Menpar giat kordinasi kejar program quick win di akhir tahun

0
688
Menpar Arief Yahya giat berkordinasi dengan berbagai pihak dan gaungkan Indonesia Incorporated dalam mengelola pariwisata.

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya fokus pada program quick win, percepatan untuk mencapai target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tahun ini sebanyak 9 juta wisman dengan mengejar kordinasi internal di Kemenparekraf dan mengadakan pertemuan dengan sejumlah pihak guna memetakan masalah dan menerapkan konsep digital marketing.

“Quick win harus segera dilakukan apalagi sekarang kita sudah di akhir tahun karena itu agenda pertemuan saya beragam di akhir pekan ini mulai dari bertemu KSAL dan pihak terkait lainnya karena kita harus solid dan harus secepatnya mewujudkan gotong royong dalam kerangka Indonesia Incorporated,” kata Arief Yahya, Jumat.

Menurut dia sebelum bicara program 100 hari kerja, ada yang lebih penting harus dihadapinya yaitu menghadapi Year End Seasons yang selama ini telah dilakukan Kementrian Pariwisata dengan menggelar banyak kegiatan di perbatasan dengan negara-negara tetangga guna menjaring lebih banyak wisman di saat Injury Time.

Dia menilai untuk menjalankan program quick win maka pemerintah, swasta dan pers harus memiliki satu misi dengan semangat Indonesia Incorporated tadi sehingga injury time menjelang akhir tahun ini dapat dimanfaatkan secara optimal. Pertanyaan klasik yang selalu dilontarkan berbagai pihak adalah mengapa negara tetangga yang minim keindahan dan obyek wisata bisa menjaring kunjungan 20 juta wisman, sementara akhir tahun ini RI targetnya hanya 9 juta wisman.

“Kita harus paham bahwa infrastuktur lemah karena itu saya bertemu dengan KSAL untuk memahami seberapa besar kekuatan infrastruktur laut, seberapa besar potensi airlines untuk menjadi jembatan udara mendatangkan wisman dan bagaimana konsep digital marketing bisa kita laksanakan dengan cepat karena airlines dan telekomunikasi itu semua adalah jembatan,” tuturnya.

Saat berlangsung Serah Terima Jabatan awal pekan lalu, Arief sudah mengingatkan bahwa Presiden Jokowi membuat Kementrian Pariwisata tanpa embel-embel karena pariwisata adalah program nasional karena itu Menteri Pariwisata harus mampu merangkul semua pihak untuk mendukung program nasional ini memajukan pariwisata sebagai sumber devisa utama.

Upaya promosi, aksesbilitas dan konektivitas penerbangan dari negara-negara sumber wisman ke destinasi unggulan di seluruh Tanah Air diperlukan. Selain itu, dibutuhkan aksesbilitas laut guna mendorong kunjungan wisman kapal pesiar(cruise)dan yatch yang sejalan dengan program pemerintah untuk memperkuat tol laut yang menghubungkan pulau-pulau di Indonesia.

“Spirit Indonesia Incorporated itu harus di dukung makanya pertemuan dengan petinggi Telkom dibahas bagaimana produk telekomunikasi bisa dibuat murah, lalu tiket pesawat ke Indonesia juga bisa bersaing. Kalau wisatawannya sudah sampai di Indonesia maka distribution point juga harus mudah untuk bisa menjangkau beragam destinasi yang ada. Destiansi itupun harus kita tentukan dulu mana Top 10 yang kita pilih,” katanya.

Sepanjang Jumat, Forum Wartawan Pariwisata (Forwarpar) diketuai oleh Tri Wibowo yang mengharapkan dapat beraudiensi dengan Menteri Pariwisata yang baru juga belum bisa mendapatkan waktu karena Arief marathon bertemu panitia Jakarta Fashion Week hingga waktu shalat Jumat.

Setelah itu, giliran Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) urun rembug bersama Menpar. Arief dan BPPI memetakan masalah promosi pariwisata yang meliputi infrastruktur, regulasi, destinasi dan pemasaran. Hermawan Kartajaya yang juga anggota BPPI usai rapat mengatakan Menpar menekankan strategi digital marketing untuk mempromosikan pariwisata Indonesia tanpa memakan banyak biaya.
Dia menilai perlu suatu ekosistem dulu agar industri pariwisata Indonesia bisa saling mendukung, bersinergi dan bersatu termasuk pers uuntuk membuat terobosan baru di dunia marketing baik secara konvensional maupun teknologi digital sehingga pariwisata Indonesia perlu memiliki ukuran standar internasional dalam pengembangannya.

“Dalam dunia bisnis, yang berlaku adalah If you can not measure, you can’t manage atau jika kita tidak bisa mengukur maka kita tidak bisa mengelola sehingga untuk itu saya perlu merapatkan barisan bersama agar semangat gotong royong dengan slogan Indonesia Incorporated bisa terwujud untuk menciptakan pesaing bersama (public enemy),”.

“Kita harus punya ukuran standar internasional untuk pariwisata jangan melihat ukuran ke dalam terus. Setelah itu barulah kita bisa melakukan berbagai program termasuk program quick win yang harus dilakukan sebelum akhir tahun berakhir karena target moderat yang ingin dicapai adalah kunjungan 9,2 juta wisman dan target optimal 9,5 juta wisman dimana angka ini nota bene sudah dicapai negara-negara tetangga bilangan tahun yang lalu,” tandasnya. (hildasabri@yahoo.com)

LEAVE A REPLY