasanya mudah mengingat nomor ojeknya. Saya lapor panitia menggunakan ojek tanpa nomor dan bisa tetap menaiki motor milik Syamsuri ke atas puncak B 29.

Mengandalkan kalungan sarung lagi untuk melewati jalanan aspal, paving block, dan tanah dengan kemiringan 10 hingga 40 derajat serta beberapa tikungan tajam khas wilayah pegunungan, saya terkadang harus memejamkan mata melihat lereng-lereng curam yang harus dilalui di kiri-kanan jalan tanah yang saya lalui.

Pemandangan sekitar hijau dengan pohon-pohon cemara, akasia dan pohon minyak kayu putih.  Di lereng-lereng itulah ladang  milik warga suku Tengger yang ditanami kubis, bawang daun, dan kentang dan berada di kemiringan sekitar 70 derajat.

“Sebenarnya puncak B29 ini sudah lima tahun dikunjungi wisatawan tapi baru dua tahun terakhir jalan setapak dilapisi paving block dan kita bisa naik motor sampai ke puncak. Pengunjung juga kini dikenakan tarif Rp 5000/ orang. Sebelumnya sih gratis saja, kata Syamsuri.

Untuk jasa ojeknya sendiri harga normal Rp 75.000, upnormal sampai Rp 150.000/ orang alias tergantung hasil nego dengan pemakai jasa. Setelah menikmati sunrise di puncak B29 maka  pengunjung akan kembali diantar  dengan motor yang sama ke desa terdekat yaitu Argosari.

Alhamdulilah tak lama kemudian kami sampai di gerbang Bukit 29, satu per satu motor berhenti dan diparkir di sana. Melewati sejumlah warung, para pengunjung kemudian mendaki sekitar 100 meter ke puncak bukit yang sudah terlihat di depan mata.

Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Giri Adnyani M.Sc. bersama rombongan media trip di puncak B 29

Salah satu tujuan para wisatawan ke destinasi wisata baru di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BTS) itu memang menyaksikan sunrise atau matahari terbit. Momen terbaik adalah menunggu di atas bukit sejak pukul 04.00 WIB.

Syamsuri bercerita tak sedikit pengunjung yang berkemah atau menggelar tenda di atas bukit yang dahulu disebut Songolikur (sebutan angka 29 dalam bahasa Jawa). Dia layaknya seorang Sherpa atau pemandu gunung di Nepal terus menarik saya untuk naik.

Saat nafas saya  tersengal-sengal Syamsuri sabar menunggu dan sesampai di puncak bukit berketinggian 2.900 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu, dia langsung meminta saya berpose berlatar belakang pemandangan yang indah.

Pantas saja disebut Negri Di atas Awan karena keindahan awan yang bisa dilihat dari atas posisi kita. Dari puncak Gunung B29 ini kita dapat melihat hamparan lautan awan putih dan kita bisa menikmati sensasi seperti sedang berada diatas awan.

Puncak B29 juga cocok dijadikan tempat camping. Pengunjung bisa mendirikan tenda dan menikmati sensasi dingin dalam pelukan kabut di bukit ini. Ada beberapa warung milik warga setempat di sekitar puncak, namun untuk toilet masih belum ada karena masih dalam tahap pembangunan.

Pemandangan di Puncak B29 ini sungguh sangat cantik. Dari atas kita bisa melihat awan yang menari-nari yang tepat berada di bawah pandangan mata. Gugusan perbukitan yang berjejer rapi seperti gunung semeru, gunung bromo, gunung batok, pasir berbisik, padang savana dan cemoro lawang seolah-olah menegaskan bahwa kita memang sedang berada di Negeri Diatas Awan.

Lagi-lagi keindahan alam Indonesia tak pernah berhenti menunjukkan pesona kecantikannya. Hampir semua peserta Media Trip Kemenpar sibuk berpose ria sesampai di puncak B 29 ini apalagi ditunjang matahari pagi yang sinarnya masih bersahabat ditambah hembusan angin yang dingin.

Mengabadikan keindahan puncak B 29, Lumajang. ( foto: Sendy Aditya Saputra/Kemenpar/Wonderful Indonesia)

Subhanallah, tak heran saya jadi sensitif dan takjub atas ciptaan Allah SWT dan teringat potongan lirik lagu Katon Bagaskara berjudul  Negri Di Awan.

Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang negeri di awan
Dimana kedamaian menjadi istananya
Dan kini tengah kaubawa
Aku menuju kesana

Ternyata hatimu
Penuh dengan bahasa kasih
Yang terungkapkan dengan pasti
Dalam suka dan sedih,”

Sebelum air mata menyeruak keluar, mengingat kebaikan almarhum suami tercinta, saya langsung duduk di warung lesehan terbuka beratap langit milik Suki. Beralaskan plastik terpal saya duduk dipinggiran puncak menghadap Puncak Gunung Bromo, Gunung Batok, lautan pasir dan pura Luhur Poten di kejauhan.

Menduduki pasir hitam hasil semburan abu vulkanik saat Gn Bromo meletus pada 2010, Suki bercerita setiap week-end dia berjualan mulai Jumat hingga Minggu diatas puncak B 29. Motornya juga nongkrong di atas dan sebuah kemah kecil melindunginya saat malam.

Menyeruput kopi hitam dan mie instan di atas ketinggian sambil mengobrol bersama Syamsuri dan Suki yang ternyata berteman sejak kecil membuat saya bisa santai sambil mendengarkan mereka berdua sibuk menunjuk gunung-gunung di sekitar.

“ Di kiri kita namanya Mahameru, puncak Gn Semeru. Di kanan namanya Puncak B30 yang disebut juga pundak lembu karena bentuknya mirip punggung sapi. Di belakang punggung ibu ada  Gn Lemongan dan Gn Raung. Makin siang nanti kita bisa lihat garis pantai Utara dan pantai Selatan Pulau Jawa,”

Rasanya hati ini tidak henti-henti berzikir mensyukuri semua ciptaan Tuhan yang pesona pancaran keindahannya ini dapat terlihat dengan nyata oleh pandangan mata ini. Subhanallah nikmat mana lagi yang aku dustakan Ya Rabb…

Terlebih lagi di jaman milenial ini naik gunung bisa ditempuh dengan ojek meski harus melampaui medan jalan yang curam dan menantang. Selebihnya hanya sekitar 150 meteran mengandalkan kekuatan kaki sendiri menanjak untuk mencapai puncak B29.

Panggilan biologis alias ingin pipis membuat saya  langsung turun ke area bertuliskan Welcome to Puncak B 29. Tapi ternyata belum tersedia toilet meskipun bentuk phisik bangunannya sudah ada.

Medan jalan yang menantang dan Mesjid tertinggi di Pulau Jawa

Akhirnya Syamsuri membawa saya ke rumah penduduk dalam perjalanan turun yang ternyata rumah kakek dari istrinya. Motor kemudian dipacu ke mesjid tertinggi di pulau Jawa yaitu Masjid Jabal Nur Hidayah yang diresmikan pada 16 Juli 2010 oleh Bupati Lumajang pada waktu itu, DR H Sjahrazad Masdar MA.

Sayang niat sholat dhuha tidak bisa dilaksanakan karena semua pintu mesjid terkunci sehingga perjalanan dilanjutkan pulang kembali ke Desa Argosari. Syamsuri menurunkan saya dirumah tetua adat yang sudah menyiapkan hamparan tikar di halaman deoannya.

Suguhan minuman dan makan pagi lengkap khas Tengger tersedia juga di garasi rumah. Saya memilih selimutan sejenak di atas tikar karena belum ada peserta yang tiba. Makan rame-rame bersama rombongan pasti lebih asyik.

Alhirnya satu persatu peserta kembali dan acara makan pagi juga penuh informasi kuliner dan cara warga setempat yang lebih suka menerima tamu di dapur karena ada hangatnya perapian dan tungku-tungku tanah yang ada.

Perpisahan dengan  pemandu Syamsuri dan kawan-kawan akhirnya datang juga karena kami akan melanjutkan perjalanan ke peternakan kambing Etawa yang langsung mengolah susunya menjadi yoghurt, keju mozarela dsn produk lainnya.

Perjalanan dilanjutkan ke Pura Mandara Giri Semeru Agung di Lumajang bertepatan dengan Hari Raya Kuningan yang diperingati umat Hindu. Kami akan kembali ke Malang melalui Ranu Pane kaki gunung Semeru dan berakhir dengan makan malam di Resto Inggil sebelum kembali ke hotel.

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY