Menjelajah ‘Perut Bumi’ Penuh Cahaya Di Goa Huanglong Dong, Zhangjiajie

0
504
Goa Huanglong di Zhanjiajie, Cina. ( foto-foto Jeanne Cynthia Lay)

Zhangjiajie, Cina, test.test.bisniswisata.co.id: Mendengar program hari ke lima tour bersama charter flight TX Travel adalah mengunjungi Goa Huanglong Dong, dekat kota kecil  Wulingyuan, Zhangjiajie  saya kontan menjadi antusias sekali.

Selain sudah puas dengan keindahan ‘surga’ di atas permukaan dengan keindahan pemandangan gugusan bukit karst seperti Avatar Hallelujah Mountain yang seperti melayang maka ada ‘surga’ lain yang juga tak kalah indahnya di bawah permukaan tanah Zhangjiajie.

Keindahan alam bawah tanah tersebut bisa dijumpai di Goa Huanglong Dong yang dikenal sebagai salah satu goa terbesar yang ada di negara Cina. Goa menjadi tempat yang istimewa dan di dalam Al Quran, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Goa Hira. Lalu ada sekelompok pemuda Ashabul Kahfi, terdiri dari 7 pemuda dan satu anjing  yang menyelamatkan diri dari raja yang zalim dan tidur selama 309 tahun di Goa Kahfi.

Jadi, masuk ke dalam goa atau kerap disebut perut bumi pastinya  bukan hanya menyimpan petualangan menantang, tetapi juga menjadi tempat yang dipilih oleh sang pencipta untuk menunjukkan kebesarannya pada umat manusia. Tadabur alam di dalam goa merupakan sarana pembelajaran untuk lebih mengenal ke Maha Besaran Allah SWT yang telah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya.

Dari pengalaman masuk goa di tanah air seperti gua Jatijajar di Jawa Tengah, Goa Gong, Pacitan, maka kita bisa menemukan ‘kehidupan’ lain di dalamnya yang penuh ruang serta stalaktit dan stalaknit yang terbentuk jutaan tahun lalu .

Stalaktit menggantung ke bawah dari langit-langit gua sedangkan stalagmit muncul dari dasar gua mengarah ke atas. Stalaktit terbentuk ketika air yang mengandung berbagai macam mineral terangkut menetes dari langit-langit gua. Sedangkan stalagmit terbentuk dari akumulasi tetesan air bercampur mineral yang sampai ke dasar gua melalui proses ratusan juta tahun yang lalu.

“Mohon kita langsung masuk ke dalam goa, tidak tergoda untuk belanja. Nanti saja ya belanjanya kalau sudah selesai tour,” kata Akiong, guide lokal yang fasih berbahasa Indonesia mengingatkan kami pagi itu untuk tidak mampir untuk belanja.

Memang sebelum tiba di pintu goa, sejak dari halaman parkir rute yang dilalui adalah para penjual souvenir, penjual makanan dan minuman yang menggugah selera. Setelah itu bangunan yang menyita perhatian adalah ruang penjualan tiket berbentuk rumah kayu tradisional Cina.

Di seberangnya ada gedung unik lainnya dengan bentuk  atap yang landai, miring serta sepenuhnya di tutupi rumput  hijau seperti rumput golf di atas atap yang ternyata merupakan area restoran dan meeting point.

Diantara kedua bangunan itu ada sebuah pelataran luas dengan patung monyet ukuran satu meteran sehingga sambil menunggu tiket, pengunjung manfaatkan untuk berfoto ria. Tiket akhirnya dibagikan dan berupa kartu dengan tali yang harus dikalungkan persis kartu pegawai kantoran di gedung-gedung tinggi di Jakarta.

Bangunan unik sebelum masuk goa
                                                                  Bangunan unik sebelum masuk goa

Alam pedesaan

Kami antri naik mobil angkutan mirip mobil golf yang panjang bisa menampung sekitar 15 orang sekali jalan dan sepanjang perjalanan bisa melihat pemandangan miniatur pedesaan di Zhangjiajie ini dengan rumah, lahan sawah dan padi serta kincir-kincir air kayu dari ukuran kecil hingga besar serta taman-taman dengan bunga yang cantik.

Turun dari mobil dan berjalan di lorong kayu yang panjang, langkah kami kadang terhenti untuk berfoto ria dengan latar belakang kincir air berbentuk lingkaran biasanya dibangun di sungai dan alat ini berputar pada sumbunya karena adanya dorongan aliran air yang cukup deras.

