Menpar : Bali Aman, Ayo Berwisata Ke Bali  

0
96

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Minggu lalu saat berlangsung Rapat Kerja Nasional Kementrian Pariwisata di mall Kota Kasabkanka, Luh Suciari, pengurus Bali Tourism Promotion Board ( Badan Promosi Pariwisata Bali ) berbisik bahwa keponakannya yang bekerja di sebuah hotel sudah dirumahkan karena kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali anjlok.

Berita mengglegar di telinga ini bukan hanya membuat Luh menjadi prihatin, tapi juga seluruh bangsa ini terutama pemerintah dan pelaku wisata. Maklum Bali destinasi utama.  Begitu dasyatnya dampak dari erupsi Gunung Agung terhadap kunjungan turis ke Bali sampai dalam waktu relatif singkat ada sejumlah pengusaha hotel yang sementara merumahkan karyawan.

Rupanya anjloknya kunjungan wisman maupun wisnus ke Bali bukan karena masalah status Gunung Agung yang sebelumnya di nyatakan “ Awas” tapi juga karena berita penutupan Bandara Ngurah Rai yang di up date menit per menit oleh media nasional dan internasional

Selain itu kurang kompaknya industri wisata setempat memangkas biaya akomodasi juga berdampak mengingat banyak wisman terpaksa tinggal lebih lama di Bali dan sebagian mungkin sudah dengan kondisi keuangan yang tipis saat Gunung Agung ‘terbatuk-batuk’.

Masalah lainnya muncul ketika terjadi penutupan Bandara Ngurah Rai maka pengalihan keberangkatan wisman ke negaranya masing-masing tidak segera dilakukan melalui Banyuwangi misalnya yang berada di seberang Pulau Dewata.

“ Kalau daerah kita menjadi destinasi wisata utama maka kita harus bisa memulangkan kembali dengan aman tamu-tamu yang sudah datang sehingga jika terjadi erupsi lagi maka kini kami sudah mengirim surat dan berkordinasi dengan Menteri Perhubungan untuk menggunakan alternatif pemulangan lewat Banyuwangi dan Lombok,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Berbicara pada Jumpa Pers Akhir Tahun yang berlangsung di Balairung Soesilo Soedarman, kemarin,  Arief Yahya mengatakan wisman yang akan pulang ke negaranya tetap ke bandara Ngurah Rai untuk proses check-in.

Setelah mendapatkan boarding pass masing-masing lalu di transfer ke Banyuwangi atau Lombok melalui jalur fery dan bus nyaman sehingga bisa pulang tanpa harus menambah biaya tinggal dan biaya lainnya.

“Industri pariwisata Bali harus bisa melayani tamu-tamunya dengan baik dan jika kondisinya mereka harus memperpanjang lama tinggal akibat erupsi yang berkepanjangan maka diskon tarif hotel berlaku dan semua harus kompak,” tegasnya.

Anjloknya kunjungan wisman dan banyaknya event Meeting, Incentive, Conference & Exhibition ( MICE) yang ditunda atau dibatalkan membuat sebagian pengusaha mengklaim erupsi Gn Agung ini kondisinya lebih parah dari Bom Bali 1 dan 2.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan  (15/12)  lalu menegaskan erupsi yang terjadi hanya pada radius 6- 10 km di Gunung Agung itu, sementara wilayah lain di Bali normal dan aman.

Luhut menjamin kawasan di Bali tetap aman. Dia menjelaskan perhitungan arah angin juga menuju ke timur. Sehingga abu vulkanik kata Luhut tidak akan mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali.

Tentu saja pernyataan Menko Maritim itu diharapkan akan membuat negara-negara yang menjadi pasar utama Bali seperti Cina, Australia mau menarik travel warning bagi warga negaranya yang berwisata ke Bali.

“Saya buka-bukaan saja ya, turis Cina sekarang nol, gedeg makanya saya,” ujar Arief  sambil menambahkan tidak ada wisatawan China ke Bali karena adanya travel warning itu.

Pemerintah China bahkan sejak 24 November 2017  telah mengeluarkan larangan perjalanan (travel warning) ke pulau Dewata dan berlaku hingga 4 Januari 2018. Apalagi ternyata karakter turis China berbeda dengan Australia. Jika wisatawan negara Kangguru tetap pergi ke Bali walaupun ada travel warning dari pemerintahnya.

“Kalau ada Travel warning orang Australia masih datang. Tapi tidak terjadi pada masyarakat Cina, mereka sangat patuh pada pemerintahnya jadi makanya  wisatawan asal negara Tirai Bambu sekarang mengalihkan wisatanya ke Thailand dan Vietnam,” kata Menpar.

Solusi untuk membuat mereka kembali  ke Bali, Arief Yahya telah bertemu dengan Konsulat Jenderal China dan menyatakan kekecewaanya disaat industri pariwisata Bali terpuruk justru ditinggalkan oleh wisatawan China.

Selain itu Arief juga akan bertemu dengan Menteri Pariwisata China membahas mengenai travel warning.
agar larangan perjalanan ke Bali tidak diperpanjang lagi yang akan berakhir 4 Januari 2018. Pihaknya berharap negara-negara lain yang mengeluarkan travel warning ke Bali juga mencabutnya kembali

Keindahan pantai di Bali mengundang kunjungan wisatawan menghabiskan liburan akhir tahun.

Mengingat pariwisata leading sector seharusnya dana promosi tahun 2018 lebih besar. Sayangnya yang terjadi justru sebaliknya Di APBN 2018, anggaran untuk sektor pariwisata ditetapkan Rp 3,7 triliun.

Arief Yahya mengingatkan bahwa angka tersebut masih sangat jauh lebih rendah jika dibandingkan kebutuhan anggaran untuk biaya menaikkan brand Wonderful Indonesia dan promosi destinasi wisata Indonesia di dalam dan luar negeri. “Anggaran yang kita peroleh  Rp 3,7 triliun. Itu jauh dari cukup karena kebutuhannya Rp 9 triliun,” tandasnya.

Meski kekurangan dana Kementerian Pariwisata  menyiapkan anggaran sebesar Rp 100 miliar untuk pemulihan pariwisata Bali selama tiga bulan pertama 2018 yang terdampak erupsi Gunung

Anggaran tersebut akan langsung digunakan untuk mempersiapkan liburan akhir tahun di bawah Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar, I Gde Pitana.

Anggaran tersebut nantinya digunakan untuk biaya promosi Bali ke seluruh dunia. Arief mengatakan program yang menggunakan anggaran tersebut adalah hot deals dimana jika wisatawan datang ke Bali diskonnya mencapai 50%.

“Erupsi Gn Agung statusnya awas hanya 6-10 km di kawasan gunung itu. Sementara aktivitas seluruh wilayah Bali sejak erupsi pertama tetap normal jadi jangan ragu datang ke Bali, kata Menpar.

Kondisi yang membaik di Bali saat ini membuat kalangan pengusaha hotel di Bali optimistis libur Natal dan Tahun Baru wisatawan mancanegara maupun nusantara akan tetap berlibur ke Bali.

Rainer Daulay, CEO Rhadana Group pemilik hotel Rhadana Kuta Bali yang baru menyabet  Asia Halal Brand Awards untuk Hotel  dan cafenya mengatakan tingkat huniannya masih baik.

“Alhamdulillah baik Rhadana Kuta maupun hotel lainnya,  Oasis Lagoon Sanur saat ini di sekitar  45%. Erupsi Gn Agung memang berdampak bagi tingkat hunian tapi   sejak 2 – 3 hari lalu sudah mulai ada new reservation untuk beberapa hari kedepan jadi kami optimistis tamu kembali. “Semoga tidak ada penutupan bandara lagi,” kata Rainer

Lana T Kuntjoro, pemilik hotel Neo + Kuta, Legian, Bali mengatakan untuk bulan Desember ini tingkat huniannya masih sekitar 50-60% sementara rata-rata hunian di kawasan itu berkisar 30%-40%.

“Berdasarkan booking yang masuk
mulai 22 -27 Desember tingkat huniab rata-rata mencapai 52%-55%, sedangkan mulai 28 Des – 01 Januari 2018 okuoansi diharapkan naik mencapai 75-80%,” kata Lana T.Kuntjoro.

Proyeksi tingkat hunian setelah 2 Januari tahun depan diperkirakan rata-rata 35%. Namun pada situasi normal saat low seasonpun bisa mencapai okupansi 70-80%.

Lana bersyukur saat ujian datang dengan anjloknya kunjungan wisman pihaknya masih dapat menjakankan usaha dan hingga saat ini tidak ada pengurangan pegawai. Sementara hotel lainnya menyentuh tingkat hunian 15%.

Dari bencana ini, Indonesia kehilangan 1 juta kunjungan turis. Tak hanya direct, penerbangan indirect ke Bali pun sepi. Semua terkait travel warning yang dikeluarkan oleh beberapa negara.

Menpar Arief Yahya menghimbau wisatawan mancanegara dan domestik jangan menggeneralisir status Bali karena masih banyak destinasi yang aman dan bisa dinikmati di Bali. Ayo berwisata ke Bali !!.

LEAVE A REPLY