Menikmati 30 IKTI di Pekan Wisata Kuliner Tradisional Nusantara 2014

0
1202
Menteri Pariwisata Arief Yahya didampingi Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Dadang Rizki Rahman dan Direktur Wisata Minat Khusus & MICE Achyaruddin membuka PWKTN 2014 di Monas, Jakarta Pusat. (Foto.evi)

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Berbagai cara dilakukan untuk memperkenalkan 30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia (IKTI), salah satunya yakni dengan hadirnya Pekan Wisata Kuliner Tradisional Nusantara (PWKTN) 2014 di Plaza Barat Monas, Jakarta Pusat.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari Jumat – Minggu (12-14/12/14) dan dibuka Menteri Pariwisata Arief Yahya ini untuk mendorong Pemerintah Daerah bersama dengan stakeholder terkait dalam membangun Destinasi Wisata Kuliner Indonesia yang berdaya saing serta meningkatkan rasa cinta dan minat masyarakat terhadap kuliner tradisional nusantara.

“Kuliner merupakan salah satu upaya untuk memperkenalkan makanan tradisional nusantara kepada masyarakat luas serta memperkenalkan potensi kekayaan kuliner provinsi di Indonesia,” ujar Arief Yahya dalam sambutannya saat membuka PWKTN.

Menurutnya kuliner bisa masuk dua, pariwisata dan ekonomi kreatif, dan di ekonomi kreatif. Kuliner menjadi nomor satu di industri kreatif, 32 persen sumbangannya dengan pemasukan 200 triliun.

“Kalau mau investasi, pilihlah size besar. Kuliner ukurannya besar, sistemnya besar kemudian tumbuhnya besar. Keuntungannya besar. Di kuliner keuntungannya 50 persen, jadi ini adalah bisnis yang sempurna. Kuliner adalah bisnis pariwisata dan paling menguntungkan, paling banyak menciptakan lapangan kerja,” ungkap Arief.

Menpar Arief Yahya membuat sambal khas Indonesia.
Menpar Arief Yahya membuat sambal khas Indonesia.

Ia mengatakan, yang paling penting, bantu mereka mendaftarkan karyanya ke HAKI agar tidak diambil negara sebelah karena semuanya mirip dengan mereka. Minimal 30 ikon harus didaftarkan ke HAKI dan harus dilakukan.

Ada 3P yang perlu diperhatikan dalam di bidang kuliner, yakni yang pertama, promosi. Makanan merupakan diplomasi yang tak terlihat, semua negara menggunakan makanan sebagai diplomasi budaya. Kalau mencari chinese restoran maka akan mendapati dengan mudah.

“Thailand itu menggunakan Thai air memasukkan bumbu-bumbu di pesawatnya hingga terkenal di seluruh dunia, sama seperti Korea dan juga Amerika, mereka masuk dari sosial budaya, di dalam ekonomi kreatif berbasis budaya,” jelasnya.

Yang kedua menurutnya, produk. “Memahami produk kita. Permudahkan produk-produk makanan Indonesia di luar negeri, kita kurang menghargai karya sendiri dan itu penyakit indonesia. Jika sudah dipuji barulah menghargainya. Hargailah karya kuliner Kita. Kita harus kalahkan Malaysia, karena saya puas jika mengalahkan mereka. Di malaysia indonesia people bisa mencapai 30 jutaan,” ungkap Arief.aikti3

“Kita sudah mengeluarkan 30 IKTI dan harus dibuat HAKI-nya biar tidak diambil negara lain. Untuk mengikubasi kuliner indonesia banyak pelakunya, kalau industri kreatif ini tumbuh maka lokomotifnya juga tumbuh,” paparnya.

Lalu yang ketiga menurutnya promosi. Menurutnya bangsa Indonesia ini kurang menghargai karyanya kecuali jika orang lain menghargai baru kita bergerak.

Sebagai ajang promosi kuliner nusantara, kegiaan ini menampilkan makanan khas 28 daerah dari 34 provinsi di Indonesia, lomba masak yang bekerjasama dengan Djarum Foundation, talkshow, dan demo masak yang menampilkan Masterchef Junior Indonesia yang memasak makanan tradisional Indonesia. (evi)

LEAVE A REPLY