Banyaknya kincir air di kiri dan kanan lorong kayu sebelum masuk ke goa tentunya dimanfaatkan dan digunakan duntuk mendapatkan energi mekanis maupun energi listrik di dalam goa. Tapi hal yang pasti adalah kunjungan ke goa tidak semata-mata menyaksikan stalaktit dan stalakmit, namun juga menambah wawasan kita memahami sistem pertanian budaya bangsa ini dalam berinteraksi dengan alam.

Kincir air beragam ukuran
Kincir air beragam ukuran

Kebayang dengan taman dan ‘ alam pedesaan’ yang sengaja diciptakan, rombongan tour TX Travel berikutnya pada 3 September 2016 adalah bersama para model dari Majalah Popular dan mereka bisa memanfaatkan area goa Huanglong Dong ini sebagai stage alam yang bisa menghasilkan foto-foto keren.

Goa Huanglong disebut juga  Yellow Dragon Cave atau  Goa Naga Kuning yang terletak di dalam sebuah gunung. Menurut legenda, seekor naga kuning tinggal di goa ini. Pada tahun 1983, goa ini ditemukan oleh 8 orang pemuda setempat secara tidak sengaja dan pada tahun 1984 mulai dibuka dan menjadi destinasi wisata.

Kini merupakan salah satu goa terbesar di Cina yang juga termasuk dalam keajaiban goa-goa di dunia yang terbentuk jutaan tahun lalu. Huanglong Cave sendiri merupakan sebuah gua bebatuan kapur karst yang sangat besar dengan memiliki bentuk stalaktit yang khas dan aliran sungai dibawah tanah. Ruang yang luas, air terjun bahkan ada kolam  pula di dalam perut bumi ini. Tak heran Persatuan Gua Karst Dunia melakukan serangkaian ekspedisi ke goa ini setiap tahun untuk melakukan penelitian-penelitian.

Kami berkumpul di depan pintu goa dan harus mengikuti panduan guide setempat agar tidak tersesat di dalam. Setiap pemandu yang kami temui di outlet maupun berbagai obyek wisata dipanggil Amey. Oleh karena itu begitu masuk goa maka Amey inilah yang harus kami ikuti kemana dia melangkah karena luas dan banyaknya ruang yang ada.

Bagi saya cara menikmati perjalanan dalam perut bumi adalah bersiap diri memasuki dunia fantasi apalagi goa ini memiliki luas area lebih dari 100.000 meter persegi, panjang gua yang mencapai 7,6 kilometer dan tinggi 140 meter. Sayang tidak ada data teknis dan brosur berbahasa Inggris yang saya dapatkan.

Keindahan goa Huanglong diterangni lampu aneka warna
                                                               Keindahan goa Huanglong diterangni lampu aneka warna

Huanglong cave terbagi menjadi  dua  area kering dan dua area yang tergenang air, karena itu disarankan pengunjung memakai jas hujan karena banyak air menetes. Udara dingin langsung terasa begitu masuk ke dalam goa dan udara yang saya hirup juga terasa segar seperti memasang AC kamar 16 derajat celcius di rumah.

Baru beberapa meter melangkah, Amey menunggu semua peserta tour berkumpul lalu menjelaskan bahwa mengawali petualangan di dalam gua yang bisa memakan waktu  dua jam kita boleh memilih dua pintu utama. Pintu yang lebih lebar itu disebut “pintu panjang umur” sementara pintu yang lebih sempit itu disebut “pintu bahagia”,  kami dipersilahkan memilih lewat pintu mana ?

Praktis setelah melalui pintu, kami masih memperbincangkan mana yang lebih penting bahagia dulu baru panjang umur atau sebaliknya ? tapi akhirnya perdebatan langsung terhenti begitu saja karena terkesima dengan keindahan goa yang bermandikan cahaya lampu hijau, kuning, merah, ungu.

Menurut Amey, stalagtit dan stalakmit terus tumbuh meski hanya satu milimeter setahun sehingga akhirnya batu kapur ini terus berproses dan bisa tersambung membentuk ruang-ruang yang menjadikan “istana raja naga” ini penuh misteri. Konon sedikitnya ada 13 ruang utama bahkan ruang terkecil luasnya 6000 meter pesegi.

Untung saya memakai sarung untuk sepatu yang bisa dibeli di pedagang kaki lima sehingga sepatu tidak basah terkena genangan air yang bisa kita temui sepanjang jalan. Bunyi air menetes terdengar di mana-mana dimana setiap tetes perlahan nantinya akan  membentuk formasi batuan.

Berjalan di lorong-lorong goa harus fokus supaya kepala tidak terbentur batu dan jalan dengan seimbang. Beruntung sarung sepatu saya tidak licin sehingga tetap bisa berjalan dengan gagah di tengah remang-remang lampu.

Pengunjung yang iseng kadang menangkap tetesan air dengan telapak tangan dan lidah mereka, namun saya sibuk mengagumi berbagai bentuk batu di berbagai sudut dengan lampu LED warna-warni karena stalagmit bisa membentuk menara-menara runcing seperti di Avatar Hallelujah Mountain di permukaan tanah. Tidak ada yang kebetulan bukan ?

Kami sampai di bawah jembatan buatan dengan 300 an anak tangga dan asyik berfoto ria namun ekor mata tetap memperhatikan kemana Amey berjalan menuju sungai karena banyak sekali lorong yang bisa menyesatkan.

Menyusuri sungai di dalam perut bumi dengan perahu listrik
Menyusuri sungai di dalam perut bumi dengan perahu listrik

Sang Naga

Turun naik tangga di dalam goa ini cukup melelahkan juga hingga akhirnya kami melihat sejumlah perahu ditambatkan di bantaran sungai. Dinding depan dermaga sungai itu bertuliskan Music River yang menjelaskan bahwa sungai ini panjangnya 2,820 meter, kedalaman 6 meter dan titik terdalam mencapai 12 meter dengan temperature 16 derajat celcius sesuai perkiraan saya semula.

“Kita hanya dapat menjelajah sungai itu sepanjang 800 meter saja untuk melihat formasi batu berbentuk Sang Naga, perjalanan ini hanya memakan waktu sekitar 8 menit.

Di atas perahu listrik itulah selain bisa saling melambaikan tangan dengan grup tour lainnya, saya bisa melihat langit-langit gua yang mengundang decak kagum atas ciptaan Allah SWT. Di tambah lagi dengan pencahayaan yang beraneka warna dan bisa mengundang kontroversi di lingkungan pecinta alam karena mengurangi nuansa alami.

Kami akhirnya melewati formasi batu dan pencahayaan yang mirip wajah naga barongsai membuat fantasi menjadi berkembang liar apalagi dari samping jelas seperti kepala naga mengacu pada nama yang diberikan untuk goa ini.

Peserta tour, Mike. Sierra dan Jeanne tetap ceria meski menjelajah perut bumi tantangannya seperti naik gunung di permukaan tanah.
Peserta tour, Mike. Sierra dan Jeanne tetap ceria meski menjelajah perut bumi tantangannya seperti naik gunung di permukaan tanah.

Perjalanan memutar juga tidak kalah asyiknya karena dari kejauhan di atas perahu nampak tangga turun-naik menjadi lingkaran garis putih yang bersinar terang di tengah kegelapan. Kami melewati ruang-ruang lebar yang sepintas terdengar diberi nama dragon village dan nama lain namun saya tidak menyimak dengan baik soal nama-nama tersebut karena terpesona dengan pemandangan indah di depan mata.

Ketika perahu listrik kembali merapat baru saya perhatikan setiap perahu tambat ada box dan tiang besi untuk mengisi tenaga batere supaya selalu siap melayani pengunjung. Kami  berjalan lagi di lorong-lorong gua, naik turun tidak kalahnya dengan naik turun di atas gunung di permukaan bumi.

Jalan saya mulai terseok-seok lagi karena eksplorasi menjelajah goa ini seperti tidak berujung. Minat untuk foto selfie berkurang namun ketika tiba dipintu keluar dan tersedia bangku-bangku untuk istirahat langsung saya manfaatkan dengan baik sambil menunggu anggota rombongan yang ke toilet.

Harus diakui, Yellow Dragon Cave merupakan salah satu gua yang terbaik di dunia dan menjadi salah satu tujuan wisata utama di Cina yang diberi peringkat AAAA (4A) secara nasional. Meski perjalanan dalam goa ini juga tidak kurang meletihkan jika dibandingkan dengan memanjat gunung tapi memiliki kesempatan masuk ke dalam perut bumi dengan aman dan nyaman sungguh pengalaman yang berharga bagi orang awam seperti saya dan wisatawan lainnya.

Makan siang dan mengunjungi obyek wisata terbaru di Zhangjiajie menjadi program selanjutnya hari itu. Meski di tengah ketidakpastian apakah boleh masuk atau sekedar berpose di jembatan kaca terpanjang di dunia melintasi grand canyon.

Saya sudah buru-buru masuk bus sambil menunggu teman-teman seperjalanan yang masih membeli oleh-oleh.Dalam kesendirian diliputi rasa syukur bisa berwisata dalam perut bumi, saya mencoba mempersiapkan diri untuk menikmati jembatan menghubungkan dua tebing di daerah Zhangjiajie Grand Canyon dimana baru membayangkannya saja sudah membuat saya menahan nafas. (Hilda Ansariah Sabri)

 

 

LEAVE A REPLY